Showing posts with label politik. Show all posts
Showing posts with label politik. Show all posts

Tuesday, May 29, 2018

Perang Dunia III Tak Terelakkan?

Percaya atau tidak isi video ini terserah anda. Saya ikut share untuk menambah wawasan.








Koperasi Online




Monday, May 28, 2018

PD III Akan Segera Terjadi? Skenario Elit Politik Global?

Percaya atau tidak, terserah anda. Saya share hanya untuk menambah wawasan.
Mari kita simak video di bawah ini.




Koperasi Online

Saturday, January 6, 2018

Membangun Kecerdasan Politik Umat

www.berimbang43.com   Label: Politik

Pengantar
Secara umum, perlukah berpolitik?


Membangun Kecerdasan Politik Umat

By: Eep Saefullah Fatah

1.Ubahlah 'cara mengaji yg keliru' manakala kita hny mengaji tekstual semata-mata tnp peduli kontekstual;

2.Umat Islam hrs berhenti membuat 'kerumunan' (hny sebatas mengumpulkan massa), tp bangunlah 'barisan' (organisasi dan jaringan);

3.Berhentilah meluapkan 'kemarahan' (emosional yg destruktif), mulailah bangun 'perlawanan' (legal dan konstruktif);

4.Kecerdasan politik umat hrs diasah terus menerus. Sehebat apapun seorang politisi, klo kecerdasannya tdk sesuai kontektual, tdk akan berguna;

5.Teknologi merupakan salah satu 'kendaraan politik' tercanggih abad 21;

6. PQ = POLITICAL QUOTIENT, atau Kecerdasan Politik, unsurnya ada 3 point:
a. Kemampuan membangun 'Kesadaran' politik;
b. Kemampuan membentuk 'Kekuatan' politik;
c. Kemampuan merebut 'Kesempatan' politik;

7. Unsur 'Kesadaran' politik ada 3 point:
a. Pengetahuan;
b. Empati;
c. Aktivasi;

8. Pengetahuan sesorang thd kondisi politik tdk serta merta membangun kesadaran politik;

9. Empati seseorang menjadikan pengetahuan politiknya hidup, lalu menjadikan seseorang bergerak (aktivasi);

10.Suara umat Islam pd pemilu 2014, yg diwakili partai Islam hny 31%. Umat Islam mayoritas, namun tdk mjd kekuatan politik;

11. Contoh lain tdk adanya 'Kesadaran' politik: Misalnya, tidak adanya mobilisasi dana infaq Jumat masjid se-Indonesia utk disumbangan ke Rohingnya;

12. Hak politik hrs ditegakkan scr individu yakni hak sbg warga negara. Sifatnya fardhu 'ain. Dengan cara bangunlah kesadaran akan hak2 sbg warga negara;

13.Kalau kita hrs 'bangun', maka hrs ada 'kekuatan' utk bangun. Klo kita mau 'menang', maka hrs ada 'kesadaran' utk menang;

14. Unsur 'Kekuatan' politik terdiri atas 4 point:
a. Memperkuat diri sendiri;
b. Memperkuat kelompok;
c. Memperkuat organisasi;
d. Memperkuat jaringan;

15. Tidak ada Islam tnp berjamaah. Tdk ada jamaah kecuali dg kepemimpinan. Tdk ada kepemimpinan kecuali dg ketaatan;

16. Umat Islam suka membangun organisasi tp tdk suka memperkuat jaringan;

17. Kapitalisasi hal2 yg membuat kita kuat sementara kelemahan kita, mari kita selesaikan dibawah meja;

18. Jadikan masjid utk membangun jaringan ke-ummat-an, jangan jadikan masjid golongan dan kelompok;

19. Unsur 'Kesempatan' politik terdiri atas 2 point:
a. Mempengaruhi kebijakan;
b. Berkuasa;

20. Klo sdg tdk berkuasa, aktiflah pengaruhi kebijakan politik yg ada dg berbagai cara (yg baik);

21. Informasi dan pengetahuan adalah kekuasaan, barangsiapa yg menguasai keduanya mereka berkuasa;

22. Jgn haramkan diri kita, kelompok kita dan organisasi kita berkuasa (eksekutif, maksudnya);

23. Kalau hal itu kita lakukan, kita hny akan jd korban kekuasaan, bukan subjek kekuasaan;

24. Tidak ada peradaban dunia yg dibentuk oleh mayoritas. Peradaban dan perubahan itu dibangun oleh minoritas kreatif. Ktk semua org mengatakan tdk mungkin, minoritas kreatif berkata mungkin dan dia menunjukkannya dg data dan fakta2. (Arnold J. Toynbee)

25. Politik yg cerdas itu 'pertukaran'. Sebaliknya politik yg bodoh itu 'transaksi';

26. Jgn munculkan tokoh menjelang pemilu tp bangunlah tokoh tiap hari. Sepanjang hayat harus kampanye;

27. Kita hrs mengubah umat Islam dr 'massa' menjadi 'warga negara', yg kualitasnya ada 5 point:

1. Jadilah warga negara yg tahu dan pandai mjg haknya;
2. Warga negara itu tahu hak org lain dan org byk dan tahu cara menunaikan hak tsb msg2;
3. Warga negara itu mrk yg tdk tergantung kpd orang lain hatta kpd pemimpinnya kecuali pd dirinya sendiri;
4. Warga negara itu proaktif tdk menunggu;
5. Melawan dg cara beradab dan dewasa.

Sekian.

Friday, September 29, 2017

Letnan Jenderal TNI Mar (Purn.) Suharto

Info penting, politik
Pengantar admin
Tulisan di bawah ini sangat bagus. Kalau para pemimpin kita sempat membacanya, merenungkannya, ....demi kesatuan dan persatuan NKRI dengan jiwa besar, hentikanlah pelemahan-pelemahan NKRI, yang salah satu yang dapat kita rasakan sekarang adanya konflik antara TNI dan POLRI.  

Ulasan Letnan Jenderal TNI Mar (Purn.) Suharto (Komandan Korps Marinir periode 1996-1999) terkait:
"Konflik Hubungan TNI dan POLRI, Grand Design untuk Pelemahan NKRI"

Assalamu’alaikum Wr.Wb. 

Terima kasih atas waktu yang diberikan kepada saya. Pada kesempatan ini apa yang akan saya sampaikan adalah pendapat pribadi saya. Jangan dianggap ini sebagai pendapat TNI. Apa yang akan saya sampaikan pada kesempatan ini adalah hasil analisa saya terutama menyangkut persoalan skema pelemahan internal NKRI, yang kini muncul kepermukaan menjadi skema konflik TNI-Polri.

Kalau boleh saya katakan, apa yang dihasilkan oleh Reformasi 1998, menurut saya adalah sebuah penyimpangan. Karena reformasi itu hadir begitu cepat, sedang kita sendiri belum siap. Sehingga perjalanan reformasi ini kemudian “dibajak” oleh orang-orang yang telah siap finance dan programnya. Mereka adalah empat belas menteri yang mengkhianati Pak Harto. Merekalah yang kemudian menjadi “lokomotif” yang menyalip di tengah jalan.

Kembali kepada TNI dan Polri. Saya merasakan ini memang suatu kesengajaan. Kalau mau jujur saya katakan bahwa TNI dan Polri merupakan suatu badan yang berbeda. TNI itu adalah suatu institusi kombatan (tempur). Sedangkan Polri itu bukan institusi kombatan. Polri adalah non kombatan.

Polri itu sebetulnya hanya menangani apa yang disebut dengan crime justice system, atau yang lebih kita kenal dengan Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat (Tramtibmas). Tapi apa lacur pikiran kita dibelokkan sehingga dengan serta merta kita ikut latah dengan istilah pertahanan dan keamanannya TNI, seakan sama dengan istilah keamanannya Polri. Itu tidak betul. Keamanan ini security. Security as a whole include di dalamnya.

Dahulu masalah itu diributkan oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan, itu sudah betul. Ironisnya sekarang setelah institusi TNI-Polri dipisah kok seakan semua setuju. TNI sebagai kombatan sudah kembali ke barak, dan meninggalkan sosial politiknya. Tapi ketika saya tanya, apakah Polisi Back to barrack? Tidak. Bahkan Polisi dipersenjatai seperti kombatan.

Ketika saya masih menjadi Irjen Dephan, saya habis-habisan menentang ini. Kenapa minta senjata AK? AK 97 adalah senjata kombatan bukan senjata Polisi. Senjata Polisi hanyalah untuk memberikan peringatan dan untuk membela diri. Makanya Polisi di Inggris senjatanya pakainya pentungan. Di Indonesia, Polisi malah dipersenjatai, pangkatnya persis pangkat tentara. Jenderal itu pangkat tentara bukan pangkat polisi. Kalau pangkat Polisi yang betul ya Inspektur, Komisaris, Ajun, sampai dengan Super Intendan. Tapi kita tidak, kita perkuat pangkat sama dengan Jenderal. Brimob disusun sampai susunan tempur, dulu saya sampai terkejut ketika hendak diberikan tank.

