Showing posts with label Aceh Koloni. Show all posts
Showing posts with label Aceh Koloni. Show all posts

Saturday, February 3, 2018

5. Podiamat - Aceh

Perkampungan Kusta Podiamat
www.berimbang43.com  Label: Aceh Koloni

5. Po Diamat Koloni Kusta - Aceh

Po Diamat koloni kusta didirikan oleh Belanda pada tahun 1960. Perumahan dan biaya hidup diberikan oleh Belanda sampai tahun 1965. Setelah tahun ini tanggung jawab diambil alih oleh pemerintah daerah Kabupaten Aceh Besar. Kabupaten Aceh Besar kemudian menyerahakan kepada pemerintah Kota Banda Aceh. Tanggung jawab kemudian mengambil alih oleh Kota Aceh Besar. Kota Aceh Besar menyediakan subsidi dengan ransum terdiri dari 15 kg beras per pasangan, uang tunai Rp 3000 per kepala per hari. Donasi juga berasal dari Departemen Sosial seperti minyak goreng 7 ons, z, ikan asin 2 kg dan beras setiap 3 bulan. sumbangan ini masih dilanjutkan sampai terjadi tsunami.
Koloni Kusat telah rusak parah, desa telah menghilang seperti yang ditunjukkan gambar di bawah:

Penduduk:
Sebelum tsunami 2004, tercatat 140 penghuni dalam 72 pasangan. Di antara mereka 12 orang pasien mantan kusta. Pasca tsunani, tercatat 71 penghuni dalam 28 pasangan. Pasien mantan kusta tetap 10. Segera setelah tsunami semua penduduk yang tersisa tinggal di kamp sementara di depan masjid Jamik Darussalam. Pada saat kunjungan beberapa dari mereka sudah meninggalkan barak, mereka pergi ke tempat lain untuk mencari tempat tinggal dan kebutuhan hidup sambil menunggu arahan dari Pemerintah.

Sampai di sini selesai tulisan koloni kusta untuk provinsi Aceh.

Bersambung ..... Provinsi Sumatera Utara

Tulisan Lengkap, klik ini:

Friday, February 2, 2018

4. Kolam Natam - Aceh

Kolam Natam
www.berimbng43.com  Label: Aceh Koloni.


Desa Purwadadi sekitar 10 KM dari Kutacane
Koloni kusta Kolam Natam terletak sekitar 5 KM dari Puskesmas Natam.
Sejarah Kolam Natam didapat dari penjelasan Bapak Nababan yang merupakan Koordinator Sumbangan untuk Koloni Kusta. Nababan bekerja untuk Gereja di Leuwi Desky Dan juga sebagai kepala Klink kesehatan termasuk Penderita kusta.
Penjelasan pak Nababan:
Selama pendudukan Belanda di Indonesia, penderita kusta di Aceh Tenggara harus diisolasi di desa Purwadadi, sekitar 10 Km dari Kutacane ibukota Kabupaten Aceh Tenggara. Bantuan Belanda mencakup biaya hidup dan perumahan dan dikelola sendiri oleh Belanda. Pemerintah daerah berpikir bahwa lokasi kusta ini perlu dipindah ketempat lain karena untuk perkembangan kota dan adanya stigma kusta. Pemerintah menyediakan lahan di Kolam Natam 6 KM dari Purwadadi. Pastor EA M Raessens dari Gereja Lewidesky degan dana Gereja membangun perumahan di Lahan Yang disediakan oleh Pemerintah pada tahun 1971. Dipindahkan secara bertahap dan pada tahun 1972 semua penghuni koloni telah dipindahkan ke Koloni Kolam Natam.  Beberapa pasien telah meninggal dan beberapa ada yang baru masuk ke Kolam Natam. Tercacat ada 146 penghuni dengan 68 pasangan.
Menurut pak Nababan Gereja menyediakan beras, uang Rp. 30.000 per bulan per pasien. Untuk pasien cacat mendapat tambahan Rp 20.000 per bulan. Pakaian diberikan 2 kali setahun.
Pengamatan dan periksaan penyakit:
Banyak pasien dengan ulkus plantaris, beberapa kiting jari pada tangan dan kaki. Anak-anak bersekolah di sekolah umum. Biaya sekolah terasa sangat tidak mencukupi. Koloni ini tidak terkena tsunami tahun 2004.
Pada kesempatan kunjungan dilakukan wawanicara lansung kepada 2 orang mantan kusta tentang penyakitnya secara singkat.
Mantan kusta I:
Laki-laki, umur 62 Tahun.
Menurut penuturannya:
Saya lahir pada tahun 1943. Ketika saya berumur 25 tahun, saya jatuh sakit. Saya menemukan banyak bercak putih mati rasa di badan saya dan bercak merah di wajah saya.  Pertama kali saya berobat ke dukun tetapi tdak sembuh. Saya telah menikah ketika saya masih 19 tahun. Kami punya satu anak, tapi meninggal berumur 3 tahun. Orang-orang di desa saya tahu bahwa saya sakit kusta. Mereka menyarankan saya untuk pergi pemukiman Lausimomo (perkampungan kusta di Sumatera Utara) untuk mendapat pengobatan. Saya ikuti, dan saya diterima di sana. Saya mendapat pengobatan  dengan suntikan Promin dan DDS. Beberapa tahun kemudian saya kembali ke desa saya untuk bersatu kembali dengan  istri saya. Tetapi kami ditolak untuk tinggal di desa kami oleh masyarakat.
Pada tahun 1971 saya dan istri pindah ke pemukiman Purwodadi. Saya pernah mengalami reaksi, kulit bengkak-benkgak, kemudian jari jari-jari saya menjadi cacat (kiting). Pemerintah memindahkan seluruh penghuni dari Purwodadi ke pemukiman Kolam Natam pada tahun 1972. Sejak itu kami telah tinggal di sini. Saya menerima biaya hidup yang sama dengan orang lain. Istri saya tidak mendapat jatah karena ia tidak sakit kusta.
Mantan kusta II:
Wanita berusia 65 Tahun
Menurut penuturannya:
Saya sakit ketika saya berumur 20 tahun. Saya menemukan banyak bercak putih seperti panu pada tubuh saya dengan hilang rasa pada bercak. Atas kemauan saya sendiri pergi ke penkampungan kusta Purwodadi dengan suami dan 2 anak saya. Suami saya meninggal 6 bulan kemudian. Kami mengikuti program Pemerintah dan pindah ke Kolam Natam pada tahun 1972. Pada tahun tahun 1982 saya diberi obat  MDT selama 2 Tahun.
 Bersambung......Podiamat
Tulisan Lengkap, klik ini:

Thursday, February 1, 2018

3. Kuala Keretau Barat - Aceh

Perkampungan Kusta Kuala Keretau Barat
www.berimbang43.com   Label: Aceh Koloni.

Kunjungan pada tahun 2005.
Keadaan koloni kusta Kuala Keretau Barat setelah  tsunami 2004.
Nama asli leprosaria adalah Koloni Kusta Kuala Keretau, kemudian diubah menjadi Kuala Keretau Barat. Perkampungan tidak ada lagi, sudah disapu tsunami.

Bekas perkampungan Kuala Keretau Barat, setelah tsunami


Sejarah Koloni Kusta

Kuala Keretau terletak di Kemukiman Mayang, Jerat, Kecamatan Tanah Pasir. Terletak sekitar 25 KM dari Lhoksemawe ibukota kabupaten Aceh Utara.
Tidak ada dokumen yang ditemukan tentang sejarah koloni kusta. Sejarah Koloni Kusta dinyatakan berdasarkan wawancara dengan Pak Tengku M. Yusuf, salah seorang pemuka dari penghuni barak.

Koloni Kusta dibangun oleh Belanda. Tanah disediakan oleh Pemerintah. Rumah-rumah dan biaya hidup disediakan oleh Belanda. Selama pendudukan Jepang biaya hidup diteruskan. Menurut cerita orang, Jepang mengeluarkan peraturan yang sangat ketat. Penderita kusta tidak diizinkan untuk pergi keluar dan orang normal tidak diperbolehkan masuk koloni kusta. Mereka membangun dinding pemisah di sekitar koloni kusta.

Setelah kemerdekaan Indonesia, koloni Kusta diserahkan kepada Wedana Lhoksemawe. Koloni Kusta dibuka, terintegrasi untuk orang normal. Ada 35 pasangan dengan 42 jiwa. Semua dari mereka adalah (mantan) penderita kusta. Sejak tahun 1965 pemerintah tidak memberikan biaya hidup lagi. Beberapa dari mereka meninggalkan koloni kusta beberapa dari mereka meninggal. Menurut catatan jumlah kusta menurun menjadi 15 pasien. Selama periode Presiden Soeharto, pemerintah menyediakan ransum dalam bentuk paket terdiri dari beras, kopi, teh, gula, ikan asin, sabun, dan minyak goreng. Kemudian jumlah pasien dan orang sehat meningkat pada koloni.

Selama periode Presiden Abdurrahman Wahid, ransum diubah menjadi uang. Setiap pasien kusta mendapat Rp 10.000 per bulan. Di Tanah Puskesmas Pasir, tercatat 219 jiwa pada tahun 2004. Sebelum tsunami ada 27 penderita kusta, setelah tsunami tinggal 11. tercatat 47 pasangan terdiri dari 156 penduduk dalam koloni tsb. Berdasarkan angka ini ada 63 orang meninggal atau hilang, di antara mereka 16 adalah penderita kusta.


Barak penampungan umum, belum dihuni sampai pada waktu kunjungan.
Takut bertetangga dengan barak kusta?


Barak khusus menampung penghuni koloni kusta Kuala Keretau Barat

Sebagian besar penghuni koloni kusta tidak suka lagi tinggal di bekas koloni kusta, tapi bagi mereka harus yakin bahwa tanah dan pasca taman tsunami yang tersisa harus milik mereka. Mereka suka tinggal di Ketapang yang berjarak sekitar 2 KM dari koloni kusta karena masyarakat di sana menerima mereka. Sekarang semua penduduk dari Kula Keretau Barat tinggal di barak baru yang dibangun oleh pemerintah.

Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka bosan tinggal di barak, terutama perempuan. Mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah sama dengan pengungsi lainnya. Sebelum tsunami pada umunya pekerjaan mereka adalah laki-laki mengkap ikan dan perempuan menganyam tikar.
Mereka berharap agar dapat bantuan untuk modal menangkap ikan dan menganyam tikar.

Bersambung......Koloni Kolam Natam

Tulisan Lengkap, klik ini:

Wednesday, January 31, 2018

2. Matang Limeng-Aceh

Perkampungan Kusta Matang Limeng
www.berimbang43.com  Label: Aceh Koloni.


Bekas Koloni Kusta Matang Limeng yang telah disapu tsunami, 2004

Nama yang benar dari Leproasium adalah Matang Limeng. Dalam Dr. Zuiderhook menyebutkan bahwa dua leprosaria di Kecamatan Samudera Aceh Utara yaitu Geudong dan Kuta Krueng. Pada kenyataannya hanya satu rumah sakit lepra disebut Matang Limeng. Matang Limeng Leprosaium terletak di Desa Kuta Krueng, Kemukiman Blang Me, Kecamatan Samudera. Geudong adalah ibukota Kecamatan Samudera.
Matang Limeng terletak sekitar 35 Km dari Lhoksemawe ibukota Kabupaten Aceh Utara. Sebelum tsunami dilaporkan bahwa ada 32 pasangan, 44 (ex) kusta, dengan total 110 penduduk yang tinggal koloni. Ada 44 orang (10 penderita kusta dan 14 non-kusta) meninggal atau hilang selama tsunami. Saat ini, jumlah penduduk yang 86. Pada waktu kunjungan (2005) tidak ada lagi perkampungan, hanya bekas-bekas yang tampak, telah dilanda tsunami tahun 2004.
Jumlah penduduk adalah 86 terdiri dari 34 mantan pasien kusta dan 52 normal. Mereka tinggal di barak-barak sementara di desa yang normal di dekatnya. Barak ini disediakan oleh orang-orang desa dari bangunan tua. Ada barak baru yang dibangun oleh pemerintah untuk pengungsi termasuk dari Koloni Matang Limeng yang diberi nama Barak Beringin. Menurut orang-orang dari Koloni Kusta, mereka tidak diminta untuk pindah ke yang barak umum, mungkin orang normal tidak ingin tinggal bersama-sama dengan mereka. Oleh karena itu mereka ingin tinggal di barak sementara mereka sekarang. Sebagian dari mereka ingin kembali ke tempat asal mereka. Mereka mengusulkan kepada Pemerintah untuk membangun perumahan di lokasi yang sama dengan bekas koloni kusta. Ex-Matang Limeng setelah tsunami

Masalah membangun kembali di lokasi semula terlalu dekat dengan laut. Untuk membangun perumahan harus mengikuti PRINT BIRU dikeluarkan oleh pemerintah.

Bersambung........ke Kuala Keretau Barat

Tulisan Lengkap, klik ini:

1. Pangwa Koloni Kusta-Aceh

1. Pangwa Koloni Kusta-Aceh
www.berimbang43.com   Label: Aceh Koloni



Barak penampungan  penghuni koloni kusta Pangwa korban tsunami, 2004


Pangwa terletak sekitar 35 KM dari Sigli ibukota Kabupaten Pidie Provinsi Aceh. Penghuni dari Pangwa dievakuasi dan ditempatkan di barak terdekat segera setelah tsunami. Puskesmas terdekat Puskesmas Ting Gading. Menurut Mr Badaruddin Ismail, Kepala Desa setempat di barak ada Post  Kesehatan yang disediakan oleh Pemerintah. Hanya dibuka 3 kali seminggu dan ada kekurangan obat.

Sejarah Koloni Pangwa
      
Tidak ada dokumen yang ditemukan di kantor kesehatan kabupaten mengenai koloni Kusta Pangwa Sejarah Pangwa ini ditulis berdasarkan wawancara dengan salah satu mantan pasien kusta yang usia sudah tua yang juga tinggal di barak.

Pak Abdulatif Nurdin, 73 tahun menceritakan sejarah Pangwa:

Zaman Belanda:

Koloni Kusta Pangwa dibangun oleh Belanda pada tahun 1914. Ada sekitar 70 rumah yang dibangun untuk pasien kusta. Pada waktu itu penderita kusta ditangkapi dan dikirim ke koloni, karena penderita kusta harus diisolasi. Semua biaya hidup yang diberikan oleh Belanda. Penderita kusta diobati dengan stibopen dan chaulmoogra. Belum ada DDS pada itu.

Jepang periode (1942 - 1945): Jepang melanjutka kebijakan Belanda.
Bantuan biaya hidup diteruskan dan pengobatan kusta tetap sama stibopen dan chaulmogra.

Setelah kemerdekaan Indonesia


Koloni Kusta Pangwa yang sudah tersapu tsunami

Koloni kusta diserahkan kepada pemerintah. Koloni Kusta Pangwa kemudian menjadi milik Wedana (Kabupaten). biaya hidup yang masih baik dan terus. Selama periode Presiden Soeharto, biaya hidup diberikan dalam bentuk paket ransum. Satu paket terdiri dari beras, minyak goreng, sabun, gula, teh, dan susu.

Pengobatan kusta diubah menjadi DDS sejak tahun 1952. Pada tahun 1982 pengobatan untuk kusta disediakan oleh WHO yaitu Rifampisin, Dapson dan Lamprene (MDT) dalam bentuk lepas (tidak dikemas dalam bentuk bilster). Sejak tahun 1998 biaya hidup untuk kusta berkurang, setiap pasien kusta hanya mendapat Rp. 10.000 per bulan. Para pasien kusta harus bekerja untuk penghasilan tambahan seperti menjadi cari ikan ikan, ternak ayam, membuat tikar.

Statistik penduduk sebelum tsunami: Jumlah penduduk adalah 209 terdiri dari 30 (ex) penderita kusta dan 179 orang sehat. Ada 41 orang hilang atau meninggal selama tsunami (semua dari mereka adalah orang-orang yang sehat. .Mereka tinggal di kamp-kamp selama sekitar 2 bulan. Sekarang mereka tinggal di barak baru. Barak yang disediakan hanya untuk penduduk dari Pangwa. Hal ini ditulis di depan barak “Posko Pengungsian Perkampngan kusta kusta” . Saat kunjungan ada 58 pasangan, pasien 30 mantan kusta dengan total penghini 168 tinggal di barak. Proporsi penderita kusta adalah 18%. Ada 35 anak-anak. Semua anak-anak bersekolah di sekolah-sekolah terdekat. Mayoritas dari mereka lebih memilih untuk kembali ke desa asal mereka. Mereka membosankan tinggal di barak. Mereka tidak memiliki pekerjaan. Mereka tergantung pada sumbangan di mana mereka merasa tidak cukup.

Bersambung.......ke Matang Limeng

Tulisan Lengkap, klik ini:

Monday, January 29, 2018

Koloni Kusta di Provinsi Aceh

www.berimbang43.com  Label: Aceh Koloni

Kusta Provinsi Aceh



Inventarisai pemukiman kusta atau koloni kusta di seluruh Indonesia terjadwal pada tahun 2003. Pada saat itu inventarisasi untuk provinsi Aceh tidak bisa dilakukan karena alasan keamanan. Tapi setelah bertahun-tahun kemudian akses ke provinsi Aceh baik dan dijamin aman. Penulis menggunakan kesempatan untuk melakukan inventarisasi pada tahun 2005 setelah BencanaTsunami (2004) terjadi. Tercatat ada 5 Koloni Kusta di Provinsi Aceh yaitu:

1.  Pangwa
2.  Matang Limeng
3.  Kuala Keretau Barat
4.  Kolam Natam
5.  Po Diamat

Hanya satu Koloni Kusta (Kolam Natam) yang tidak rusak dalam peristiwa bencana tsunami 26 Des 2004. Empat lainnya, rusak berat. Penderita kusta dan anggota keluarga mengikuti instruksi dari Pemerintah untuk bergabung dalam grup yang di evakuasi (Internally Displaced Persons - IDP). Waktu kunjungan saya, 4 penghuni koloni dievakuasi dan ditempatkan di barak-barak.

Bersambung.....Koloni Kusta Pangwa.
Tulisan Lengkap, klik ini: