Showing posts with label Maluku Koloni. Show all posts
Showing posts with label Maluku Koloni. Show all posts

Saturday, April 7, 2018

Koloni Kusta Sorofo, Ternate Maluku Utara

Koloni Kusta Sorofo, Ternate Maluku Utara

Rumah Sakit Kusta Sorofo / Perkampungan
Alamat: Jl Kalumata Sorofo, Ternate.




RSK Ternate 2003

Keadaan waktu kunjungan (2003).

Menurut Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes, lembaga ini masih didefinisikan sebagai rumah sakit kusta, meskipun pada kenyataannya itu adalah Perkampungan Kusta. Koloni ini secara adminstratif adalah milik Kabupaten Maluku Utara (waktu kunjungan belum ada pemisahan dengan Prov. Maluku). Perkampungan didirikan pada 1935 di atas lahan 2,5 hektar, terletak sekitar 3 km dari ibukota Kabupaten dan 5 km dari Kota Ternate (Ternate direncanakan sebagai ibu kota sementara untuk provinsi Maluku Utara), menurut penjelasan penguasa setempat, ibukota direncanakan didirikan di pulau Halmahera.

Pada saat kunjungan, ada 73 orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) dalam 42 keluarga. Pasangan dalam keluarga bisa terdiri dari suami dan istri adalah OYPMK, salah satu dari pasangan adalah OYPMK atau Non-OYPMK. Jumlah total OYPMK dengan anak-anak sehat pasangan sehat, penduduk sehat, adalah 148. Tak satu pun dari mereka berada dalam pengobatan MDT lagi. 
Proporsi pasien mantan kusta terhadap total di penghuninya adalah 56%. 

Keluarga OYPMK mendapat jatah dalam paket dari pemerintah terdiri dari: Beras 10 kg, gula 3kgs, memasak 2kgs minyak, garam 1 kg, minyak tanah 2 liter, sabun 5, teh 3 kotak, dan 5 bungkus mie yang super mie. Jatah diberikan dalam 3 bulan sekali, yang mendapat jatah ialah OYPMK satu paket per orang.

Keluar, masuk pemukiman

Yang keluar:
- Meninggal.
- Sembuh tanpa masalah sosial, mereka harus kembali ke keluarga atau kerabat mereka.
- Perilaku buruk, tidak kooperatif.

Masuk:
- Tidak ada kriteria tertulis untuk penerimaan pasien. Setiap penderita kusta dapat diterima asalkan tempat dan anggaran yang tersedia.
- Pasien bebas biaya.
- Sejak tahun 1998, Perkampungan telah ditutup untuk masuk baru.

 Layana medis
Ada RSK dengan 14 tempat tidur, tapi sejak tahun 1998 RSK ini tidak berfungsi lagi. Sebelum Indonesia krisis masih berfungsi, ada pelayanan bedah dari dokter terbang dari Makassar (RSK Daya).
Pelayanan yang masih ada adalah klinik untuk rawat jalan. Pasein yang perlu rujukan dapat dikirim kePurkesmas terdekat.

Bersambung.......Koloni Kusta Papua


Tulisan Lengkap, klik ini:

Friday, April 6, 2018

Koloni Kusta Saparua, Maluku


Koloni kusta Saparua / 'Waehenahea'




Informasi Umum

Inventarisasi dilakukan pada tahun 2003.

Koloni ini didirikan pada tahun 1950 diatas lahan 4 hektar. Menurut catatan yang ada di klinik, total pasien yang terdaftar di pemukiman adalah sbb:
1953: 59
1969: 368
1975: 388
Sejak pengobatan MDT, banyak pasien telah dinyatakan sembuh dan banyak dari mereka kembali ke kampung halaman. Tahun demi tahun jumlah penghuni berkurang dan tidak ada penerimaan pasien baru sejak tahun 1990.

Perkampungan ini sekarang dianggap sebagai sebuah desa 'normal'. Ada 8 orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) tinggal di sana. Secara administratif pemukiman benar-benar terintegrasi. Dan juga rumah-rumah pemukiman sekarang dicampur dengan rumah-rumah lain dari masyarakat. Klinik Kusta yang lama telah berubah menjadi gereja tetapi masih berfungsi juga sebagai klinik sederhana. Gereja ini digunakan oleh orang-orang dari masyarakat termasuk orang-orang yang pernah mengalami kusta. Pada saat kunjungan ada upacara Natal di gereja; penulis menyaksikan sendiri orang sedang berdoa bersama-sama, di antara mereka juga penderita kusta.

Sejak tahun 1990 OYPMK tidak mendapat sumbangan dari pemerintah lagi. Mereka sudah mandiri. Mereka mengolah tanah, menjual buah dan sayuran di pasar Saparua, mereka ada yang masih dibantu keluarganya dan kadang-kadang menerima sumbangan dari gereja.