Jadi kita tidak tahu lagi mana yang kombatan dan mana yang non kombatan. Pada waktu acara di Kampus UNAIR, yang dihadiri pula oleh beberapa petinggi Polisi, saya sampaikan kalau nanti sistemnya seperti ini, polisi yang tidak back to barrack. Kalau tidak back to barrack nanti kewenangan Polisi melampaui kapasitasnya. Siap tidak siap, mau tidak mau, nanti akan jadi tirani baru. Nah apa yang sekarang kita rasakan ini harus diwaspadai. Apalagi DPR sekarang tidak mengerti mana ketahanan mana keamanan sehingga secara membabi buta menyatakan keamanan tugas polisi, pertahanan tugas TNI, ini yang saya kira harus kita pelajari lebih mendalam.

Kalau kita belum bisa mendefinisikan dengan benar fungsi dan peran TNI-POLRI, maka sulit bagi kita mengandalkan keterlibatan mereka untuk memperkuat NKRI.

Kenapa saya katakan polisi kewenangannya melampaui kapasitasnya? Pertama, polisi di bawah presiden melampaui kapasitasnya, di negara yang paling maju dimanapun tidak ada polisi di bawah presiden. Ini kewenangan melampaui kapasitasnya. Apalagi sekarang kita melihat kalau sidang kabinet, Polri hadir, panglima TNI juga hadir. Bagaimana kita tidak mengatakan bahwa TNI dan Polri tidak terlibat dalam politik?!

Sekali lagi saya katakan pendapat saya, kalau salah dibuang, kalau benar saya kira bisa kita lanjutkan.

Untuk itu, sekarang bagaimana solusi untuk mendinginkan ini. Sulit. Kalau kita berkaca pada sistem yang ada ini memang sulit. Belum lagi ada kata kecemburuan sosial, anak-anak saya itu kalau cerita diam-diam dan dibelakang. Saya tanya, “Le, kenapa kamu tidak akur dengan polisi? Bagaimana ndan, kita itu gajian satu bulan sekali dia gajian tiap hari.” ini guyonan tapi menyengat. Karena masalah itu, kita paten-patenan.

Tahun 1998 yang kita selamatkan mereka. Ditahun itu kalau Polisi diuber-uber, kita yang selamatkan. Sampai Brimob yang ada di perempatan, bila tidak ada Marinir, sudah habis itu.
Jadi, itu yang saya terus ingat. Itu salah satu kelebihan. Ada satu kapasitas lagi, Polisi mengurus mobil, BPKB, STNK, itu kan pajak-pajak mobil. Itu sebetulnya sektor keuangan, ranahnya Depkeu, bukan ranahnya polisi.
Waktu saya Irjen ditahun 2000, ada lima (persoalan, red) yang diribut-ributkan, ada di Tempo. Lucu kalau saya ingat itu.

Pertama, gedung PTIK, lahan PTIK yang akan dirilslah. Padahal menurut peraturan pemerintah harus izin ada izin Presiden, Sekeu, Departemen Keuangan. Dia mau rislah, dananya mau diambil sebagian untuk membuat Markas Besar Polisi, yang waktu itu terbakar.

Kedua, masalah mobil Timor. Mereka membeli mobil Timor 1033 dengan harga 60 juta, padahal saya marinir membeli mobil timor dari Mas Bambang 24,550 juta.

Ketiga, masalah senjata. Dia mengajukan kepada Dephan, Pak Yuwono, minta 16.000 membeli senjata AK 97 dengan harga 63 juta. Beliau minta disposisi kepada saya. Saya lalu menghadap. Saya katakan, bahwa Senjata AK 97 ini dengan harga 7 juta.

Lebih aneh lagi kok minta 16 ribu (pucuk). Seingat saya, Marinir, anak buah saya cuma 16 ribu. Dan seingat saya Brimob itu tidak sampai sepertiga Marinir. Selebihnya senjata untuk siapa? Padahal proses pengajuan senjata itu dilihat dari klasifikasi senjatanya. Klasifikasi dilihat mana yang rusak berat, sedang, ringan. Keuangan kita hanya mencapai itu. Untuk rusak berat yang dibeli, itu yang rusak berat. Rusak ringan maupun rusak sedang masih dikalibrasi dengan depo senjata, yang ada di angkatan masing-masing.

Keempat, dana operasional SIM dan STNK. Dana ini adalah dana publik, uang rakyat. Polisi tidak boleh mengatur itu. Seharusnya SIM dan STNK ini dikerjakan oleh Depkeu dan Sekeu Departemen Perhubungan. Bukan oleh polisi. Ini yang harus diluruskan. Harus di reformasi. Kalau Mabes Polri perlu anggaran, dia harus mengajukan daftar usulan pembangunan kepada pemerintah. Pemerintah kemudian mengalokasikan dana sesuai kemampuan, dana harus masuk pemerintah dulu tidak boleh langsung dikelolahartanyaukan sampai angka 45-46 Miliar. Saya kemudian cek ke Singapura alat komunikasi dengan spesifikasi dan merek ini berapa harganya untuk sekian unit. Saya dapatkan harga tidak sampai 5 M. Lalu terjadi kehebohan. Bahkan sampai bocor ke media. Saya lalu bilang kepada Pak Yuwono, “Kalau kebocoran itu berasal dari saya, hari ini saya siap untuk dipecat.”

Bagaimana mengetahui bocor atau tidaknya di wartawan. Oh gampang Pak, saya kalau membuat laporan tebusannya itu ada nomornya. Jadi nomor 1 adalah bapak Menhan, nomor 2 ini, lihat saja di wartawan pak itu jatuh dicopy nomor berapa. Kalau itu copy ada di dalam lingkungan Dephan, saat itu saya berhenti. Dan ternyata kebocoran itu ada di pihak Polisi sendiri, karena saat itu ada persaingan tahta kepolisian.

Ini ilustrasi saya yang bisa disampaikan terkait hubungan antara TNI dan polisi. Dan hal ini memang harus diselesaikan. Polisi kita sudah diciptakan seperti TNI. Unit non kombatan sudah kita jadikan seperti kombatan. Dan mereka sendiri sudah nikmat dan sulit untuk bisa kita ubah.

Tampaknya Polisi sudah merasa nyaman dengan Sistem ini. Saya kira satu-satunya jalan adalah merangkul kembali Polisi dan TNI dalam satu badan dan harus kita pikirkan kemana larinya? Atau posisi yang kedua mereka dikembalikan kepada Departemen Dalam Negeri seperti yang diwacanakan oleh Jokowi-JK.

Mereka dulu paparan di Dephan, pokoknya kalau Mas Harto sudah pindah dari Dephan, kita akan paparan ulang di Dephan. Setelah saya tidak di Dephan lagi, konsep itu diterima oleh DPR. Itu yang saya takutkan.

Makanya sistem ini terus berjalan. Apakah ini merupakan skema pelemahan NKRI? Menurut saya ya. Sulit kita pungkiri kalau hal ini bukan merupakan bagian dari grand desain untuk pelemahan Republik ini.

Saya melihat bahwa pelemahan Republik ini sudah sejak tahun 1955. Sejak maklumat wakil presiden nomor 50. Disitulah saat Indonesia dimasuki oleh alam liberal. One man one vote.
Disinilah awal kita meninggalkan amanah founding fathers kita yang terdiri dari berbagai suku. Maaf kalau saya katakan, terserah mau dinilai apa saya nanti. Maklumat Wapres itu wujud daripada pengkhianatan. Seperti kami di TNI, dalam kesatuan Batalyon, ada keluar perintah Wakil Komandan Batalyon. Wadanyon baru bisa memberikan perintah pada pasukan saat Komandan Batalyon mati. Begitu juga di Republik ini, maklumat Presiden harusnya baru bisa keluar bila Presiden sudah mati.

Kita sudah meninggalkan kebersamaan. Kita sudah meninggalkan semangat gotong royong. Kalau kita bicara gotong royong, bukan hanya sekedar pilar bangsa kita tapi juga dasar bangsa. Dimana dari dasar negara tersebut, ditegakkanlah pilar-pilar tersebut. UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Disitulah tiga pilar itu berdiri. Jadi bukan empat pilar berdiri disitu.

Sekarang kita sudah tahu kelemahan-kelemahan kita? Seperti pelajaran budi pekerti apakah masih diajarkan di sekolah? Sayang sudah dihapus. Padahal budi pekerti itu adalah bagian yang paling dasar dari Pancasila. Kita sudah tidak mengenal lagi gotong royong. Termasuk pelajaran ilmu bumi sudah tidak diajarkan lagi. Supaya apa? Supaya warga negara kita, anak bangsa kita tidak mengenal lagi tanah airnya.

Saya terperangah pada saat ada perlombaan di televisi, dimana pelajar-pelajar SMA sebagai pesertanya tidak tahu Pontianak itu ada dimana. Ya Allah, Ya Rabbi. Itu juga bagian dari pelemahan.
Seperti halnya Puan Maharani, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, masa dia katakan Banjarnegara di Jawa Barat. Nah itu adalah produk. Kalau dia katakan, dia adalah tokoh Pancasila, rasanya tidak percaya saya. Saya kira itu pelemahan.

Apakah nanti TNI dan Polri bersatu lagi dalam rangka penguatan NKRI, kita bisa kaji lagi. Yang jelas, seperti kita saksikan sekarang ini mereka sudah memberikan kontribusi kepada pelemahan NKRI. Karena memang sudah samar wilayahnya. Samar sektornya. Ini kombatan, non kombatan atau dua-duanya kombatan. Sehingga sekarang bisa gagah-gagahan, mau bedil-bedilan ayo mari. Selama belum mengerahkan tank, loe punya senjata, gue juga punya.

Inilah satu hal yang bisa saya sampaikan. 
Kedepan saya optimis mereka mampu secara internal menyelesaikan ini. Apabila semua pemimpin kita menyadari bagaimana problema kita dan yakin bisa kita atasi dengan sebaik-baiknya.

Saya melihat hanya ada dua jalan bagi Polisi, pertama kembali kepada Dephan, atau kembali kepada Depdagri. Yang pertama tidak populer, apalagi sekarang sedang didengungkan civil society itu bagian di luar ABRI. Padahal kalau kita gali lebih dalam, civil society itu include di dalamnya TNI. Karena TNI itu juga bagian dari rakyat. Rakyat yang bertugas untuk pertahanan namanya TNI. Bidang pemerintahan namanya Pamong, bidang hukum adalah Hakim dan Jaksa semua itu dalam rangka civil society. Itu yang kita tanamkan kepada anak-anak kita.

Namun saya tetap memberikan suatu optimisme kepada kita semua, bahwasannya NKRI Insya Allah, jika kita sadar, kita tetap bisa mempertahankannya. Kita tetap memilih NKRI daripada kita memilih 47 negara bagian. 

Terima kasih.

(Disampaikan oleh Letjen Marinir (Purn) Suharto, Mantan Komandan Korps Marinir Angkatan Laut ke-12 pada acara Diskusi Terbatas Akhir Tahun yang diselenggarakan Global Future)

<meta NAME=”Description” CONTENT=”Dr Yamin Hasibuan“> <title> <head> <meta NAME=”keywords” CONTENTS” Renungan, Politik, Info Penting, ”<head> <meta name =”robot” content=”index”> <meta name=”robot” content=follow”

Sunday, September 24, 2017

Kesaksian Dr. Amaroso Katamsi Dan Putri D.I Panjaitan

Politik

Abu Julaibib
KESAKSIAN DR. AMOROSO KATAMSI DAN PUTRI D.I. PANDJAITAN
==========================
( copas dari bu Irawati Iramawati Oemar )
Kemarin pagi di acara AKI (Apa Kabar Indonesia) Pagi, sekitar jam 06.40 wib, TV One menghadirkan dr. Amoroso Katamsi, pemeran Soeharto dalam film Pengkhianatan G30S PKI. Pak Amoroso Katamsi ditanya, umur berapa beliau ketika memerankan Soeharto. Dijawabnya ketika dimulai shooting tahun 1981 beliau berumur 43 tahun.
Lalu ditanya lagi umur berapa saat peristiwa G30S PKI terjadi. Beliau menjawab spontan "umur 27 tahun".
Ini artinya sinkron, beliau lahir tahun 1938.
Menurutnya saat itu dia sudah mahasiswa hampir selesai, tinggal menunggu pengambilan sumpah dokter saja.
Beliau lalu ditanya, apa yang diingatnya seputar kejadian tanggal 30 September 1965 dan sesudahnya.
Pak Amoroso menjelaskan bahwa dia ingat betul saat itu di pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 sekitar jam 7 pagi, RRI menyiarkan pidato Letkol Untung yang mengklaim bahwa ada gerakan 30 September serta pembentukan Dewan Revolusi, kemudian mendemisionerkan kabinet, dll. Pokoknya seperti yang ditulis dalam buku-buku sejarah.
Baru pada sore/malam harinya, dari RRI ada pidato Pak Harto.
Ketika dikonfirmasi apakah cerita yang ada dalam film yang dirinya ikut berperan didalamnya sesuai/sama atau tidak dengan kejadian sebenarnya di saat itu, tegas dr. Amoroso Katamsi menjawab "SAMA! Sama dengan yang saya tahu".
Apalagi beliau saat itu adalah yang berhadapan dengan PKI, karena dia tergabung dalam HMI.
Nah, kesaksian dari seorang Amoroso Katamsi yang saat itu sudah berusia 27 tahun, pemuda yang berpendidikan baik, cerdas (djaman doeloe bisa sekolah sampai jadi dokter disaat sebagian besar orang sebangsanya cuma tamat SD/SMP, tentu tidak sembarangan lho!), seorang aktivis mahasiswa saat itu, semestinya lebih layak dipercaya ketimbang kesaksian seseorang yang kala itu masih bocah usia 6 tahun yang cuma tahu bahwa bapaknya tidak merokok. Tanyalah apa yang disiarkan RRI, pasti dia tidak tahu. Anak kecil mana mudheng siaran berita serius.
Cerita seorang berpendidikan dokter, asli tidak aspal, yang sepanjang hidupnya tidak bermasalah soal integritas dirinya, juga lebih layak untuk dipertimbangkan ketimbang cerita seseorang yang pernah melakukan tindakan kebohongan.
*** *** ***
Dua tahun lalu, September 2015, ketika ramai issu bahwa negara akan meminta maaf kepada PKI, plus adanya "pengadilan/gugatan" yang digelar di negeri Belanda, mengadili negara Republik Indonesia, dimana pak Todung Mulya Lubis dan ibu Nursyahbani Katjasungkana ikut hadir disana, acara ILC TV One juga mengupas seputar kejadian 30 September 1965.
Saat itu dihadirkan putera puteri jendral korban G30S dan juga anak tokoh PKI.
Putri para jendral yang hadir saat itu ibu Amelia Yani dan ibu Catherine Pandjaitan.
Putri jendral Ahmad Yani, ibu Amelia Yani bercerita apa yang dia alami, lihat dan dengar sendiri malam itu. Pak Yani yang dibangunkan oleh pasukan Tjakra Bhirawa dan diminta segera ikut mereka dengan alasan dipanggil Paduka Jang Mulia (PJM) Presiden. Pak Yani meminta waktu untuk mandi dulu, namun tidak diijinkan karena harus cepat. Akhirnya Pak Yani menawar, setidaknya cuci muka dan ganti baju, namun anggota Tjakra Bhirawa yang sudah tidak sabar kemudian menembak Jendral Ahmad Yani dari belakang.
Apa yang diceritakan ibu Amelia Yani sama dengan yang ada dalam adegan film G30S PKI. Saat itu bu Amelia Yani usianya sudah belasan tahun. Artinya keterangan beliau cukup bisa dianggap valid.
Putri Jendral DI Pandjaitan, ibu Catherine, juga bercerita bagaimana beliau menyaksikan sendiri bagaimana proses ayahnya dibunuh dengan sadis. Saat itu usianya 17-18 tahun, dia melihat dari atas balkon rumahnya, ketika bapaknya dipukul dengan popor senjata kemudian ditembak tepat di kepala oleh Tjakra Bhirawa. Kemudian tubuhnya diseret sampai ke depan rumah. Lalu ketika di depan pagar rumah, tubuh jendral DI Pandjaitan dilemparkan lewat pagar kemudian dimasukkan ke dalam truk.
Catherine muda saat itu berusaha mengejar bapaknya yang diseret, tapi tentu saja tak terkejar. Dalam keputus-asaan dia histeris dan meraupkan ceceran darah bapaknya ke wajahnya. Catherine mengakui memang itu yang dilakukannya saat itu, sama persis dengan yang digambarkan dalam adegan film.
Kesaksian Catherine 2 tahun lalu, diulang tadi malam sekitar jam 8 di iNews TV. Ibu Catherine diwawancarai secara live by phone oleh host iNews, dan ditanya pendapatnya soal nyinyiran sebagian masyarakat yang mengatakan film G30S PKI adalah TIDAK SESUAI dengan kejadian sebenarnya alias TIDAK BENAR.
Catherine balik mempertanyakan : bagian mana yang tidak benar?!
Beliau kembali mengulang cerita kejadian 52 tahun lalu, sama persis dengan yang diceritakannya saat diundang hadir di ILC, 2 tahun lalu.
Sampai pada bagian dia melihat bapaknya dipukul dengan senjata lalu ditembak di kepala hingga otaknya berceceran, Catherine mengaku dia masih merinding saat menceritakan itu. Shocknya tidak mudah hilang bertahun-tahun karena dia menyaksikan sendiri kejadiaan malam itu, saat usianya 17 tahunan.
*** *** ***
Jajang C. Noor, istri almarhum Arifin C. Noor sang sutradara film G30S PKI, malam ini juga dihadirkan di iNews TV. Saat pembuatan film tersebut, Jajang menjadi pencatat adegan. Dia bercerita bahwa suaminya melakukan riset selama 2 tahunan untuk membuat film itu. Semua istri para pahlawan revolusi diminta menceritakan kejadian yang mereka alami saat rumah mereka mendadak didatangi pasukan Tjakra Bhirawa. Para ibu itu didampingi putra dan putrinya yang ikut menjadi saksi hidup. Khusus ibu Ahmad Yani yang malam itu tidak sedang berada di rumah, karena sedang di rumah dinas, kesaksian diberikan oleh anak-anak beliau. Bahkan ibu Ahmad Yani sampai nyaris pingsan ketika mengetahui bagaimana kematian suaminya.
Menurut Jajang, setiap peristiwa penculikan jendral shootingnya selama 1 minggu. Misalnya serangkaian shooting peristiwa penculikan dan pembunuhan Jendral Ahmad Yani, waktunya satu minggu. Shooting kejadian di rumah Pak Nasution juga satu minggu, begitu pula shooting di rumah korban yang lainnya.
Uniknya, shooting schene penculikan secara tidak sengaja selalu tepat pada malam Jum'at. Sama dengan kejadian sebenarnya yang terjadi pada Kamis malam Jum'at.
Setiap shooting film, anggota keluarga jendral yang bersangkutan selalu hadir untuk menyaksikan adegan demi adegan, untuk memastikan akurasinya. Apalagi lokasi shooting memang di rumah kediaman tempat kejadian sebenarnya berlangsung.
Jadi, dimana letak ketidakbenarannya?!
Kalau soal Aidit merokok, diakui oleh Jajang bahwa itu memang tafsiran Arifin untuk menggambarkan seseorang yang sedang mencari ketenangan di tengah ketegangan, biasanya merokok. Efek asap diperlukan oleh sutradara untuk memberikan efek dramatisasi suasana.
Hal ini dibenarkan oleh Prof. Salim Said Selasa malam di acara ILC, bahwa tafsiran sutradara itu sesuatu yang LUMRAH untuk memberikan dampak dramatis dalam suatu adegan.
Jadi tidak layak diributkan, hanya karena adegan Aidit merokok maka semua adegan dalam film itu bohong.
Lagipula, Ilham Aidit hanya meributkan soal bapaknya yang tidak merokok, bukan? Tapi dia tidak bisa membantah alur gerakan 30 September malam itu. Anak umur 6 tahun mana tahu hal-hal serius? Sesuai dengan usianya yang dia tahu hanyalah bermain, makan dan mungkin ingatan tentang kenangan manis bersama keluarga terdekat.
Ade Irma Suryani Nasution saat itu juga berumur 6 tahun. Dia juga tidak paham apa yang sedang terjadi malam itu.
Itu sebabnya dia tertembak. Kalau saja dia sudah dewasa atau minimal remaja, tentu nalurinya akan merasa takut dan logikanya pasti akan menuntunnya untuk berlindung, cari aman.
Justru karena dia bocah cilik lugu yang tak tahu apa-apa, maka malam itu dia menjadi martir.
*** *** ***
Soal dipilihnya Arifin C. Noor sebagai sutradara, Jajang bercerita saat itu Pak Dipo (G. Dwipayana), Direktur PPFN (Pusat Produksi Film Negara), mencari sutradara yang akan diminta untuk membuat film sejarah tentang peristiwa G30S PKI.
Goenawan Mohammad menyarankan nama Arifin C. Noor dan Teguh Karya sebagai sutradara kawakan saat itu.
Pak Dipo kemudian memilih Arifin.
Jadi, kalau akan dibuat film baru soal peristiwa G30S PKI, sanggupkah menghadirkan saksi mata yang masih hidup dari setiap pelaku dan korban?!
Istri para Jendral pahlawan revolusi, setelah 52 tahun berlalu, saya yakin sudah banyak yang wafat (atau malah sudah wafat semuanya?).
Putera puteri para pahlawan revolusi yang saat peristiwa itu terjadi berusia setidaknya 17 tahun, sekarang mestinya berusia 69 tahun.
Masa iya yang akan dijadikan rujukan adegan adalah anak usia 5-6 tahun saat itu? Malah jadi meragukan dan konyol.
Alih-alih membuat film yang lebih akurat, bisa jadi malah makin banyak meleset dari aslinya.
Jangan sampai nanti para jendral yang sudah mengorbankan nyawanya itu justru jadi tokoh antagonis dan para anggota PKI justru jadi "korban" yang layak diberi simpati.
PKI kan bukan hanya 30 September 1965 saja melakukan pemberontakan keji dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara. Bukankah tahun 1926-1927 dan tahun 1948 PKI juga memberontak??!
Anehnya, mereka yang ngotot PKI tidak bersalah dan hanya jadi korban, biasanya tidak mampu menjawab kalau disodorkan fakta pemberontakan PKI tahun 1948.
Itu sebabnya mereka hanya berputar-putar di seputar peristiwa G30S PKI saja.
Tak ada argumen apapun yang mampu menyanggah kekejaman PKI tahun 1948.
Kalau mau membuat film tentang PKI, sekalian saja dibuat panjang, mulai pemberontakan tahun 1926-1927 dan tahun 1948. Agar generasi muda sekarang lebih bisa memotret sejarah secara utuh dan mendapat gambaran tentang PKI dengan lebih komplit.
Embie C. Noor, adik almarhum Arifin C Noor, yang menjadi ilustrator musik di film G30S PKI, mengatakan senang sekali jika film bisa dibalas dengan film juga.
Tapi yang terpenting jangan ada pemutarbalikan sejarah!
<meta NAME=”Description” CONTENT=”Dr Yamin Hasibuan“> <title> <head> <meta NAME=”keywords” CONTENTS” Politik ”<head> <meta name =”robot” content=”index”> <meta name=”robot” content=follow”

Tuesday, September 12, 2017

Dubes RI untuk Myanmar Buka-bukaan Soal Latar Belakang Krisis Rohingya

Politik

Pengantar Admin

Gejolak Pembantaian Muslim Rohingya di Myammar saat ini masih berlansung.
Tulisan di bawah ini saya simpan dalam blog sebagai salah satu referensi. Bagaimana nasib muslim Rohingnya selanjutnya, mari kita ikuti terus. Semoga Prikemanusiaan Yang Adil Dan Beradap segera tercipta di Myammar. 

Fajar Pratama - detikNews


Foto: Dubes RI untuk Myanmar Ito Sumardi/Elza Astari Retaduari/detikcom


Jakarta - Krisis etnis Rohingnya di Myanmar menjadi perhatian dunia dan jadi keprihatinan serius di Indonesia. Dubes RI untuk Myanmar Ito Sumardi memberikan penjelasan utuh mengenai latar belakang krisis ini.

Ito Sumardi menulis panjang mengenai krisis Rohingnya ini. Berikut tulisan mantan Kabareskrim ini yang diterima detikcom, Jumat (8/9/2017).

Beberapa hari ini berita soal Rohingnya sangat mengemuka di berita Regional dan Internasional, tapi lebih ramai lagi di berita nasional dan telah berdampak banyaknya pertanyaan teman-teman di tanah air tentang Myanmar dan Rohingnya. Untuk itu saya sangat ingin berbagi sudut pandang dan beberapa fakta peristiwa terkait isu Rohingnya sebagai orang yang sekarang tinggal di Yangon dan pernah secara langsung mengunjungi tempat kejadian peristiwa 9 oktober 2016 termasuk pemukiman etnis Rohingnya, melakukan wawancana bersama beberapa duta besar dan Kepala perwakilan PBB di Myanmar. Tulisan ini merupakan highlight saja dan akan saya susun juga pembahasan per-topik selanjutnya sebagai bagian penjelasan dari tulisan pertama ini.

Sejak tahun lalu sebenarnya konflik Rohingnya di Rakhine State sudah mengemuka dan menjadi perhatian dunia internasional, ASEAN dan Negara-negara Islam (OKI). Sejak awal Tahun ini bahkan Pemerintah Myanmar telah membentuk Advisory Commission yang dipimpin oleh mantan Sekjen PBB Kofi Anan. Bahkan beberapa tahun sebelumnya (2012) juga sudah ada persoalan tentang Rohingnya sehingga Indonesia kebanjiran pengungsinya. 

Isu Rohingnya memang memang persoalan yang menahun di Myanmar yang belum terselesaikan hingga saat ini karena masalahnya sangat komplek dan tidak sesederhana yang dibayangkan masy ditanah air. Sejak persoalan kewarganegaraan dari etnis ini tidak dapat terakomodasi dengan baik dalam UU Kewarganegaraan Myanmar (Burma), Etnis Rohingnya juga terjerembab pada konflik horizontal dengan etnis Arakan yang menjadi suku mayoritas di Rakhine State, yang kemudian memuncak pada saat terjadinya kasus pemerkosaan dan pembunuhan antar dua kelompok etnis tersebut pada tahun 2012. Bahkan dalam konflik itu melibatkan tokoh agama, namun konflik itu sebenarnya juga berakar pada soal social economy, poverty dan etnisitas.



Etnis Rohingnya ini secara umum tidak seberuntung dengan Etnis Bengali yang sudah hidup nyaman sebagai warga Negara sejak jaman kolonial Inggris. Asal muasal wilayah mereka ada yang menyebut sama dan berasal dari campuran Bangladesh dan Pakistan Timur. Namun jelasnya kedua etnis ini bukan penduduk aseli wilayah Myanmar (Burma). Etnis Bengali telah secara bebas hidup secara social ekonomi dan bebas menganut agama, dan bahkan banyak yang menganut agama Islam. Yang beragama Islam mereka bebas melakukan peribadatan dan banyak masjid yang didirikan di kota besar di Myanmar. Sampai dengan Idul Adha kemarin saja mereka masih menjalankan ibadah Shalat Ied dan berqurban tanpa ada gangguan dari pemerintah maupun masyarakat yang beragama lain.

Secara umum, konflik etnik di Myanmar tidak hanya terjadi di Rakhine State saja, Myanmar masih menyimpan konflik antar etnis di beberapa State (di 7 Negara Bagian). Bagi kita bangsa Indonesia yang telah mendahului proses demokratisasi dan penataan kelembagaan Negara serta desentralisasi serta pengedepanan supremasi hukum, akan sedikit terheran jika mellihat struktur kenegaraan dan persoalan pemerintahan di Myanmar. Sebagai contoh, kita tidak biasa membayangkan bahwa di Myanmar ada tentara lokal (tentara etnis di Negara Bagiannya) di samping tentara nasionalnya.

Contoh lainnya, bahwa SDM Kepolisian termasuk militer Myanmar masih belum mempunyai kapasitas yang memadai baik dari pengetahuan, pengalaman, perlengkapan operasional untuk menghadapi dan menangani setiap konflik antar etnis tersebut, sehingga untuk menghadapi situasi darurat di Myanmar tentara nasional (Tatmadaw) lah yang mengambil peran (kendali) pada setiap penanganan konflik di beberapa bagian di negaranya, Polisi berada langsung di bawah komando tentara. Seperti kita ketahui dan kita alami juga di negara kita dulu, kalau tentara yang turun artinya yang dilakukan adalah upaya represif yang kadang mengabaikan dampak sosial yang diakibatkannya, bukan semata mata tindakan penegakan hukum, meskipun dalam beberapa keterangan resmi ada juga upaya penegakan hukum bagi kelompok yang melawan apabila tertangkap.



Pertanyaan yang sering muncul adalah, kenapa justru ketika Myanmar memasuki era demokratisasi, peristiwa-peristiwa penanganan konflik dengan pendekatan militeristik masih dilakukan. Padahal Daw Aung San Suu Kyi (DASSK) sebagai pemimpin de Facto Myanmar saat ini adalah penerima nobel perdamaian. Saya ingin menjelaskan terlebih dahulu latar belakang politiknya. Pasca kemenangan pemilu yang kedua di Myanmar, pemerintahan militer Myanmar akhirnya menyetujui proses demokratisasi dan memberikan kekuasaan kepada pemenang pemilu pada tahun 2015.

DASSK merupakan pemimpin yang dicintai rakyat Myanmar menang 80 persen lebih dalam pemilu, namun dia terhambat menjadi presiden karena status kewarganegaraan anaknya yang berkewarganegaraan Inggris. Infra dan supra struktur politik di Myanmar akhirnya bersepakat untuk menempatkan DASSK sebagai State Counsellor, struktur baru sebagai pemimpin de facto yang berkuasa di samping struktur formal yang menurut konstitusi. 

Proses demokratisasi Myanmar sudah dibuka dan dimulai namun proses transisi nya belum bisa terlaksana secara utuk karena pemenang pemilu 2015, tidak bisa melakukan reformasi yang signifikan sebab peran militer dalam pemerintahan masih terasa kuat, militer masih menjadi bagian dari parlemen dan memiliki hak veto, sebuah yang sangat istimewa untuk memveto setiap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sejalan dengan kebijakan "pengendali real" keamanan negara. DASSK sebagai pemimpin pemerintahan sipil belum punya instrumen aparatur keamanan yang kompeten sebagaimana di Negara-negara demokratis lainnya. Reformasi keamanan di Myanmar belum berjalan.

Ada satu nama penting dalam politik Myanmar yang tidak terlalu banyak muncul, namun dia merupakan tokoh penting, yang masih memiliki pengaruh kuat dalam manajemen pemerintahan sipil Myanmar saat ini, sehingga Parlemen perlu untuk bernegisiasi apabila hendak mengambil suatu kebijakan. Tokoh ini adalah tokoh kunci di Militer Myanmar saat ini yakni Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar Senior Jenderal Min Aung Hlaing. Sebagai pimpinan tertinggi unsur militer dan memiliki suara mutlak di parlemen, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil oleh State concellor terutama dalam hal penanganan masalah gangguan keamanan. Beliau adalah tokoh militer yang tentunya memiliki kedekatan dengan pemerintah lama dan saat ini sangat ber peran untuk menjalankan pengruh militer dalam politik nasional Myanmar. Dialah salah satu tokoh penting yang membuat poros Myanmar-China, di mana pada saat pemerintahan terdahilu, sebelum masuk dalam keanggotaan ASEAN, Myanmar adalah negara proxy RRC, dan China juga banyak memberi bantuan langsung kepada Myanmar. Sejarah ini tidak bisa dinegosiasikan dalam konstelasi politik nasional maupun regional Myanmar.

Dari fakta ini ada beberapa analisis yang signifikan kenapa isu Rohingnya menjadi membesar karena terdapat permasalahan bahwa konflik ini ditangani oleh Militer yang akhirnya seperti tanpa kendali dan tidak sesuai dengan standar HAM dan SOP Penanganan Konflik yang jelas. 

Lebih lanjut dalam konteks isu konflik Rohingya yang terjadi pada Bulan Agustus 2017 ini, pada dasarnya kejadiannya tidak berdiri sendiri. Runtutan peristiwa sejak akhir 2016 memberi warna hingga peristiwa terakhir. Penjelasannya seperti ini.

Pasca konflik etnis 2012, Etnis Rohingnya hidup dalam kamp-kamp di beberapa wilayah di Negara Bagian Rakhine, mereka hidup dalam pengawasan aparatur wilayah, meraka memliki masalah kemiskinan dan terhambat pembangunannya karena status kewarganegaraanya yang tidak diakui. Di tengah situasi tersebut muncul kelompok solidaritas seperti Rohingnya Solidarity Organization (RSO) yang kemudian saat ini betubah bentuk menjadi Arakan Rohingnya Salvation Army (ARSA) yang sipimpin oleh Atta Ulla atau Abu Amar yang memiliki ibu Rohingnya dan bapak Pakistan anggota Taliban. Kelompok-kelompok ini melakukan gerakan radikal dengan melakukan serangkaian serangan baik kepada aparatur keamanan maupun warga lainnya dan mulai bergulir secara simultan pada akhir 2016 lalu.

Pada akhir tahun 2016 mereka menyerang pos-pos polisi dan membunuh beberapa polisi, kemudian dibalas dengan serangan oleh aparat keamanan (polisi dan tentara). Namun apa daya tentara dan polisi itu ternyata kalah banyak dan terkepung dan terjadi kontak senjata dan menewaskan puluhan aparat. Pasca kejadian ini aparatur keamanan Myanmar menilai situasi sudah tidak kondusif, hingga mereka melakukan opreasi khusus dan berdampak pada jatuhnya korban warga Rohingya, karena mereka menyerang beberapa kampung yang dijadikan tameng oleh kelompok Radikal. Jumlah korban masyarakat sangat banyak dan terindikasi juga terjadi pelanggaran HAM oleh tentara dan polisi Myanmar pada saat operasi militer tersebut. Terjadi eksodus pengungsi ke Bangladesh utamanya

Peristiwa di awal Oktober 2016 tersebut mengekskalasi dan Pemerintah Myanmar mengambil sikap untuk membuat tim pencari fakta dan bahkan membentuk Komisi Penasehat yang dipimpin oleh Kofi Anan. DASSK seperti ingin netral tak ingin menyalahkan militer namun juga tidak mau kehilangan muka karena terjadi pelanggaran dalam pemerintahan demokrasi yang tengah dipimpinnya. PBB secara terpisah telah memberikan perhatian terhadap peristiwa ini dan telah membentuk tim pencari fakta. Namun hasil tim pencari fakta PBB secara tegas ditolak karena mereka melakukan investigasi di kamp pengungsi yang ada di Bangladesh, hingga akhirnya Tim itu tidak berikan visa untuk masuk Myanmar.

Penolakan hasil Tim PBB oleh pemerintah Myanmar atas saran dari National Security Advisor (NSA) tersebut diamini dan diikuti oleh sikap Panglima Militer Min Aung Hlaing dan juga oleh kelompok masyarakat lainnya, tidak terkecuali dari kelompok agama. Bahkan mereka mendukung upaya bahwa warga Rohingnya agar tetap tidak diberikan status kewarganegaraan Myanmar. Padahal salah satu saran dari Kofi Anan adalah untuk mengurangi dan meredam konflik mereka perlu diberi status kewarganegaraan. Hingga kini perdebatan solusi pemberian kewarganegaraan ini terus bergulir, solusi hukum, social dan keamanan masih terus menjadi bahasan di pemerintah Myanmar.

Bahkan dalam beberapa kesempatan pemerintah mensinyalir bahwa eskalasi konflik terjadi karena isu Rohingnya telah ditunggangi kelompok teroris, sebab ada fakta bahwa penyerangan kepada aparatur keamanan Myanmar dipimpin oleh ekstrimis yang terkatif di Afghanistan, dan telah terjadi pergeseran isu internasional di mana konflik etnis ini telah berkembang menjadi konflik agama. Aparatur Keamanan Myanmar mengidentifikasi ada 10 Organisasi yang berafiliasi dengan MUJAHIDIN dan ISIS jaringan Andaman Sea yang terkait dalam penyerangan pos-pos aparatur keamanan Myanmar. Bahkan ada fakta bahwa sesama muslim pun jadi sasaran pembunuhan. 

Pasca kegagalan PBB mencari fakta dalam peristiwa Rohingnya di akhir tahun 2016, kemudian PBB menunjuk Ketua Tim Pencari Fakta yang baru, yakni telah dilakukan pembicraan intensif dengan Dewan HAM PBB untuk menujuk Marzuki Darusman. Belum saja upaya itu dilakukan meletus peristiwa baru.

Dalam konstelasi yang demikian itu terjadi antiklimaks pencarian fakta dan terjadi blunder baru yang kemudian terjadi pada Akhir Juli 2017 dan yang fantastis di bulan Agustus terjadi serangan secara sistematis pada lebih dari 10 pos polisi dan 1 markas tentara di wilayah Rakhine State Bagian barat daya. Dan lagi-lagi jatuh korban terlebih dahulu di pihak aparatur keamanan yang kemudian diikuti dengan operasi miliyer yang mengakibatkan jatuhnya puluhan korban baik dari aparat, penduduk.myanmar maupun kelompok etnis myanmar sehingga terjadi arus pengungsian lagi ke Negara terdekat maupun pengungsian masyarakat lokal yang menghindarkan diri dari daerah konflik.

Myanmar saat ini masih menggunakan pendekatan kedaulatan Negara dalam menyelesaikan konflik, sementara pendekatan HAM dan perspektif keamanan regional belum menjadi perhatian penuh. Saya melihat ini juga disebabkan oleh kondisi politik domestik Myanmar yang belum stabil dan ajeg untuk menjalankan seluruh prinsip-prinsip demokrasi. Peristiwa ini telah menggugah kemanusiaan kita semua namun perlu pertimbangan yang bijaksana dan lebih cermat dalam mengambil jalan sikap kita sehingga tidak gegabah memperlebar isu dan menimbulkan konflik baru.

Di tengah situasi yang demikian itu banyak pihak memfaatkan isu Rohingnya sesuai dengan kepentingannya. Indonesia sejak lama telah melakukan pendekatan kepada pemerintah Myanmar dan melakukan diplomasi non-megaphone dalam menyikapi isu Rohingnya. Jalan yang diambil adalah secara simultan memberikan bantuan kemanusiaan yang diberikan kepada masyarakat Rakhine. Karena sangat disadari di lapangan persoalan kemiskinan menjadi persoalan inti. Jalan ini merupakan kompromi dari pilihan politik luar negeri Indonesia. Tidak hanya di situ saja bahwa bantuan kemanusiaan Indonesia yang dikordinasikan dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia-Myanmar, telah melibatkan stakeholders yang lebih luas, yakni tidak hanya pemerintah saja namun juga organisasi keagamaan dan kemanusiaan, ada Mer-C, Dompet Duafa, Muhamadiyah, NU, DarutTauhid, PMI, Walubi, PKPU dkk.

Secara pro-aktif Indonesia juga melakukan double track diplomasi, yakni tidak hanya mengirimkan bantuan kemanusiaan, namun juga melakukan appeal (tekanan) agar pemerintah Myanmar sebagai kawan baik bisa mengambil langkah yang tepat dan tidak meruncingkan keadaan agar terjaga stabilitas keamanan regional. 

Berbeda dengan Negara tetangga kita Malaysia, Malaysia memang telah mengambil sikap untuk membawa persoalan ini secara organizational ke OKI dan secara eksplisit menyatakan kecaman kepada Myanmar. Namun sangat disayangkan, Malaysia menggandeng isu Islam dalam konflik Rohingnya ini. Myanmar balik menuduh Perdana Menteri Malaysia menggunakan isu Islam untuk menaikan Grade Pemerintahannya yang tengah terpuruk di dalam negeri. 

Saya jadi tergelitik juga kalau di tanah air justru isu Rohingnya digeser jadi sentimen keagamaan (Islam) yang diusung oleh beberapa organisasi-organisasi yang tidak memahami secara utuh apa yang sebenarnya terjadi disana, dan meminta pemutusan hubungan diplomatik antara indonesia dan myanmar. Pertanyaannya : "Apakah dengan pemutusan hubungan kita bisa menyampaikan pesan masyarakat Indonesia atau menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada kelompok rohingnya maupun masyarakat yang membutuhkan disana?".

Setiap orang punya pendapat dan cara menyampaikan pendapat, tapi apabila kita secara realistis mengedepankan fakta dan keadilan, maka langkah atau upaya yang akan kita lakukan benar2 menjadi efektif. Isu Rohingnya adalah isu kemanusiaan. Indonesia, PBB, OKI ASEAN telah turun melihat persoalan ini secara komprehensif, baiknya kita tak ikut-ikutan memperuncing keadaan dengan dasar penilaian yang cuma berdasarkan berita-berita yang tidak terklarifikasi dan belum tentu kebenarannya.

Prinsipnya kita bersepakat agar peristiwa-peristiwa yang merupakan tragedi perikemanusiaan ini agar segera dihentikan oleh seluruh pihak yang berkonflik di Myanmar. Kecaman kita tentunya tak hanya kepada pemerintah saja, namun juga kepada kelompok Rohingnya supaya tidak melakukan tindakan yang anarkis juga.
Berilanlah kesempatan kepada pemerintah myanmar untuk mempertimbangkan dan melaksanakan berbagai rekomendasi dari utusan pemerintah Indonesia sebagai negara sahabat tanpa kita berprasangka buruk terlebih dahulu agar suara kita, pesan kita, dan bantuan kemanusiaan kita dapat didengarkan dan dapat diterima daripada opsi pemutusan hubungan diplomasi yang merupakan langkah diplomasi drastis apabila ada pelanggaran permasalahan prinsip "antar dua negara".

Demikian tulisan ini disampaikan untuk mengajak kita kembali kepada sifat bangsa kita yang santun, bijaksana, peduli dengan ketertiban dunia dengan menghormati hak kedaulatan Myanmar.

Salam damai untuk kita semua.

Sumber info

Tuesday, August 29, 2017

Merekatkan Bangsa...Ada Yg Retak?

Politik Umum, video

Bagi generasi tua yang mengikuti pekembangan bangsa, merasa bahwa saat ini Indonesia dalam kedaan yang sangat memprihatinkan dan mengkwatirkan. Betapa tidak, bila komponen bangsa dan masyrakatnya tidak bersatu (dalam hati nurani yang tulus), bangsa ini bisa hancur.

Allah azza wa jalla telah mengingatkan manusia dalam [QS Al Israa 17:16] 
Penafsirannya disampaikan oleh DR. Haedar Nasir (ketua Umum Muhammadiyah), tentang hancurnya suatu bangsa.

Selanjutnya Hader Nasir mengamati ada 3 hal besar membuat keretakan:
Sembrono, Sistem yang lemah, Nilai (value) yang hilang.

Selanjutnya simak video di bawah ini:



Bersatulah bangsaku!!! <meta NAME=”Description” CONTENT=”Dr Yamin Hasibuan“><title><head><meta NAME=”keywords” CONTENTS=”Agama, Umum,video,”<head><meta name =”robot” content=”index”><meta name=”robot” content=follow”

Friday, June 2, 2017

Sadarlah Orang-Orang Muslim....Kelompok-Keplompok Muslim Sedang Diciptakan, Banyak Julukan Diberikan Kemudian Diadu Domba

Politik, Renumngan


Dokumen RAND Corporation menganjurkan sangat rinci langkah-langkah agar antara satu kelompok Muslim dengan kelompok yang lain tidak pernah bersatu, saling curiga, saling menghina dan saling menghujat.

TIBA-TIBA saja kita berhadapan dengan berbagai jenis ‘Muslimin’ yang sangat jauh dari yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam dan para Sahabatnya.
Ada Muslimin yang hati, lisan dan tindakannya jauh dari Al-Quran dan As-Sunnah, namun sangat yakin dirinya Muslim. Bahkan tidak jarang jenis ini berteriak lebih lantang dan bertindak lebih garang daripada mereka yang bermujahadah untuk setia kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Teriakan lantang dan tindakan garang inilah yang memancing jidal bahkan perpecahan. Semua seperti berjalan alamiah. Tidak. Tidak alamiah dan tidak tiba-tiba.

Inilah panen Neo-Ghazwul Fikri, Perang Pemikiran Jenis Baru. Sebuah kelanjutan dari usaha sistematis menjauhkan kaum Muslimin dan umat manusia dari Islam dan dilakukan secara besar-besaran.

Sasarannya lebih spesifik: individu atau komunitas Muslim tertentu yang diriset secara sungguh-sungguh, dikategorikan secara hati-hati, diperlakukan dengan tindakan-tindakan yang terukur, dalam dosis waktu yang lama, yang akhirnya menghasilkan cara berfikir individual dan komunal yang lantang dan garang menyuarakan Islam, tapi jauh dari aqidah dan akhlaq Islam. Atau tetap mengaku Muslim tapi menentang apapun yang datangnya dari Islam.

Dua puluh atau tiga puluh tahun yang silam, istilah Ghazwul Fikri masih kita fahami secara umum: Media massa yang menjauhkan umat manusia dari Islam, bahkan memusuhi Islam. Jenis ini masih berlangsung sampai sekarang.

Neo-Ghazwul Fikri lebih tajam sasarannya: individu tertentu, komunitas tertentu.
Contoh yang paling sempurna bernama Mus’ab Hassan Yousef, putra tokoh Hamas (Gerakan Perlawanan Islam Palestina) di Tepi Barat yang ditangkap penjajah Zionis Israel ketika berusia 19 tahun. Mus’ab di penjara selama 16 bulan.

Sekeluarnya ia dari penjara –tanpa diketahui siapapun kecuali agen Shin Bet (dinas rahasia Zionis) yang merekrutnya– Mus’ab bekerja untuk agen rahasia itu untuk kepentingan penjajah Zionis.
Dalam waktu 16 bulan di penjara Zionis, isi fikiran, hati, lisan dan tindakan Mus’ab berubah dramatis.

Hal-hal berikut ini adalah keyakinannya yang baru:
“Islam agama teroris”
“Tuhannya orang Islam mengajarkan terorisme”
“Nabinya orang Islam melakukan terorisme”
“Al-Quran memerintahkan terorisme”
“Hamas penjahat brutal”
“Israel melakukan kejahatan tapi dengan tata tertib dan beradab”

Semua keyakinan barunya ini masih tersimpan secara rahasia selama sepuluh tahun sesudahnya, mulai tahun 1997 sampai 2007. Yaitu ketika Mus’ab secara aktif bekerja sebagai agen rahasia Shin Bet sambil tetap hidup serumah, makan bersama, dan bercengkerama keluarga kandungnya, termasuk ibu dan ayahnya, Hassan Yousef di Ramallah, Tepi Barat, hanya 10 kilometer dari Masjidil Aqsha.

Selama sepuluh tahun itu, tak terhitung tokoh perjuangan Palestina disekap dan disiksa oleh Zionis Israel, sebagai hasil kerja Mus’ab. Banyak operasi jihad yang digagalkan. Diantara tokoh yang dipenjara akibat lisan Mus’ab ialah Abdullah Barghouti, seorang komandan Brigade Asy-Syahid ‘Izzuddin Al-Qassam, yang divonis pengadilan penjajah Zionis dengan penjara selama 6.633 tahun.
Sambil terus bekerja sebagai pengkhianat Islam dan Masjidil Aqsha, Allah semakin jauhkan Mus’ab dari Islam sampai ia memutuskan murtad dan memeluk Kristen.

Tahun 2005 secara rahasia Mus’ab dibaptis di Tel Aviv. Dua tahun kemudian, ia meninggalkan Palestina pindah ke San Diego, California.
Dalam proses mendapatkan kewarganegaraan Amerika Serikat itulah, Mus’ab muncul secara terbuka menunjukkan jatidiri aslinya sebagai kafir, tahun 2008. Hakim pengadilan California memanggil agen Shin Bet yang merekrutnya di Palestina, untuk bersaksi bahwa Mus’ab yang berganti nama menjadi Joseph benar-benar “orang kita” (24 Juni 2010).

Agen Shin Bet itu bernama Gonen Ben-Itzhak, yang selama sepuluh tahun menjadi mentor Mus’ab yang waktu itu diberi nama sandi ‘Lu’ai’. Ben-Itzhak menjelaskan kepada pengadilan bahwa Joseph adalah “teman sejati” yang telah “bertaruh nyawa setiap hari untuk mencegah terjadinya kekerasan”. Tak lama kemudian Joseph resmi jadi warganegara Amerika Serikat.

Tak lama kemudian, Joseph alias Mus’ab jadi bintang film. Ya, bintang film layar lebar. Filmnya berjudul “Green Prince” (Pangeran Hijau) bercerita tentang kisah hidupnya dipromosikan besar-besaran di berbagai festival film. Begitulah istidraj, Allah ‘memanjakan’ seorang yang kafir agar semakin jauh tersesatnya.

Komunitas

Sekarang, bayangkan kalau resep yang telah digunakan oleh Shin Bet atas individu bernama Mus’ab Hassan Yousef, diaplikasikan kepada komunitas tertentu yang memiliki psiko-sosiologi tertentu. Maka kita akan menyaksikan pemimpin-pemimpin organisasi Islam dan sebagian massanya berpikiran, berkata-kata, bersikap dan bertindak sangat aneh karena jauh dari aqidah dan akhlaq Islam yang sebenarnya.

Dan ini bukan sekedar bayangan. Sudah terjadi. Selama 40 tahun terakhir, lewat berbagai fasilitas beasiswa besar-besaran bagi remaja dan pemuda Muslimin untuk sekolah dan belajar Islam kepada para Orientalis Yahudi dan Kristen di negara-negara barat, kini hadirlah para sarjana, master dan doktor yang fikiran, kata-kata, dan tindakannya justru melemahkan aqidah umat Islam.

Diantara fikiran dan kata-kata itu:
Islam bukan satu-satunya sumber kebenaran
Al-Quran bukan wahyu Tuhan tapi kata-kata manusia
Muhammad bukan manusia suci dan spemurna
Sahabat-sahabat Muhammad manusia biasa yang punya ambisi pribadi dan politik
Sunnah adalah tradisi Arab, tidak cocok untuk semua manusia
Syariah adalah hukum yang hanya cocok untuk masyarakat Arab 1400 tahun lalu

Dan banyak lagi. Ketika fikiran dan kalimat-kalimat seperti ini muncul sebagai keyakinan seorang yang mengakui Muslim, tak perlu ragu, ia atau mereka telah jadi korban Neo-Ghazwul Fikri.

Bila umat Islam sudah dikacaukan dan dibingungkan oleh fikiran-fikiran yang seperti di atas, maka resep berikutnya lebih bersifat sosial-politik.

Seperti yang diluncurkan oleh RAND Corporation, sebuah lembaga riset teknologi senjata yang berubah jadi lembaga riset pemikiran. Tahun 2003, RAND menyiarkan sebuah dokumen berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies”.
Dokumen ini berisi tuntunan praktis bagi seluruh elemen peradaban Barat untuk memecah belah, mengadu domba serta memelihara kelemahan-kelemahan umat Islam. Seperti dulu Clifford Geertz memecah belah umat Islam Indonesia menjadi “Islam Santri” dan “Islam Abangan”.

RAND Corporation membagi umat Islam menjadi empat kelompok:

– Fundamentalis: kelompok masyarakat Islam yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat Kontemporer, serta menginginkan formalisasi penerapan Syariat Islam;
– Tradisionalis: kelompok masyarakat Islam Konservatif yang mencurigai modernitas, inovasi dan perubahan. Mereka berpegang kepada substansi ajaran Islam tanpa peduli kepada formalisasinya;
– Modernis: kelompok masyarakat Islam Modern yang ingin reformasi Islam agar sesuai dengan tuntutan zaman, sehingga bisa menjadi bagian dari modernitas;
– Sekularis: kelompok masyarakat Islam Sekuler yang ingin menjadikan Islam sebagai urusan pribadi dan dipisah sama sekali dari urusan negara.

Dokumen RAND Corporation menganjurkan secara rinci apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan agar antara satu kelompok Muslim dengan kelompok yang lain tidak pernah bersatu, saling curiga, saling memicingkan mata, saling menjauh, saling menghina, saling menghujat.

Siapapun tokoh Islam atau pribadi Muslim yang menggunakan keempat istilah di atas ini untuk menjelaskan umat Islam, berarti dia telah terjebak dalam adu domba yang didesain oleh RAND Corporation atau lembaga sejenisnya.

Tak heran, kalau hari-hari ini kita menghadapi kenyataan, betapa susahnya silaturrahim dan sambungan hati apalagi tindakan dipersatukan di kalangan umat Islam. Seruan Al-Quran untuk berpegang kepada tali Allah dan jangan sampai berpecah belah seperti menghadapi tembok raksasa yang seakan mustahil dijebol. Karena ternyata, benih-benih perpecahan itu telah disemai bertahun-tahun yang lalu, dan ada yang memelihara kesuburannya.

Jangan sampai ini kita biarkan menjadi warisan bagi anak keturunan kita. Berhentilah. Bersihkan hati kita masing-masing. Bertaubatlah. Lalu bersilaturrahim lah. Buka pintu kita selebar mungkin untuk Saudara-saudara Muslim kita. Berlombalah lebih dahulu mengucap salam, memberikan senyum, menjabat tangan. Semoga Allah kokohkan kekuatan kita.

Waspada

Menurut Dr. Adian Husaini, ada tiga ancaman penyakit terhadap aqidah Islam di zaman kita ini, yang berpotensi memporak-porandakan kesatuan umat:
1) Pemurtadan lewat Kristenisasi dan Yahudisasi;
2) Gerakan SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme);
3) Aliran-aliran sesat yang tampil mirip Islam tapi sebenarnya mengandung ajaran-ajaran yang merusak aqidah (Syiah, Gafatar, Bahaisme dll.).

Namun ketiga ancaman penyakit ini akan menjadi semakin mudah penyebarannya di tubuh umat Islam apabila telah berjangkit satu penyakit saja pada diri seorang Muslim, sebuah keluarga Muslim atau di sebuah masyarakat Muslim: penyakit Al-Wahn.

Di saat Al-Wahn telah berjangkit, seseorang akan sangat mudah untuk murtad, sangat mudah menjadi sekularis, pluralis dan liberalis. Bahkan sangat mudah untuk menganut berbagai aliran sesat.

Penyakit ini telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahayanya. Al-Wahn adalah “cinta dunia dan benci mati”. Berarti dalam keadaan sehat, seyogianya seorang Muslim “cinta mati, karena rindunya bertemu Allah, dan benci dunia, karena semua kehinaannya”.

Seorang Muslim akan mencintai semua yang ada di dunia hanya semata-mata hal yang dicintai Allah dan Rasul-Nya saja. Sedangkan kerinduannya untuk mendapatkan janji-janji Allah di Akhirat mengalahkan seluruh kecintaannya pada dunia dan segala isinya. Pada saat itulah ia, keluarganya, dan komunitasnya tak akan bisa dibeli dengan harga apapun, kecuali jaminan Syurga dari Allah.*

Penulis adalah wartawan Hidayatullah

Dikutip dari             : hidayatullah.com

Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share.  Lets change the world together saudaraku !...

Tuesday, May 23, 2017

Strategi China???

Politik
Copas dari FB

Barusan nonton TV MBS channel Jepang membahas tentang STRATEGI CINA DENGAN 一帯一路 atau JALUR SUTRA BARU.

Ternyata Ethiopia, Tonga, Srilanka, dll sdh berhasil mereka kuasai. Modusnya adalah memberikan pinjaman untuk pembangunan infrastruktur dan fokus terutama pada pembangunan daerah Pesisir dengan Reklamasi Pantai.
Di Srilanka, setelah terlilit mega utang dan tdk bisa bayar, Cina menawarkan Pembebasan Utang dgn Meminjamkan Tanah Hasil Reklamasi ke Cina selama 99 tahun.

*Fenomena umum* di negara2 itu adalah *membanjirnya migran dari Cina* sehingga *penduduk kehilangan pekerjaan dan  perusahaan lokal mati* karena *perdagangan dikuasai oleh Cina* sebab *impor barang dari Cina dimudahkan*.
Selain itu, keluhannya pun seragam, yaitu *kualitas infrastruktur yg dibuat oleh Cina tdk bertahan lama* sehingga *untuk perbaikan pun akan meminta 'tolong' mereka lagi, akibatnya ketergantungan terhadap Cina terjadi terus menerus*.
Menurut analisa ahli di Jepang, *Tanah yg dipinjam itu bisa saja akan dijadikan pangkalan militer Cina untuk ambisi militer mereka*.
*Nonton berita itu seperti melihat negeri sendiri 5-10 tahun mendatang*.
*Modusnya sama persis*!!!
*Menghilangkan pajak impor ( _Indonesia sdh hapus pajak untuk impor nominal kecil sehingga impor barang dari Tiongkok mudah masuk dan mematikan UKM Indonesia_ )*,
*Ngotot Reklamasi Pantai Utara Jakarta buat Gerbang Masuk Cina*,
*Ambruknya bendungan di Bali, Jembatan di Kalimantan, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel di Sulawesi Tengah, dll*.
Makanya *kalau anda memang Cinta NKRI, pasti akan MENOLAK Reklamasi Pantai Utara Jakarta*.
Ini *BUKAN Masalah Ras, Pribumi* atau *Non Pribumi*, ini adalah *Masalah Politik*.
Dan *KITA, ya KITA, yg Suku Sunda, Jawa, Minahasa, Dayak, Makassar, Cina Bangka, Bugis, Gorontalo, Betawi, Cina Jakarta,   Minangkabau, Batak, Aceh, Cina Pontianak, Madura, Bali, Sasak, NTB, NTT, Timor, Maluku, Papua, dll, KITA SEMUA sedang di Pecah Belah agar CINA bisa Masuk dgn Mudah*.
Di negara manapun, *CINA selalu membuat Proxy*, yaitu *sekelompok orang yg akan memperoleh imbal balik*, entah dgn *kekuasaan* atau dgn *proyek* atau *hibah* dll dgn *bekerjasama dgn Cina dan membantu Cina dari dalam*.
Sementara *mayoritas rakyat* hanya akan *menjadi objek ambisi Cina dan hanya bisa Gigit Jari*.
Dan JANGAN SAMPAI KITA SALAH KAPRAH, yg *bersedia jadi proxy Cina tidak mesti WNI keturunan, ada banyak suku pribumi yg akan bersedia menjual nasionalismenya demi harta dan kekuasaan*.
Jadi, *Jangan benci saudara-saudara kita yg bersuku Cina, waspadalah kepada mereka yg mati-matian pasang badan* agar *ambisi politik pemerintah Cina di negeri kita semakin mulus terlaksana*, karena *mereka inilah mungkin proxy yg sudah terbeli nasionalismenya*.
Lantas, APAKAH SAAT INI SEBAGIAN DARI PENGAMBIL KEPUTUSAN SUDAH JADI PROXY CINA?
*Hanya mereka yg tahu. Memang mendeteksinya agak sulit, karena di satu sisi pemerintah harus bisa menjamin keberlangsungan pembangunan dan salah satu sumber pembiayaan adalah dgn utang LN*.
*_Tapi mari kita amati, kalau sumber pembiayaan ada yg lain dgn syarat lebih baik, tapi tetap ngotot milih yg dari Cina, maka kita harus bertanya-tanya_*???.
*Di sinilah fungsi Dewan Perwakilan Rakyat sebagai Pengawas Eksekutif untuk menggunakan haknya dalam pengelolaan negara, dan rakyat sebagai pemerhati sekaligus pemilik kepentingan negara tertinggi untuk mengawasi. Semoga negeri kita tidak terjual seperti negara-negara itu*.
*Kalaupun Tak Mampu Jadi Pahlawan, Minimal JANGAN JADI Pengkhianat atau Pembantu Pengkhianat*.

★ *HAI ANAK BANGSA INDONESIA DIMANAPUN ANDA BERADA, BANGUNLAH DARI TIDUR KITA, BANGKITLAH, WASPADALAH !!* ★ <meta NAME=”Description” CONTENT=”Dr Yamin Hasibuan, Info Terkini, Agama, Pencerahan, Renungan, Kata-Kata Mutiara, Puisi, Politik, Kesehatan, Artikel, Bisnis Online, Humor, Traveling “> <title> <head> <meta NAME=”keywords” CONTENTS=”Strategi China”<head> <meta name =”robot” content=”index”> <meta name=”robot” content=follow”