Pelayanan medis

Di pemukiman ada sebuah klinik sederhana yang juga berfungsi sebagai gereja.
Tidak ada staf kesehatan permanen di sana, tetapi seorang paramedis petugas kusta dari Puskesmas terdekat datang untuk menjalankan klinik dua kali seminggu.
                             
Riwayat hidup

2 OYPMK diwawanicarai, berikut ini adalah riwayat singkat hidup mereka.

OYPMK-1, Pria berusia 62 tahun


                                                         
Saya lahir di Ambon, pada tahun 1942. Ketika saya berusia 20 tahun saya jatuh sakit dengan bercak merah tebal di kulit wajah dan telinga saya. Saya tahu bahwa bercak itu adalah gejala kusta. Orang tua dan tetangga saya juga tahu tanda-tanda penyakit kusta karena kami telah menerima informasi dari petugas kesehatan pada waktu penyluhan kesehtan di desa. Saya sangat sedih dan pergi ke Klinik Kusta Benteng di Ambon untuk konsultasi. Dokter menegaskan bahwa saya menderita penyakit kusta dan memberi saya DDS tablet untuk pengobatan rawat jalan. Saya mengambil DDS teratur selama satu tahun. Pada suatu hari saya mendapat reaksi, kondisi saya menjadi lebih buruk dan jari-jari saya menjadi bengkok dan kaku (kiting). Saya punya teman yang juga sakit kusta, ia tinggal di pemukiman Saparua. Dia menyarankan saya untuk bergabung dengannya di Saparua. Saya setuju dan pindah ke sana pada tahun 1964. Saya diterima tanpa syarat apapun. Semua fasilitas termasuk obat yang diberikan secara gratis. Di sini saya diberi tablet prednison selain DDS. Setelah beberapa bulan kondisi saya menjadi lebih baik dan stabil. Saya terus mengambil DDS seperti yang diperintahkan oleh dokter. Setelah beberapa tahun saya merasa bahwa saya telah sembuh dan kemudian saya menikah dengan seorang wanita mantan kusta pada tahun 1980. Kami diberi sebuah rumah dan sebidang tanah di pemukiman. Kami memiliki 3 anak sehat, satu meninggal di Ambon.

Saya ingat bahwa selama periode 1964 - 1980, banyak pasien dirawat di rumah sakit Saparua, sekitar 300 orang. Pada waktu itu pemerintah setempat menginstruksikan semua penderita kusta untuk tinggal di pemukiman Saparua. Mayoritas penduduk dipindahkan di dari pemukiman Hatuhalani Molana di P. Molana). Menurut kebijakan pemerintah daerah, pemukiman Hatuhalani harus ditutup dan semua penduduk dipindahkan ke pemukiman Saparua (Waehenahea). Karena pemerintah menghentikan bantuan, banyak orang kembali ke kota asal mereka dan sangat sedikit pasien baru datang untuk dirawat. Beberapa orang meninggal dari tahun ke tahuan, maka jumlah penghuni pemukiman menjadi kurang. Sekarang hanya tinggal  8 orang OYPMK.

OYPMK-2, Wanita berusia 70 tahun


Ketika saya berumur 25 tahun, ada timbul penebalan dan kemerahan di kulit. Suami saya mengatakan saya kena kusta dan dia menyuruh saya pergi ke Puskesmas untuk konsultasi. Saya didiagnosis kusta dan diberi pengobatan. Suami saya takut kusta, saya diceraikan langsung. Dia tinggalka saya sendirian. Dua anak kami tinggal bersama suami saya. Pada tahun 1966 saya melaporkan ke petugas kusta dengan militer tetapi saya dipaksa untuk pergi ke rumah sakit kusta Saparua. Ada sekitar 250 orang yang tinggal di pemukiman Saparua pada waktu itu. Semua orang diperlakukan sama, tidak ada pembayaran, diberikan makanan dan pakaian secara geratis oleh pemerintah.

Pada tahun 1980 semua sumbangan dari pemerintah berhenti. Setelah itu hanya beberapa orang yang tetap tinggal, banyak kembali ke keluarga mereka. Saya  tinggal sendirian di sini, saya tidak bisa bekerja lagi karena saya sudah tua. Saya  bergantung pada orang lain. Terima kasih Tuhan, saya masih mendapatkan bantuan kadang-kadang dari kerabat saya, gereja dan yayasan Belanda.

Bersambung......Koloni Kusta di prov Maluku Utara

Tulisan Lengkap, klik ini:


Thursday, April 5, 2018

Koloni Kusta: 'Molana', P. Molana, Maluku


Dari Ambon menuju P. Molana, kemudian ke Saparua.
Penulis duduk nomer 2 dari depan 2003

Perjalanan ke pulau-pulau sekitar pulau Ambon, harus diperhitungkan, kapan ombak kecil dan aman kapan ombak bersar terjadi. Orang lokal sudah tau persis, maka setiap orang baru yang bepergian ke pulau-pulau harus minta penjelasan dan nasehat dari penduduk lokal. Untuk mencapai P. Molana dan Saparua, kami harus berangkat selepas subuh. Angin masih normal, gelombang normal, enak dalam perjalanan. Angkutan waktu kunjungan (2003), pada umumnya dengan perahu motor kecil seperti gambar di atas.

Inventarisasi dilakukan pada tahun 2003.

Informasi Umum

Menurut buku-buku kusta di Subdit Kusta Jakarta, Koloni Kusta Molana didirikan pada 1856. Tidak menemukan dokumen tentang sejarah koloni kusta di Dinas Kesehatan Ambom. Dokumen pasti ada, cuma waktu terbatas untuk buka-buka arsip.

Pada saat kunjungan, tidak ada lagi Koloni Kusta di P. Molana. Menurut orang-orang yang tinggal di sana, orang yang terkena kusta telah dipindahkan semua ke pulau Saparua dan Koloni Molana ditutup. Tidak jelas kapan tepatnya pemukiman Molana ditutup dan kapan pasien kusta dipindah ke P. Saparua. Ide semua membuat koloni kusta di P. Molana ialah untuk mengisolasi penderita kusta secara ketat, karena belum diketahui dan belum ada obatnya. Tetapi setelah ada obatnya, maka isolasi ketat ditiadakan, semua pasien kusta dipindah ke P. Saparua. Dasar pemikiran memilih Saparua juga untuk mengasingkan dan mengobati kusta. Pemikiran pada waktu itu Saparua cocok untuk koloni kusta, cukup jauh dari kota, jauh dari Ambon, sulit bepergian dan sulit keluar dari pulau.  

Karean tida ada koloni kusta, penulis kemudian bicara-bicara dengan orang lokal.
Menurut mereka, orang-orang disana sudah lupa kalau dulu ada koloni kusta di P. Molanan. Sekarang  di P. Molana akan dibangun bungalow-bungalow untuk tempat peristirahatan dan rekreasi. Pantainya indah, pemandangannya bagus, di areal pulau yang kecil itu biasa dibuat tempat rekreasi.


Pantai P.. Molana, 2003
Bungalow sedang dibangun di pantai P. Molana (2003)


Bersambung......ke Koloni Kusta Saparua.

Tulisan Lengkap, klik ini:

Wednesday, April 4, 2018

Koloni Kusta, Maluku


Inventarisasi dilakukan pada tahun 2003.

Menurut catatan lama ada 3 koloni kusta di prov Maluku. Ke 3 koloni ini telah dikunjungi sewaktu inventarisai.

1. Koloni Kusta Wainatu Ambon
2. Koloni Kusta P. Molana
3. Koloni Kusta P. Saparua

Koloni Kusta Wainatu dulu disebut juga RSK Wainatu

Puskesmas Benteng, 2003

Sejarah Singkat RSK Wainatu

Dalam buku Penyakit kusta di Indonesia Depkes RI 1980, dicatat RSK ini telah berfungsi sejak tahun 1833 sampai pendudukan Jepang Indonesia (1942). Setelah kemerdekaan Indonesia, RSK ditutup tetapi klinik kusta masih dalam fungsi dan diberi nama Klinik Kusta Benteng.

Pada waktu kunjungan, tidak menjumpai adanya Klinik Kusta Benteng. Dibekas tempat itu telah dibangun Puskesmas dengan nama Puskesmas Benteng. Pak David Silanno (65) mantan staf Klinik Kusta Benteng mengatakan bahwa klinik itu berfungsi dari tahun 1964 sampai tahun 1983. Semua pasien kusta di Wainatu dipulangakan ke tempat asalnya., dan dianjurkan kalau ada masalah datang berobat jalan di Puskesmas. Ada sekitar 100 penderita kusta terdaftar untuk pengobatan di klinik. Pak David adalah Pekerja Kusta yang bertanggung jawab untuk pengobatan kusta di klinik. Menurut dia pasien berasal dari tempat yang berbeda, datang ke klinik untk pengobatan rawat jalan.

Sejak tahun 1983 Klinik Kusta ditutup dan dibangun Puskesmas. Penderita kusta dilayani secara terintegrasi di Puskesmas (rawat jalan). Tahun demi tahun jumlah pasien datang ke klinik menurun.
Menurut pak Davit, sekarang hanya tinggal 8 orang yg berobat jalan di Puskesmas. Pak David telah pensiun pada tahun 1995 tetapi masih diteruskan bekerja di Puskesmas.

Bersambung......Koloni Kusta P. Molana

Tulisan Lengkap, klik ini: