Showing posts with label Sulsel Koloni. Show all posts
Showing posts with label Sulsel Koloni. Show all posts

Wednesday, March 21, 2018

Koloni Kusta Kalang-Kalang, Sulsel


Informasi umum

Koloni Kusta Kalang-Kalang, terletak 4 kilometer dari kota Palopo, Berada di bawah kewenangan kabupaten Luwu, tetapi karena kabupaten ini adalah dalam proses untuk pemekaran 4 kabupaten, maka pemukiman akan menjadi milik kota Palopo.
Koloni Kusta Kalang-Kalang sebenarnya adalah rumah sakit kusta. Mempunyai klinik kecil di dalam 14 rumah tradisional, dalam kondisi sangat baik. Koloni terletak di atas lahan 1,2 ha. Rumah-rumah merupakan bantuan dari Departemen Kesehatan Kabupaten dan digunakan untuk orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) beserta keluarganya. Rumah-rumah ini berfungsi juga sebagai bangsal rawat inap RS. Bila ada pasien yang sakit serius diluar kompleks, ia dapat menggunakan salah satu rumah untuk perwatan. Batas pekampungan dengan sekitarnya tidak jelas. Penduduk asli Kalang-Kalang ada yang meninggalkan Kompleks dan membangun rumah sendiri di luar kompleks.
Total penghuni yang ada di dalam kompleks dan di luar komplek adalah 136 orang terdiri dari 35 keluarga. Dari total 136, orang yang pernah mengalami kusta ada 53 orang.  Mereka hidup dari bantuan Pemerintah Rp 60.000 per bulan per orang, yang bila dibandingkan dibandingkan dengan koloni lainnya cukup banyak, tapi masih tetap merasa tidak cukup untuk hidup.
Ada sebuah pabrik batu bata kecil di Kalang-Kalang terpaksa tutup karena tanah sebagai bahan dasar dibeli di luar. Ada peraturan yang dibuat mereka, dilarang mengemis. Bila ada yang melanggar peraturan, harus keluar dari koloni.
Pekerjaan meraka adalah perdagangan kecil-kecilan, dan pertanian untuk menambah kebutuhan hidup.

Perumahan ini sangat bersih dan rapi. Poliklinik, Kantor kecil dan sebuah Masjid semua baik dan berfungsi. Penderita kusta yang lama semua sudah dionati MDT dan sudah sembuh. Pada saat kunjungan (2003), ada 3 penghuni baru masih di MDT. Pasien yang baru masuk adalah sebagian besar berasal dari daerah yang jauh untuk mencari pengobatan di Kalang-Kalang. Mereka hanya harus meminta izin dari kepala Klinik, dan pada umumnya disetujui, kemudian ditampung di salah satu rumah dengan keluarga lain.


Layanan medis

Kalang-Kalang adalah rumah sakit kusta, yang telah dilengkapi dengan pemukiman kusta. Klinik mempunyai 3 kamar, untuk pengobatan di tempat tidur, tetapi kenyataannya diambil oleh seseorang terkena kusta, yang tinggal di sana secara permanen. Hal yang sama berlaku untuk 14 rumah, yang berfungsi sebagai bangsal dengan 43 tempat tidur. Jika seseorang baik dari kompleks dalam atau luar jatuh sakit yang serius, yang memerlukan perawatan, tempat tidur nya sendiri berfungsi sebagai bangsal rawat inap. Dalam kasus pasien baru membutuhkan perawatan, tidak ada masalah, dapat menggunakan tempat tidur yang tersedia.

Klinik ini dipimpin oleh pak Aena Tjatjo, yang dibantu oleh dua perawat permanen Mereka  dipekerjakan oleh Departemen Kesehatan kabupaten. Empat perawat tambahan, seorang dokter dan dokter gigi dari Puskesmas Wara Utara bekerja secara bergiliran di klinik. Menurut kepala Puskesmas, akan lebih efisien jika klinik dikelola secara penuh oleh Puskesmas.
Luka dan reaksi dapat diobati di klinik, termasuk penyakit umum. Operasi septik atau rekonstruksi tidak, sepatu khusus atau kaki palsu tidak tersedia tetapi harus dipesan di rumah sakit kusta Daya,Makassar.
Pasien non-kusta dari luar juga dapat menggunakan klinik, tetapi hanya sebagai poliklinik dan terbatas hanya selama jam buka.

Riwayat hidup.

Dua orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) di wawanicarai, di bawah ini adalah penuturan riwayat hidup mereka.

OYPMK-1
Wanita umur 63 tahun




Saya mulai mengetahui ada bercak-bercak di kulit saya waktu saya masih sekolah SD. Saya tidak tahu apa yang menyebabkannya. Orang tua saya pikir mungkin karena sesuatu yang saya makan. Mereka membawa saya ke dukun di desa kami. Oleh dukun saya disarankan setiap hari menggosok kulit saya dengan campuran daun dan kapur. Sakit saya semakin parah, bercak bertambah, bercak kemerahan ada juga di wajah saya. Guru sekolah saya tidak melarang saya masuk sekolah. 

Saya tetap tidak bisa mengerti apa penyakit saya. Waktu berlalu dan jari-jari saya mulai menjadi bengkok. Masih tidak jelas apa jenis penyakit saya. Ketika saya berumur 14 tahun, pada tahun 1954, seorang dokter dari jauh datang ke desa kami. Dia melihat saya dan didiagnosis saya kena kusta. Mengetahui hal ini, camat memutuskan bahwa saya harus pergi ke pemukiman kusta. Orang tua saya setuju karena mereka pikir para tetangga tidak ingin saya tinggaldideas kami, meskipun ibu dan ayah saya sangat sedih dan tidak ingin saya pergi meninggalkan mereka.

Saya dibawa ke Kalang-Kalang pada tahun 1955. Pada saat itu banyak orang tinggal di pemukiman, lebih dari 200 penderita kusta. Ketika saya sudah di sana, saya merasa seperti anak-ayam kehilangan induk. Tapi untungnya ada sebuah keluarga yang membawa saya ke rumah mereka dan mereka merawat saya seperti saya adalah anak mereka sendiri. Saya tinggal bersama mereka sejak itu dan mereka menjadi keluarga saya. Tetapi saya selalu kontak dengan keluarga kandung saya juga. 1967 saya menikah dengan seorang pria dari Kalang-Kalang. Setelah saya melahirkan anak pertama saya mengunjung orang tua sekali gus minta bantuan beras. Orang tua saya datang untuk mengunjungi saya juga.Ibu saya minggal di sini di Kalang-Kalang pada waktu mengunjungi kami. 

Kami memiliki dua anak, laki-laki dan seorang perempuan. Yang perempuan meninggal karena sakit guna-guna karena ia menolak cinta seorang pria. Sekarang saya  tinggal bersama anak dan cucu-cucu saya. Pada tahun 70-an saya belajar membaca Al Quran lagi dan mempelajariny. Ketika saya masih kecil di desa, ayah saya telah mengajarkan saya membaca Al Quran. Ketika seorang guru agama datang ke Kalang-Kalang, saya memanfaatkan kesempatan dan belajar dari dia.Saya harus membayar Rp 50.000 untuk 1 bualan. Tapi setelah itu, saya bisa belajar diri sendiri. Sekarang saya mengajar anak-anak dari Kalang-Kalang dan juga dari luar. Saat ini saya memiliki 50 murid. Untuk anak-anak di dalam Kalng-Kalang, tidak membayar, hanya 5 anak-anak dari luar membayar saya Rp 5000 per bulan. Saya ikhlas, saya senang bersama-sama dengan anak-anak dan mengajarkan mereka. Mereka juga senang membantu saya, misalnya untuk mengambil air dari sumur, mecari kayu bakar dlll. 

Saya senag dan ingin tetap tinggal di Kalang-Kalang. Kemana lagi saya harus pergi? Saya tidak punya masalah dengan orang-orang dari luar, meskipun sering terjadi orang-orang di pasar takut dengan saya dan tidak ingin datang dekat. Hanya inilah kendala bagi saya bila ingin belanja kepasar. 


OYPMK-2
Pria umur 57 tahun


Waktu saya di SMP, saya tinggal bersamam orang tua saya di Palopo. Tetapi karena para gerilyawan Kahar Muzakkar itu terlalu berbahaya untuk tinggal di sana, jadi kami pindah kembali ke desa tempat saya dilahirkan (Belopa).Tapi ayah saya pergi ke Makassar. Selang berapa lama, saya mengikutinya untuk masuk SMA di Makassar. Kemudian di Belapo dibuka sekolah SMA, maka saya pulang lagi dan sekolah di Belapo, untuk 2 tahun lagi. Pada usia saya sekitar 19 tahun, saya kena kusta. Di wajahku ada bercak-bercak dan saya langsung tahu itu kusta, karena saya pernah melihat orang terkena kusta di Makassar.

Saya berhenti sekolah karena saya merasa sangat malu. Saya ingin mendapat pengobatan yang baik, saya pernah membaca tentang pengobatan yang baik di RS Sitanala Tangerang. Saya berkeinginan kuat untuk pergi Tangerang. Saya juga tahu tentang RSK Jongaya di Makassar, tapi saya pikir bahwa dalam pengobatan Jawa pasti akan lebih baik daripada di di Sulawesi. Aku memohon orang tua saya memberi saya uang untuk perjalanan, dan kemudian pergi ke Makassar untuk menemukan kapal dengan tujuan Jawa. Sepupu saya di Makassar khawatir tentang keinginan pergi jauh, tinggal di sana untuk waktu yang tidak ditentukan, tanpa seizin diketahu keluarga. Dia melarang saya untuk pergi, dan membawa saya ke RSK Jongaya sebagai pilihan terbaik. Saya tinggal di RSK Jongaya selama setengah tahun, mendapatkan pengobatan dengan Promin. Setelah itu saya pindah ke Kalang-Kalang, dekat dengan kampung halaman saya, di mana saya bisa melanjutkan pengobatan pertama dengan Promin, kemudian dengan DDS. Saya tidak memiliki cacat apapun, dan setelah 2 tahun orang tua saya minta supaya saya pulang. Saya sembuh dan tidak perlu mengambil obat apa pun lagi.Tapi aku tidak ingin pulang karena semua orang tahu bahwa saya adalah seorang pasien kusta. Saya cari kerja, dan mendapat pekerjaan di sebuah kapal dan berlayar di sekitarSulawesi, Ke Kendari, Kolaka, Bone dan Sinjai. Saya tidak punya masalah sama sekali, tak ada yang tahu tentang masa lalu saya. 

Sayangnya saya mendapat reaksi, yang secara langsung menyebabkan jari-jari saya menjadi lumpuh dan bengkok. Aku harus meninggalkan kapal, dan kembali ke Kalang-Kalang. Reaksi tidak diobati, mereka mengatakan cukup istirahat saja untuk sementara waktu, tapi kemudian saya diberi DDS lagi.

Pada tahun 1985 saya pergi ke RSK Daya untuk pertama kalinya, karena ada luka di kaki saya harus dibersihkan dan dirawat. Saya akhirnya tinggal di sana selama 5 tahun, kemudian pada tahun 1990 saya kembali ke Kalang-Kalang. 

Selama saya di RSK Daya, saya mendapat kesempatan ke Tangerang inkut rombongan dalam rangka PORPENTANAS (Pekan Olah Raga Penyandang Kusta Nasional), pada tahun 1988. Ini adalah sebuah acara yang disponsori oleh Asosiasi untuk Pekerjaan Sosial, dengan Mbak Tutut - putri sulung presiden Suharto (sebagai pelindungnya). 
Mbak Tutut membantu PORPENTANAS dua kali, yang pertama di Tangerang dan yang kedua di Makassar. Saya ikut pertandingan catur, selama 10 hari di Tangerang, sayangnya saya kalah. Soal kalah tidak ada masalah, yang paling penting bisa bersilaturrahmi dengan teman-teman sesama orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK), yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. 

Pada tahun 1992 saya menikah dengan seorang gadis dari Kalang-Kalang, tapi kami pisah karena ia meninggal. Saya memiliki anak angkat, anak laki-laki umur 10 tahun, anak dari keluarga OYPMK yang di tinggal di Makassar yang dan tidak mampu untuk membesarkannya. Dia pergi ke kelas dua sekolah dasar sekarang dan sehat.
Karena saya tinggal di Kalang-Kalang, saya selalu membantu dalam mengorganisir kehidupan di sini. Saya seorang pemimpin informal, tetapi orang mendengarkan saya. Saya masih berhubungan dengan kelurga saya tetapi saya tidak ingin kembali ke keluaraga.

Saya masih sering pergi ke RSK Daya untuk menjalani opersai. saya telah dioperasikan 14 kali di RSK Daya, tetapi jarijari tangan dan kakai saya sudah terlanjur aday yang putus.
Saya berencana untuk pergi ke RSK Daya lagi dalam waktu sekitar sebulan untuk perawatan luka. Selama saya tinggal lama di sana, saya belajar bagaimana untuk mengobati luka, merendam kaki dll. Pengetahuan dari RSK Daya ini saya praktekkan di Kalng-Kalang, namun kurang berhasil, masalahnya saya harus bekerja keras dan tidak bisa beristirahat. Saya dulu bekerja di pabrik batu bata di kompleks, tapi karena itu ditutup, saya sekarang kerja apa saja di perkampungan. Saya tidak b isa bekerja diluar perkampungan karana cacat saya, kemampuan fisik saya juga sangat terbatas.
Saya masih mendapat bantuan dari orang tua dan bantuan dari Pemerintah.

Inilah akhir tulisan di Provinsi Sulse, Bersambung.....ke Koloni Kusta Provinsi Utara 

Catatan:

Mengingat luasnya wilayah yang akan saya kunjungi dalam batas waktu yang ditentukan, maka beberapa koloni kusta di prov Sulawesi Salatan, tidak sempat saya kunjungi. Saya dibantu oleh Kersti Beise (Konsultan Disability And Rehablitation NLR). Kami sama-sama bekerja dulu di NLR. Kerstin membuat laporan dalam bahasa Inggris dan saya interptetasikan dalam bahasa Indonesia dalam tulisan ini. Kerstin Beise memakai baju kaus kuning dalam gambar di bawah ini.


Foto di ambil dari Koloni Laringgi

Tulisan Lengkap, klik ini:

Monday, March 19, 2018

RSK/Koloni Kusta Batu Lelleng, Sulsel


Informasi umum

Koloni Kusta berada disekitar RSK Batu Lelleng. Perkampungan ini terletak sekitar 17 km dari Makale, ibu kota kabupaten Tana Toraja, dan sekitar 310 km dari Makassar. Koloni dibangun di atas lahan seluas 10 hektar pada masa pendudukan Belanda pada tahun 1941, dan secara resmi dibuka pada tahun 1943. Koloni Batu Lelleng adalah milik dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Tana Toraja / Depkes.
Pada saat kunjungan (2003) ada 110 orang yang terkena kusta dari total 203 orang penghuni perkampungan.
Dr Marsuki adalah kepala RSK Batulleng, juga membawahi koloni. Menurut dia, subsidi pemerintah daerah untuk biaya hidup penderita kusta ada sekitar 36 juta rupiah pada tahun 2002. Juga dialokasikan paket Jaminan Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) dari Pemerintah sejumlah 100 juta rupiah per tahun. Gereja Toraja dan organisasi Belanda menyumbangkan biaya sekolah untuk anak-anak. Kadang-kadang, masyarakat menyumbangkan paket beras, gula, susu, mie dll Mayoritas penderita kusta memiliki cacat dan sangat tergantung pada bantuan donasi.
Tanah dan rumah masih milik pemerintah. Bangunan ini tidak seperti rumah sakit yang biasa; pasien dapat tinggal di sana dengan keluarga mereka.



Layanan Medis

Pelayanan medis berobat jalan (out patient deparment-OPD) dilakukan oleh seorang paramedis di bawah pengawasan Dr Marsuki. Tempat Rawat Inap (In patient department-IPD) mempunyai 67 tempat tidur dan selalu penuh terisi. Bangunan tidak seperti bangsal biasa, tetapi terdiri dari sekelompok rumah, di mana pasien tinggal dengan keluarga mereka. Oleh karena itu perbedaan antara pasien rawat inap dan rawat jalan tidak jelas.

Riwayat hidup

Dua orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) diwawanicarai tentang riwat hidup mereka kenapa samapai masuk koloni Batu Lelleng.

OYPMK-1, Laki-laki umur 66 tahun.


Saya lahir pada tahun 1936 di Nonggala Tator. Saya tumbuh seperti anak yang lainnya, saya menikah dan memiliki 4 anak. Ketika saya berumur 36 tahun, saya melihat banyak bercak putih dan merah pada kulit saya. Saudara saya menyarankan konsultasi ke RSK Batu Lelleng. Saya pergi ke sana dan didiagnosis kusta. Saya dan istri saya sangat terkejut atas diagnosis itu. Dokter memberi saya DDS dengan rawat jalan. Tapi penyakit saya semakin memburuk, jari-jari saya menjadi bengkok-bengkok (kiting). Setelah beberapa tahun, istri saya tidak tahan hidup dengan saya lagi, karena dia malu. Dia kembali ke orang tuanya dan meminta saya untuk menceraikannya. Kami bercerai pada tahun 1976. Kedaan sakit saya menjadi tidak stabil sejak it. Saya mengirim semua anak-anak saya kepada orang tua saya, dan saya pindah ke rumah sakit Batu Lelleng. Setelah satu tahun saya dinyatakan sembuh dan saya kembali ke orang tua saya. Kemudian kondisi saya memburuk dan lebih buruk lagi, dan pada tahun 1983 saya masuk Batu Lelleng lagi. Kesehatan saya tetap tidak stabil (naik turun), pada akhirnya saya dipindahkan ke RSK Daya Makssar. Di sana saya tinggal 1985-1990. RSK Daya menyruh saya untuk pulang karena tidak ada lagi indikasi medis tiggal di RS.
Saya pergi ke Palopo mencari pekerjaan dan tinggal di sana 1990-2000 dengan berbagai pekerjaan. Kemudian saya mencoba melamar pekerjaan dan tempat tinggal di rumah sakit Batu Lelleng. Untungnya saya diterima lagi. Sekarang saya bekerja di sini di cleaning service. Saya senang di sini dan saya tidak ingin meninggalkan rumah sakit ini lagi. Saya sangat bersyukur, semua anak-anak saya telah berhasil menyelesaikan pendidikan mereka. Terima kasih kepada orang tua saya, 3 anak-anak saya telah lulus dari Perguruan Tinggi, yang termuda masih di SMU sekarang.

OYPMK-2: Wanita umur 65 tahun


Saya lahir di Batu Allo, Sangalla, pada tahun 1937. Ketika saya berusia 20 tahun, saya melihat bahwa kulit wajah saya punya beberapa bercak merah dan bengkak. Tanda-tanda ini tidak hilang dalam waktu yang lama. Saya tidak merasa banyak terganggu karena tidak sakit dan tidak gatal. Suatu hari teman saya menyarankan untuk konsultasi RSK Batu Lelleng, karena menurut mereka saya mungkin kena kusta. Saya mengikuti saran nya dan terkejut ketika saya didiagnis menderita kusta. Teman-teman saya kemudian mulai menghindari saya, karena mereka takut. Saya telah menikah sejak saya umur 19 tahun. Ketika suami saya tau saya sakit kusta dia langsung menceraikan saya. Kepala Desa kami juga meminta supaya saya masuk RSK Batu Lelleng, dia sudah menyiapkan surat pengantar. Dengan surat ini saya diterima di rumah sakit pada tahun 1958 tanpa pembayaran. Saya diberi obat DDS, tapi kondisi saya menjadi lebih buruk dan saya menjadi cacat. Sejak itu saya pun putus dengan keluarga saya, saya tidak ingin kembali ke orang tua dan kerabat.

Suatu hari ada seorang pria yang juga mengalami kusta melamar saya. Saya setuju untuk menikah dengannya karena saya pikir kami memiliki nasib yang sama dan saya juga mencintainya. Rumah sakit memberikan kami satu rumah untuk tempat kami tinggal. Kami memiliki satu anak laki-laki, tapi dia meninggal saat ia berusia 13 tahun. Saya dan suami saya senang tinggal di sini dan saya tidak ingin kembali ke kampung halaman.

Bersambung....ke Koloni Kalang-Kalang (terakhir dari provinsi Sulsel)

Tulisan Lengkap, klik ini:

Sunday, March 18, 2018

Koloni Kusta Landipokki, Sulsel


Landipokki, tanda bintang nomer 8

Koloni Kusta Landipokki, Sulsel

Informasi umum

Perkampungan kusta Landipokki berlokasi di kab Polewali bertetangga dengan Kab Majene, didirikan di bawah pemerintahan Belanda sebelum tahun 1945. Koloni Teppo di kabupaten Majene sudah terlalu penuh, maka didirikan Koloni Kusta Landipokki di kabupaten Polewali untuk menampung penderita yang datang dari pegunungan atau dari kabupaten lain.

Pada waktu itu, perkampungan jauh lebih besar dan lebih baik bila dibandingkan dengan saat sekarang. Pemerintah melatih penduduk untuk menjadi tenaga kesehatan, sehingga mereka sebagian bisa merawat diri mereka sendiri. Saat ini banyak orang sudah sembuh tetapi telah meninggal atau meninggalkan pemukiman. Namun, sekitar 70 orang yang pernah mengalami penyakit kusta (OYPMK) masih tinggal di Landipokki, dari total jumlah penduduk sekitar 150 orang. Penduduk yang sehat (80) adalah anak-anak, cucu-dalam beberapa kasus dengan istri dan suami mereka yang kawin dengan orang sehat.
Luas pemukiman sekitar 3,5 hektar dikelilingi oleh sawah dan perkebunan. Koloni seperti desa kecil  di dilahan yang luas, tanpa batas lingkungan yang jelas. Oleh karena itu Landipokki terisolasi dari dunia di sekitar, jarak ke desa berikutnya adalah sekitar dua kilometer. Telah dibuat jalan dengan pengerasan batu menuju pemukiman yang bisa dilalui  mobil. Pemukiman ini terletak kira-kira 35 KM dari kota Polewali.

Rumah-rumah di Landipokki seperti pada umumnya, rumah kayu tradisional. Kehidupan mereka sebagian besar kurang memadai.  48 keluarga yang tinggal di 33 rumah, yang berarti bahwa ada lebih satu keluarga dalam satu rumah. Listrik tidak tersedia, benr-benar ketinggalan dari desa lain. Untungnya ada sistim irigasi yang dapat mengairi sawah yang berarti sumber air juga untuk Landipokki. Petugas kesehatan kabupaten  (wasor) membantu untuk membangun jamban keluarga dan penyediaan air bersih dengan cara tersendiri.


Setengah dari penderita kusta dari Landipokki hidup dari mengemis di Polewali atau kota-kota lain; sumber pendapatan lain adalah sedikit dari padi dan kebun, buruh membuat batu bata, tetapi tidak membawa banyak keuntungan karena kurangnya permintaan.


Penduduk lama yang terkena kusta, sudah selesai pengobatan, tapi masih ada pendatang baru dari waktu ke waktu, mencari pengobatan untuk sementara, tetapi tidak mau pulang dan tinggal di pemukiman. Mereka berasal dari daerah pegunungan, atau dari kabupaten lain dalam upaya menyembunyikan penyakit mereka dari keluarga dan teman-teman. Beberapa dari mereka ada yang mau kembali setelah pengobatan, tetapi ada yang tetap tinggal di Landipokki.


Untuk pindah ke pemukiman tidak memerlukan administrasi atau izin, cukup untuk melapor kepada kepala desa saja. Pendatang tinggal bersama salah satu keluarga lama, kemudian mereka dapat membangun rumah mereka sendiri. Orang yang meninggalkan Landipokki sebagian besar anak-anak yang sehat dari orang yang terkena kusta.


Landipokki adalah milik dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Polewali. Pemerintah tidak lagi memberikan bantuan kepada penghuni. Hanya selama ini bahwa Dr Rasydin, yang saat ini adalah direktur rumah sakit kusta di Daya /Makassar, dulu kepala dinas kabupaten mengalokasikan dana sebesar Rp 150.000 untuk semua penderita kusta setiap tiga bulan. Selain itu, pada tahun 1996 departemen sosial menyediakan 16 rumah baru, dan pada tahun 1999 membangun pembuatan batu bata.



Petugas berfoto bersama dengan penghuni 
koloni kusta Landipokki (2003)

Layanan medis


Tidak ada tersedia fasilitas kesehatan di Landipokki. Sebuah bangunan kecil untuk kegiatan sosial dibangun beberapa tahun yang lalu dengan bantuan dari wasor kabupaten, tetapi tidak digunakan, kosong.

Sebulan sekali tim dari Puskesmas (juru kusta, perawat dan bidan) mengunjungi pemukiman untuk perawatan kesehatan kusta dan umum.

Riwayat hidup


2 oarng yang pernah mengalami kusta (OYPMK) telah di wawanicarai.


OYPM-1

Pria berusia 45 tahun



Saya lahir di Tinambung, di Kabupaten Polewali. Saya tumbuh sebagai anak yang sehat dan bahagia dan pergi ke sekolah sampai kls 3. Tapi kemudian saya melihat ada bercak-bercak seperti panu, tidak sakit dan tidak gatal pada kulit dan wajah saya yang agak aneh. Orang tua saya membawa saya ke dukun, yang memberi saya beberapa obat tradisional, tetapi tidak bisa sembuh, karena tidak sakit, saya tidak terlalu mikirkan. Saya tetap pergi kesekolah. Tetapi penyakit itu tambah jelas dan mengganggu. Sekali lagi saya pergi ke dukun dan minum obat-obat-obatnya. tapi penyakit semakin parah dan saya berhenti sekolah. Sebaliknya saya mulai bekerja sebagai pekerja kopra. Saya jelas merasa sakit pada tahun 70-an. Saya tinggal di Tinambung sampai tahun 1980, saya sudah tahu dari masyarakat bahwa saya sakit kusta, keadaan ku sudah acacat, saya merasa malu. Saya pergi ke Landipokki menemui saudara sepupu saya yang sudah tinggal di sana. Saya diterima tinggal bersama saudara sepupu saya dan saya mendapat DDS untuk beberapa tahun lamanya. Saya senang tinggal di sini dan saya kawin dengan seorang gadis yang tinggal bersama di perkampungan Landipokki. Sekarang kami sudah mempunyai anak 6 orang sehat semua.Keluarga saya di Tinambung masih mengunjungi saya, atau kadang-kadang saya pergi untuk melihat mereka. Saya tidak ingin hidup di tempat lain, segaimana teman-teman lain yang sakit kusta, kami senang hidup bersama di perkampungan ini.


YPMK-2

Orang tua 39 tahun

Saya lahir pada tahun 1964 di Tangelang, sebuah desa di sekitar Landipokki. Keluarga kami kemudian pindah ke Mapilli, desa lain di dekatnya. Saya tidak pernah pergi kesekolah. Ketika saya masih berumur 18 tahun, saya melihat ada bercak-bercak dikulit saya. Saya tahu apa itu, karena adik saya punya gejala yang sama dan ia pada saat itu sudah tinggal di Landipokki, perkampungan untuk kusta. Saya mendatanginya dan meminta untuk memberi saya beberapa obat ia terima dari dokter, saya pikir itu DDS. Selama 12 tahun berjalan, kami berbagi obat ini, tapi saya tidak tinggal di Landipokki, saya masih tinggal di Mapilli. Namun, kondisi saya semakin memburuk, tangan saya cacat dan luka di kaki saya. Akhirnya, saya pikir lebih saya meninggalkan kelurga dan hidup dengan saudara sepupu di Landipokki. Sebetulnya keluarga saya dapat menerima saya, dan tidak merasa takut. Tapi saya merasa membemani keluaraga lebih baik tinggal di Landipokki, saya masuk tahun 1995. Kemudian saya mendapat obat MDT dan dinyatakkan sudah sembuh.


Timbul masalah lain, tidak ada pekerjaan, ada lahan pertanian yang diberikan kepada orang sebelumnnya, saya tidak mendapat bagian lagi.

Bekerja membuat batu bata tidak membawa keuntungan hanya cukup hidup pas-pasan. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untungnya keluarga saya di luar Landipokki selalu membantu saya.  Saya tidak punya istri tapi berharap untuk menemukan seorang wanita yang mau menikah dengan saya.

Bersambung....ke Batu Lelleng Koloni




Tulisan Lengkap, klik ini:

Friday, March 16, 2018

Koloni Kusta Teppo, Sulsel



Perkampungan Kusta Teppo, Sulsel

Informasi umum

Teppo tercatat sebagai Koloni Kusta tertua di Sulawesi Selatan. Didirikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda, di daerah sedikit berbukit antara Majene - Makassar di pegunungan pedalaman Saat ini, lokasi hanya ekitar  1 KM dari pinggiran kota Majene. Pemukiman tersebar di lahan lebih dari 4 hektar, tanah berbatu-batu, dengan rumah tradisioanl dari kayu,  beberapa dari mereka hidup dengan serba kekurangan. Penghuni terdiri dari 53 keluarga, dengan total semua 143 orang. Jumlah orang yang terkena kusta adalah 57 orang, dan 86 lainnya tidak pernah mengalami kusta. Penduduk yang sehat adalah anak-anak dan cucu-cucu dari orang yang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Semua penderita kusta lama sudah sembuh tidak perlu minum MDT lagi. Tapi masih kadang-kadang ada pasien kusta baru masuk, berasal dari kabupaten lain di pegunungan yang belum mempunyai fasilitas kesehatan, atau dari kabupaten lain di mana mereka takut ketahuan mendapat kusta. Pasien baru masuk ini masih mendapat pengobatan MDT di perkampungan Teppo. Bila ditanyai, kebanyakan dari mereka tidak mau kembali walaupun pengobatan MDT telah selesai.

Teppo adalah milik dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Majene. Pemerintah menyediakan rumah yang kemudian diserahkan kepada penduduk, sedangkan lahan tersebut masih milik Pemerintah. bantuan secara teratur diberikan dalam bentuk 200 beras kilogram per bulan, yang dibagi atas semua 53 keluarga. Sekitar setiap 5 tahun ini Departemen Kesehatan kabupaten melaksanakan berbagai program sosial untuk Teppo, seperti  renovasi rumah, perbaikan gizi, sumbangan kambing. Sumbangan kambing sangat sukses. Pada waktu kunjungan dilakukan (2003), masih banyak dari mereka yang beternak kambing dari hasil sumbangan tahun lalu.

Layanan medis

Sejak lama tidak ada layanan kesehatan yang menetap di Teppo, walaupun bangunan kecil dengan nama 'Pos Kesehatan' ada di tengah-tengah pemukiman. Menurut penduduk, itu tidak pernah digunakan. Dua perawat dari Puskesmas bertugas mengunjungi setiap 3 bulan untuk pelayanan kusta dan penyakit umum.
Mereka menginginkan agar Pos Kesehatan diperbaiki dan difungsikan karena mereka masih merasa malu untuk berobat ke Puskesmas di luar Teppo.

Riwayat hidup

Untuk mengetahui bagaimana seseorang sakit kusta dan sampai berada di pemukiman, maka dilakukan wawanicara terhadap 2 orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK). Di bawah ini adalah hasil wawanicara.

OYPMK -1
Pia berusia 80 tahun


Saya datang dari sebuah desa nelayan kecil. Saya adalah seorang anak yang sehat dan tidak pernah berharap bahwa sesuatu akan terjadi padaku. Tapi ketika saya berusia sekitar 7 tahun, saya melihat bercak putih seperti panu pada kulit saya, waktu itu saya masih sekolah. Saya dibawa orang tua kedukun, dan saya diberi pengbatan dukun, tetapi tanda-tanda bercak tidak bisa hilang. Orang tua kemudian menbawa saya ke RS, saya mendapat suntikan dan obat, dan disuruh pulang lagi. Sudah berathun-tahun, saya tidak tahu persis apa penyakit saya. Saya hanya tahu bahwa beberapa orang di desa takut dengan saya dan tidak ingin bergaul dengan saya. Orang tua saya selalu memberi dorongan kepada saya terus sekolah, tapi saya memilih berhenti sekolah.
Kemudian Jepang datang, saya berumur 18 dan sudah memiliki jari-jari tangan cacat (kiting) dan juga pada kaki. Mereka tidak mengizinkan saya untuk tinggal di kampung halaman saya lagi; mereka memerintahkan saya untuk pindah ke Teppo, di mana orang tinggal yang memiliki penyakit yang sama seperti saya. Saya tidak ingin meninggalkan keluarga saya, tapi apa yang bisa saya lakukan? Tapi setelah tiba di Teppo, ternyata cukup baik, Pemerintah telah membangun rumah kayu kecil bagi kami, juga memberi uang untuk biaya hidup secara teratur. Pada pendudukan Jepang, saya sudah berada di Teppo. Sejak Indonesia merdeka, saya masih tetap di Teppo. pekerjaan saya adalah tukang kayu, membuat dan memperbaiki furnitur baik untuk oarng di dalam untuk orang-orang di luar pemukiman. Pada waktu itu saya mendapat pengobatan DDS dan minum obat secara teratur sampai berahun-tahun.

Pada usia saya memasuki 30 tahun, saya menikah dengan seorang gadis yang saya dapatkan di perkampungan Teppo, sayangnya kita tidak punya anak. Saya selalu tetap berhubungan dengan keluarga saya, kadang-kadang mereka mengunjungi saya, kadang-kadang saya pergi pergi ke sana, tapi tidak terlalu sering. Saya masih punya saudara di sana. Saya senang di sini di Teppo dan tidak pernah punya keinginan untuk pergi ke tempat lain. Saya merasa aman di dalam komunitas ini di mana semua orang merasa senasib. Saya sekarang sudah sangat tua, tidak bisa bertukang lagi, tapi saya masih mendapatkan penghasilan dengn menjual minyak. Karena ini tidak cukup, penduduk lain dari Teppo membantu saya untuk bertahan hidup; mereka memberikan apa yang saya butuhkan untuk kehidupan sehari-hari.

OYPMK-2
Pria berusia 40 tahun


Ibu saya menderita penyakit kusta tidak lama setelah saya lahir. Orang tua saya bercerai dan ibu saya pindah ke pemukiman Teppo. Ibu saya berobat dengan baik dan saya tumbuh sebagai anak yang sehat. Tapi ibu saya tetap takut bahwa saya akan ketularan bila tinggal di Teppo, karena pada saat itu banyak orang baru masuk Teppo. Mereka datang dari pegunungan dan tidak pernah menerima pengobatan apapun di sana. Dia memutuskan untuk memberikan saya ke aya saya, yang telah menetap di sebuah pulau kecil pantai Kalimantan Selatan. Saya tinggal dengan ayah saya , saya dimaukkan sekolah. Ketika saya berumur 10 tahun, di kelas dua, saya melihat ada bercak-bercak  putih pada kulit saya, dan saya langsung tahu apa itu, karena saya telah melihat begitu banyak dari di Teppo. Di pulau di mana kami tinggal saya tidak bisa mendapatkan perawatan, itu terlalu terisolasi. Saya sendiri punya keinginan untuk kembali ke ibu saya di Teppo, di mana saya mendapat obat.  Ayah saya mendukung keinginan saya, jadi saya meninggalkan ayah dan kembali bergabung dengan ibu di Teppo. Di Teppo saya mendapat pengobatan DDS selama tiga tahun dan sudah berlangsung lama, saya tidak memiliki cacat pada tangan. Sayaya bekerja sebagai tukang  kayu dan tidak pernah pergi ke sekolah lagi. Kemudian saya menikah dengan seorang gadis dari pemukiman Polmas. Dia adalah anak dari seorang pasien kusta. Oleh karena itu dia tidak takut padaku, meskipun dia sendiri tidak pernah terinfeksi. Untuk mencari nafkah, kami meninggalkan Teppo dan pindah ke Pare-Pare, di mana saya bekerja di sebuah pabrik batu bata selama dua tahun. Tapi kemudian aku merindukan ibu saya dan teman-teman yang banyak di Teppo. maka kami pindah kembali Teppo. Setelah beberapa waktu,  karena sulit untuk mencari pekerjaan di Teppo, kami pindah lagi, bersama-sama dengan anak-anak kami pergi ke Kalimantan Selatan, tinggal bersama saudara saya yang ada di Kalsel. Saya bekerja sebagai tukang becak, penghasilan cukup baik, tapi sekali lagi, setelah beberapa saat, aku rindu lagi dengan Teppo, di mana saya mersakan semua orang baik dan merasa sebasib.

Sejak 4 tahun saya di Teppo, saya terpilih menjadi ketua  pemukiman. Saya sering mengadiri pertemuan-pertemuan resmi dari Kecamatan, dan saya benar-benar menyukainya bertemu dengan kepala desa lain. Mereka hormat dan menghagai saya sebagai manusia normal.
Saya punya 6 anak, yang semuanya sehat dan semua masih tinggal bersama kami di Teppo. Saat ini saya tidak punya keinginan untuk pindah lagi, saya ingin tinggal di sini, di mana saya dihormati dan memiliki banyak teman.

Bersambung.......ke Landipokki Koloni

Tulisan Lengkap, klik ini:

Wednesday, March 14, 2018

Koloni Kusta Totinco-Amassangeng, Sulsel


Posyandu Totinco, 2003

Koloni Kusta Totinco-Amassangeng, Sulsel

Informasi umum

Koloni Amassangeng didirikan selama pendudukan Belanda di Indonesia. Menurut catatan tahun 1984, ada sekitar 225 orang terkena kusta (OYPMK) tinggal dipemukiman. Pada saat itu pemerintah kabupaten Wajo memutuskan untuk menggunakan lokasi pemukiman untuk membangun RSU Kabupaten yang baru. Sebagai kompensasi, dibanguan pemukiman kusta di Totinco di Kecamatan Tana Sitolo. Semua OYPMK di Amassangeng dipindahkan ke pemukiman Totinco baru. Sejak tahun 1985, pemukiman kusta Amassangeng tidak ada lagi, telah berganti dengan RSU Daerah dengan nama RSUD Lamadukelleng.  

Koloni Kusta Totinco adalah milik Pemerintah / Departemen Sosial kabupaten Wajo. Koloni ini mempunyai 4 hektar lahan, terletak sekitar 3 km dari Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, dan sekitar 245 km dari Makassar. 

Pada saat kunjungan (2003), ada 237 orang tinggal di pemukiman, dimana 96 orang adalah OYPMK. Mereka semua sudah RFT (sembuh).  
Secara umum, OYPMK yang tinggal di pemukiman sudah mandiri. Rumah-rumah dan lahan masih merupakan milik Pemerintah. Mereka tidak mendapat subsidi rutin lagi, tapi kadang-kadang mendapat sumbangan beras, mie pada hari khusus. Kondisi kompleks dan rumah-rumah yang mirip dengan yang ada di masyarakat sekitar. Tidak ada papan nama yang menunjukkan adanya pemukiman kusta.

Layanan medis
 
Pemukiman tidak memiliki klinik khusus untuk kusta, tapi ada pos kesehatan (Posyandu). Penduduk juga dapat menggunakan Puskesmas yang terletak hanya sekitar 700 m dari pemukiman.

Wawanicara terhadap 2 OYPMK tentang riwayat hidup mereka.

OYPMK-1
Peria umur 42 tahun



Saya lahir pada tahun 1960 di Watan Liplic, Kecamatan Tempe di Kabupaten Wajo. Suatu hari, ketika saya berada di tahun pertama saya sekolah dasar, para pekerja kesehatan dari kabupaten datang untuk pemeriksaan kesehatan semua siswa. Saat itu saya berusia 10 tahun. Para pekerja kesehatan menemukan beberapa bercak di tubuh saya. Mereka melakukan tes rasa bercak-bercak, saya tidak merasakan apa-apa (mati rasa). Para petugas kesehatan mengatakan bahwa saya kena kusta. Mereka membahas masalah ini dengan guru saya. Saya tidak mengerti apa yang terjadi, tapi guru saya merasa prihatin tentang penyakit saya. Mereka meminta orang tua saya untuk datang ke sekolah. Orang tua saya kemudian diceritakan bahwa saya kena kusta. Para guru terkejut dan perhatian serius apa yang telah terjadi. 


Saya takut reaksi guru dan teman-teman. Saya tidak mendapatkan pengotan dari petugas kesehatan, maka orang tua saya membawa saya ke dukun. Guru dan teman-teman sangat takut ketularan, maka mereka mau mengisolasi saya. Mereka tidak bisa mentolerir kehadiran saya di sekolah lagi ketika gejala penyakit saya menjadi lebih jelas; bercak merah muncul di wajah dan tangan saya. Saya putuskan saya harus berhenti sekolah, pada waktu itu saya baru tahun ke 3 SD. 


Ketika saya sudah berumur 18 tahun, penyakit saya menjadi lebih buruk. Orang tua saya kemudian mengirim saya ke RSK Amassangeng Kusta di Wajo. Saya diterima dan mendapat pengobatan dengan dengan DDS. Pemerintah memberikan biaya gratis bagi pasien penyakit kusta. Kondisi saya memburuk lagi, jari-jari saya menjadi cacat. Kadang-kadang saya diberi prednison ketika saya masih dalam reaksi. Pada tahun 1982, saya mendapat obat tambahan MDT (DDS, Rifampisin dan Lamprene). Kondisi saya kemudian menjadi stabil,


Pada tahun 1985, saya dipindahkan ke Settlement Totinco bersama-sama dengan penderita kusta lainnya, mengikuti program pemukiman kembali pemerintah. Satu tahun kemudian, saya menikahi seorang wanita OYPMK. Sampai saat ini kami belum punya anak. Saya dan istri saya bekerja di sebuah pabrik batu bata di dekat kompleks. Meskipun tidak ada sumbangan yang biasa bagi kita, kami lebih memilih untuk tinggal di Pemukiman Totinco. Kami tidak ingin kembali ke rumah, kami tidak memiliki kerabat di sana yang mau menerima kami. 


OYPMK-2

Wanita umur 45 tahun



Saya lahir di Bone pada tahun 1957. Ketika saya berumur 21 tahun, saya melihat ada bercak merah di seluruh kulit saya. Segera saya tahu bahwa saya sakit kusta. Orang-orang di sekitar saya takut dan saya diminta untuk meninggalkan desa. Orang tua saya terkejut dan juga terisolasi oleh masyarakat. Saya stres dan kondisi saya menjadi lebih buruk. Orang tua saya kemudian membawa saya ke RSK Amassangeng Wajo. Saya dirawat di rumah sakit pada tahun 1980. Saya mengalami reaksi kusta berulang kali, yang menyebabkan jari-jari saya cacat. Saya menikah dengan seorang pria OYPMK dari desa yang sama di Bone. Kami memiliki 4 anak yang sehat. Pada tahun 1966 kami dipindah ke Totinco, mengikuti program Pemerintah. Suami saya dan saya bekerja di sebuah pabrik batu bata di dekat perumahan Totinco. 


Bersambung.....ke Koloni Kusta Teppo


Tulisan Lengkap, klik ini:

Tuesday, March 13, 2018

RSK dan Koloni Kusta Lauleng Sulsel

RSK dan Koloni Kusta Lauleng Sulsel

Informasi umum

Dalam catatan arsip di Subdit Kusta, Lauleng digrupkan dalam Leprosaria, atau koloni Kusta.
Kenyataannya, terdiri dari RSK Lauleng dan Koloni Kusta di sekitarnya. RSK Lauleng didirikan pada tahun 1940 pada masa pendudukan Belanda di Indonesia. Lokasinya sekitar 6 km dari Parepare, ibukota kabupaten Parepare, dan sekitar 156 km dari Makassar.

1940 -1942: Dr. Venstra, seorang dokter Belanda, adalah direktur pertama dari rumah sakit Lauleng, dibantu Perawat Indonesia dari Sulawesi.
1957 - 1958: Dr. A. Spentjes, seorang dokter Indonesia, direktur RSU Parepare, merangkap RS Fatimah (swasta) dan RSK  Lauleng.
1958 - 1965: Dr. J.de Baets, seorang dokter Belgia, menggantikan Dr. A. Spentjes.
1967 - 1981: Dr. J.Barthen, seorang dokter misi, diangkat menjadi direktur RSK Lauleng.
Pada tahun 1979, HM Joesoef Madjid, Walikota Parepare, dan istrinya Ida Joesoef berhasil meningkatkan kesejahteraan penderita kusta di RSK Lauleng.
Pada tahun 1981 Ibu Joesoef dihormati sebagai 'Ibu Kusta'.
1979 - 1980: Dr Berbudi, direktur RSK Sitanala, bekerja sebagai dokter terbang bedah kusta untuk RSK Lauleng.

RSK termasuk pemukiman sekitarnya adalah milik Pemerintah Kabupaten Parepare / Departemen Kesehatan. Pemukiman ini mempunyai penduduk 436 orang dimana 102 adalah orang-orang yang terkena kusta, 12 penduduk lanjut usia tinggal di bangsal.
Pada waktu kunjungan ada 12 pasien baru yang masih di MDT, dan 12 lansia tsb di atas adalah OYPMK tinggal dibangsal. Kondisi bangsal yang mirip dengan 'Panti Jompo' (rumah orang tua). Bangsal dengan kapasitas 24 tempat tidur mereka tidak terlihat seperti bangsal normal, tetapi lebih seperti rumah.

OYPMK di pemukiman pada umumnya berasal dari kabupaten Pinrang, Sidrap, Barru dan Enrekang. Rumah sakit kusta bekerjasama dengan kabupaten tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Kabupaten dapat mengirim penderita kusta ke perkampungan kusta, tetapi kabupaten harus memberi bantuan biaya hidup mereka.
2. Kabupaten harus menerima penderita kusta yang dikirim kembali oleh rumah sakit.
3. Kabupaten dapat mengisi tempat kosong orang-orang yang kembali ke rumah atau orang yang telah meninggal dengan orang-orang lain yang terkena kusta dari kabupaten yang sama.
4. Tanah dan rumah masih milik pemerintah dan Gereja Katolik Fatima.

Layanan medis

Rawat Jalan (OPD) dilayani oleh 6 paramedis di bawah pengawasan Dr Gemma, yang juga bekerja di rumah sakit.
Rawat Inap (IPD) mempunyai 24 tempat tidur. Bangsal (rumah jompo) digunakan untuk lansia.
Rumah sakit tidak dapat memproduksi prostesis, tetapi mereka dapat membuat sepatu khusus penderita kusta. Seorang anggota staf telah dilatih mendapat latihan membuat sepatu khusus di RSK Daya Makassar.

Riwat hidup
2 orang OYPMK diwawanicarai tentang riwayat hidup mereka.

OYPMK-1
Laki-laki umur 47 tahun


Saya lahir 1955 di Rijang Panua, Pancarijing, di Kabupaten Sidrap. Ketika saya masih 19, saya melihat bercak putih muncul pada kulit dada dan anggota badan saya, tapi tidak terasa gatal dan tidak sakit. Saya berobat ke dukun. Dukun memberi obat tradisional dengan daun sirih dan labu untuk digosokkan ke bercak-bercak. Dukun mengatakan saya sakit 'Kandala' [bahasa lokal untuk kusta]. Saya tidak yakin, tapi saya tetap melanjutkan pengobatan dari dukun tsb.

Kondisi saya semakin memburuk, saya merasakan sakit terutama di sendi saya, dan panas. Saya pergi ke dokter. Dokter juga mendiagnosis saya kena kusta dan menyarankan supaya saya berobat di RSK Lauleng di Parepare untuk segera mendapat perawatan. Dokter tidak memberi saya obat, tapi hanya memberi surat pengantar untuk masuk RSK Lauleng. Saya masuk RS pada tahun 1986, dirawat secara gratis. Saya hanya harus mengikuti beberapa prosedur administrasi.
Identitas saya dicatat, menurut rumah sakit, catatan ini dilaporkan ke Bupati dan rumah saya Sidrap. Saya diberitahu bahwa seluruh biaya untuk saya ditanggung oleh Kabupaten Sidrap.

Pada saat masuk ke rumah sakit, orang tua dan saudara-saudara saya menemani saya. Tiga bulan kemudian orang tua saya datang lagi untuk mengunjungi saya. Mereka sangat terkejut melihat jari-jari saya yang sudah cacat (kiting). Tampaknya mereka menjadi takut pada saya. Setelah kunjungan ini, baik orang tua saya maupun saudara-saudara saya tidak pernah datang lagi menemui. Saya merasa sangat sedih, terisolasi oleh masyarakat. Kondisi penyakit saya sudah stabil, tetapi saya mempunyai cacat jari-jari permanen. Saya tidak ingin kembali, kondisi saya membuat saya merasa rendah diri. Saya tahu bahwa orang-orang di kampung saya akan menolak saya. Sejak masuk RSK Lauleng saya tidak pernah pulang ke rumah. Saya memutuskan untuk hidup sendiri tidak mempunyai keluarga dan kerabat. Saya senang tinggal di sini; Saya tukang kayu dan bisa menghasilkan uang. Orang-orang di masyarakat sekitar memberikan saya pekerjaan misalnya membuat lemari, meja dan kotak TV. Saya menikah dengan seorang OYPMK yang sama-sama tinggal di perkampungan,tapi sampai sekarang kami tidak memiliki anak. Saya tidak punya rencana untuk kembali ke rumah. Saya lebih memilih untuk tinggal di sini sampai aku mati.

OYPMK-2
Perempuan umur 41 tahun

Saya lahir di Sidrap pada tahun 1962. Ketika saya berumur 10 tahun, orang tua dan kerabat saya mengatakan saya kena kusta. Orang tua saya memperhatikan bahwa banyak bercak-bercak di tangan dan tubuh.Orang tua saya membawa saya ke RSU Sidrap. Dokter di rumah sakit menyarankan orang tua saya mengirim saya ke RSK Lauleng di Parepare. Juga orang-orang di desa saya bersikeras supaya saya segera meninggalkan kampung. Kepala Desa membuat surat pengatar ke RSK  Lauleng. Pemerintah Sidrap menyediakan beras untuk keperluan saya dan supaya diberikan ke RS Lauleng.
Saya dirawat di rumah sakit pada tahun 1972. Saya tidak membayar untuk rawat inap, tapi saya tahu bahwa pemerintah Sidrap membayar untuk keperluan biaya hidup saya.
Saya mendapat pengobata dengan DDS. Setelah sekitar satu tahun saya mendapat reaksi kusta. jari saya menjadi cacat. Saya  sangat sedih melihat jari jelek. Kondisi sakit saya sudah stabil, tetapi tetap mempunyai jari-jari yang cacat (kiting).

Aku dibesarkan di rumah sakit; dari waktu ke waktu orang tua saya datang menemui saya. Mereka tidak ingin saya datang kembali ke rumah, karena mereka merasa malu bahwa saya seorang penderita kusta. Saya sendiri tidak ingin kembali. Saya lebih memilih untuk tinggal di perkampungan Lauleng, hidup di antara pasien kusta dengan nasib yang sama.

Pada tahun 1982 saya menerima pengobatan baru, MDT. Saya harus minum obat ini selama 2 tahun. Pada tahun 1983 saya menikah dengan seorang pria OYPMK, yang sma-sama tinggal di RS. Kami sama-sama datang dari daerah yang sama yaitu Sidrap. Kami mendapat sebuah rumah di komplek yang disediakan oleh rumah sakit. Sampai sekarang kami belum punya anak. Hubungan kami dengan orang-orang di masyarakat sekitar baik. Kami senang tinggal di sini dan kami tidak ingin kembali ke kampung halaman kami.

Bersambung.....ke Totinco-Amassangeng Koloni

Tulisan Lengkap, klik ini:



Monday, March 12, 2018

Koloni Kusta Lerang, Sulsel

Balai Pengobatan Lerang 2003

Perkampungan Kusta Lerang
Inventarisasi dikerjakan pada tahun 2003

Informasi umum
       
Perkampungan kusta Lerang berada di bawah kepemilkam Departemen Ksehatan Pemerintah Kabupaten Bone. Lokasi terletak sekitar 25 km dari Watampone, ibukota Kabupaten Bone, dan sekitar 200 km dari Makassar. Koloni ini dibangun di atas lahan 100 hektar pada waktu kependudukan Belanda di Indonesia pada tahun 1927. 

Pada saat kunjungan, jumlah penduduk perkampungan 572 diataranya ada 497 OYPMK (orang yang pernah mengalami kusta). Sebagian besar OYPMK adalah usia lanjut. Dulu di sini ada tempat pengobatan deng rawat inap, tapi sekarang tidak lagi.
Secara umum, orang-orang di pemukiman sudah mandiri. Pemerintah daerah menyediakan bantuan  bulanan Rp 8.000 per OYPMK yang mempunyai cacat, dan bantuan ini hanya diberikan kepada 200 OYMK dengan cacat. Tanah dan rumah masih milik Pemerintah. Kondisi rumah-rumah diperkampungan sama dengan penduduk normal di di sekitar pemukiman. Tidak ada papan nama yang koloni yang terpasang yang menunjukkan bahwa pemukiman itu adalah koloni OYPMK.

Layanan medis
      
Seorang paramedis menjalankan klinik rawat jalan di pemukiman. Klinik ini berada di bawah pengawasan  Puskesmas Cina, yang terletak sekitar 9 km dari pemukiman. Staf Puskesmas Cina secara teratur 3 kali seminggu supervisi klinik dan pelayanan medis untuk perkampungan.

Riwayat Singkat 2 OYPMK yang diwawanicarai

OYPMK-1
Wanita berusia 56 tahun

Saya lahir pada tahun 1946 di Batu Bessi di Kabupaten Maros. Ketika saya berumur 16 tahun, teman saya mengatakan bahwa mereka melihat kelainan kulit di tubuh saya, adanya beberapa bercak merah dan bengkak pada tubuh dan tangan saya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya kena kusta. Saya juga menyadari adanya bercak-bercak di kulit saya. Orang-orang di sekitarnya saya tidak ingin bertemu dengan saya lagi dan saya terisolasi. Saya sangat sedih. orang tua dan saudara-saudara saya marah tentang sikap orang-orang ini terhadap saya, kadang-kadang menyebabkan perkelahian. Orang tua saya melaporkan situasi saya ke polisi. Polisi mencoba untuk memecahkan masalah dengan menempatkan saya ke dalam mobil polisi segera dan membawa saya ke perkampungan Lerang untuk  menyelamatkan saya. Saya diterima di perkampungan pada tahun 1962, tanpa biaya dan syarat-syarat. Saya diobati dengan DDS, tetapi mengalami reaksi, sehingga jari-jari saya menjadi kaku dan bengkok (kiting) selma saya tinggal di Lerang. Setelah 2 tahun penyakit saya menjadi stabil. orang tua dan saudara-saudara saya jaran datang mengunjungi saya. Ketika saya berumur 18 tahun, saya menikah dengan seorang OYPMK sama-sama tinggal di pemukiman Lerang. Sekarang kami memiliki 2 anak yang sehat, dan diterima sekolah di sekolah umum di dekat perkampungan. Kami  tidak akan mampu membayar sekolah bila mereka melanjutkan ke SMU.
Kami menerima Rp 16.000 / bulan (kita masing-masing Rp 8.000) dari Pemerintah, dan mencari nafkah dengan bekerja di pabrik batu bata. Pendapatan kami hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Kami lebih memilih untuk tinggal di pemukiman Lerang berada di antara orang-orang dengan nasib yang sama. Kami tidak ingin kembali ke rumah.



OYPMK-2
Pria berusia 45 tahun

Saya lahir pada tahun 1957 di desa Lamaiso, Takalala, di Kabupaten Wajo. Ketika saya berumur 10 tahun, teman-teman mengatakan bahwa pada kulit saya ada bercak-bercak merah yang aneh. Mereka tahu bahwa bercak-bercak seperti itu adalah tanda-tanda kusta. Mereka menyarankan orang tua saya untuk membawa saya ke Gemmee (RSK Amassangeng) di Sengkang. Saya diterima tanpa syarat dan diobati dengan DDS, itu terjadi pada tahun 1967. Saya tinggal di Amassangeng dari 1967 sampai 1972, sering mendapatkan reaksi kusta sampai jari-jari saya yang cacat. Di pemukiman saya bertemu seorang teman yang berasal dari Bone. Dia lebih tua dari saya, berusia 30 tahun, dan sangat baik padaku. Saya melihat dia sebagai ayah saya. Suatu hari dia mengatakan kepada saya bahwa ia berencana untuk kembali ke Bone untuk tinggal di pemukiman Lerang. Dia mengajak saya untuk pergi bersamanya. Ini adalah keputusan yang sulit bagi saya. Tapai saya mengikuti dia karena saya pikir saya akan kesepian tanpa teman terbaik saya. Untungnya, kami diterma di Lerang anpa syarat apapun. Saya berusia 15 tahun dan kami tinggal bersama dalam satu rumah. Kami menerima jatah dari pemerintah termasuk beras, gula, minyak goreng, dll. Akan tetapi bantuan ransum ini telah berhenti beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 1986 saya menikah dengan seorang wanita OYPMK. Saya terpaksa berpsah dengan teman karena saya harus tinggal bersama istri dirumah kami sendiri yang disediakan olah Pemerintah.

Saya bekerja pembuatan batu bata. Kami memiliki 3 anak yang sehat sekarang dan hanya menerima Rp 8000 / bulan dari Pemerintah. Saya memiliki hubungan baik dengan orang-orang di masyarakat sekitar. Saya sering menerima undangan untuk pesta pernikahan dari mereka, tapi aku tidak pernah menghadiri, dengan jari cacat saya.

Bersambung....ke Koloni Kusta Laringgi

Tulisan Lengkap, klik ini:

Saturday, March 10, 2018

Koloni Kusta 'KM 10', Sulsel


Kilometer 10 (KM 10)
Informasi umum (2003)        
Pemukiman ini berada di bawah Kota Makassar. Didirikan pada tahun 1955 di 10 hektar lahan untuk penderita kusta dari RSK Jongaya, Makassar Kota. Pada saat kunjungan total 399 orang tinggal di permukiman Km-10, adalah 150 OYPMK. Beberapa dari mereka sudah menikah dengan OYPMK dan  non- OYPMK, dan ada yang sudah janda. Ada 5 pasien yang masih dalam pengobatan MDT, di antaranya tiga adalah pendatang baru di pemukiman, sementara dua adalah anak-anak penderita kusta. Mereka semua mengambil obat MDT di RSK Daya Makassar.      
Menurut pengamatan kami, pemukiman benar-benar terintegrasi ke dalam masyarakat sekitarnya. Tidak ada batas yang jelas antara pemukiman kusta dan sekitarnya. Tidak ada papan nama yang menunjukkan keberadaan pemukiman kusta.
 Secara umum, orang yang terkena kusta yang tinggal di pemukiman sudah mandiri. Pemerintah menyerahkan tanah dan rumah mereka dengan sertifikat resmi. Wali kota Makassar masih menyediakan mereka dengan sumbangan Rp 10.000 per OYPMK per bulan.   
 Layanan medis        
Tidak ada klinik khusus untuk kusta di pemukiman. Pemerintah menyediakan Pos Kesehatan (Posyandu), yang diawasi oleh Puskesmas terdekat dengan pemukiman. Paisen yang perlu rujukan dikirim ke RSK Daya.
Riwat singkat 2 OYPMK (Orang Yang Pernah Mengalami Kusta) yang diwawanicarai.


OYPMK-1
Pria berusia 51 tahun

Saya lahir di Makassar pada tahun 1952. Ketika saya berusia 11 tahun saya jatuh sakit. Saya punya banyak bercak merah-merah pada kulit saya, terutama lengan saya. Orang tua saya membawa saya ke klinik kulit di Makassar, dan di sana saya didiagnosis kusta. Dokter memberi saya DDS untuk pengobatan. Saya terus pergi ke sekolah sampai saya menyelesaikan sekolah SMA, meskipun saya pernah mengalami reaksi beberapa kali. Saya ingat bahwa reaksi mudah disembuhkan dengan suntikan. Ketika saya masih umur 29, saya menikah dengan seorang wanita yang tidak pernah mengalami kusta. Kami memiliki satu anak laki-laki.

Setelah saya mengalami reaksi yang parah, jari-jari tangan  saya kaku dan bengkok (kiting). Karena itu saya mulai merasa rendah diri dan memutuskan untuk meninggalkan istri dan anak. Saya bekerja sebagai pemulung. Saya merasa kehidupan saya penuh dengan masalah,  akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan penderita kusta di RSK Jongaya. Saya dirawat di rumah sakit pada tahun 1983. Saya merasa senang tinggal di rumah sakit dan tidak pernah menghubungi istri dan anak untuk melindungi mereka dari rasa malu dari anggota kusta keluarga.

Saya menikah lagi dengan wanita OYPKM tahun 1985. Saya jatuh cinta padanya ketika kami berdua tinggal di RSK Jongaya. Setelah menikah kami tinggal diperkampungan kusta Jongaya. Pada tahun 1992, kami dipindahkan oleh pemerintah ke sini, perkampungan kusta  KM-10. Sekarang kami  bahagia hidup di sini dengan 4 anak-anak.  Mereka pergi ke sekolah umum di dekat pemukiman.

Pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp 20.000 per bulan perorang. Tanah dan rumah di mana kami tinggal telah diserahkan kepada kami dengan sertikat kepemilikan. Tidak ada peraturan khusus untuk tinggal di pemukiman. Kami senang tinggal di pemukiman ini.


OYPMK-2
Wanita berusia 20 tahun

Saya lahir di Gowa pada tahun 1982. Ketika saya berusia 15 tahun, saya memperhatikan bahwa banyak bercak putih muncul di tangan saya dan tubuh. Orang tua saya mengatakan kepada saya untuk pergi ke Pskesmas Gowa untuk bantuan. Dokter di Puskesmas mendiagnosis saya kusta dan memberi pengobatan dengan MDT (Rifampicin, Lamprene dan DDS). Orang tua saya dan saya terkejut karena mendapat hukuman yang tak terduga ini. Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit kusta. Ketika teman-teman saya dan guru tahu bahwa saya memiliki penyakit kusta, mereka mulai menghindari saya. Aku merasa malu dan putus sekolah. Selama pengobatan saya dengan MDT, saya pernah mengalami reaksi kusta yang parah. Orang tua saya mengirim saya ke RSK Daya, di mana saya diterima tanpa syarat apapun dan bebas biaya.

Bersambung..... ke Koloni Kusta Lerang

Tulisan Lengkap, klik ini:

Friday, March 9, 2018

Koloni Kusta Jongaya, Sulsel

http://berimbang43.com


Foto diambil dari Internet (2016)



Informasi umum (2003)     
Pemukiman Jongaya terletak di dalam kota, berbatasan dengan Rumah Sakit Haji, sudah berbaur dengan masyarakat sekitar. Waktu didirikan pada tahun 1936, lokasi ini masih terpencil dipinggiran Makassar, tempat pembuangan sampah dan lokasi penjara. Tanah itu disumbangkan oleh beberapa anggota bangsawan lokal Gowa (Karaeng Bontobiraeng) ke Yayasan Kusta untuk Perawatan Kusta. Pada awalnya, wilayah itu terdiri dari pemukiman dengan 25 rumah-rumah kayu, dibangun oleh Yayasan Kusta Belanda,  bangsal perawatan yang kemudian menjadi Rumah Sakit Kusta (1960-an) di sekitar pemukiman. Pada tahun 1980/1981 itu diserahkan kepada Pemerintah Pusat Indonesia. Perkembangan selanjutnya, RSK yang sudah dibangun lengkap, akan tetapi ditutup pada awal 1990-an. Pada tahun 1992 dilokasi RSK dibangun Rumah Sakit Haji.
Luas lahan pemukiman ada sekitar 7 hektar. Pada waktu kunjungan (2003), penghuni terdiri dari sekitar 478 kepala keluarga (kebanyakan istri dan suami keduanya mantan penderita kusta, ada beberapa pasangan dengan orang non-kusta, anak-anak mereka baik dari pasangan mantan kusta dan campuran, adalah sehat. Total penghuni keseluruhan ada 1774 orang, dimana sekitar 60% adalah mantan kusta. Semua penderita kusta sudah mendapat MDT dan sudah dinyatakan sembuh (RFT). Beberapa anak mereka menikah dengan orang sehat dari luar perkampungan (namun kadang-kadang tidak disetujui oleh orang tua di luar perkampungan)
Koloni Kusta Jongaya berada di bawah provinsi Sulawesi Selatan. Namun masih ada beda pendapat tentang kepemilikan. Sebagian penduduk merasa bahwa menurut sejarahnya Gowa (Karaeng Bontobiraeng) yang menyumbangkan tanah kepada mereka pada tahun 1936, sementara pemerintah percaya lahan telah disumbangkan ke yayasan kusta, yang kemudian menyerahkannya kepada pemerintah.
Pemerintah provinsi menyediakan 15 kg beras dan Rp25.000 untuk membeli sayuran bulanan untuk setiap penduduk yang sudah tinggal di Jongaya sebelum tahun 1992 dan jumlah mantan kusta ada sekitar 400 orang. Mereka yang pindah ke pemukiman setelah penutupan rumah sakit kusta pada tahun 1992 tidak berhak menerima donasi ini. Dibandingkan dengan pemukiman kusta kedua di Makassar, “Km 10”, yang berada di bawah administrasi kota   Makassar, sumbangan untuk Jongaya jauh lebih baik. Pada saat kunjungan ada sumbangan tambahan dari US-Aid berupa beras, minyak sayur dan makanan bayi bagi penduduk miskin di Jongaya untuk selama 6 bulan.
 Pelayanan medis        
Sebelum rumah sakit kusta di Jongaya ditutup di awal 1990-an, pelayanan medis untuk penduduk Jongaya cukup baik. Hal ini tentu saja tidak tidak lebih baik bila dibangdingkan dengan keadaan tahun 50-an, satu-satunya pengobatan adalah suntikan mingguan untuk pasien kusta di bangsal dan pemukiman. Tidak ada dokter bertugas di bangsal; itu dijalankan hanya oleh perawat. Pada sekitar 1954 dokter pertama, Dr Go, ditugaskan, tapi dia tidak ingin menyentuh pasien, ia hanya melihat-lihat ketika memeriksa mereka. Dalam 60-an, dengan pembangunan rumah sakit kusta, pengobatan dengan Dapson dimulai. Pada tahun 70-an pengobantan dengan DDS dibawah pengawasan Dokter Belanda, Dr Rudgers. Sampai 1990-an bangsal kedua dibangun, di mana (mantan) penderita kusta diberikan perawatan kesehatan, makanan dan tempat untuk tidur. Bangunan ini masih ada dan dihuni, tapi tidak ada bantuan yang diberikan lagi karena rumah sakit kusta telah ditutup. Saat ini, pelayanan medis dilakukan oleh seorang perawat dari klinik penyakit kulit mengunjungi Jongaya seminggu sekali untuk perawatan kesehatan dasar diperkampungan Jongaya. Untuk masalah penyakit umum, penduduk biasanya pergi ke salah satu Puskesmas, di mana mereka diperlakukan dengan baik dan tidak pernah ditolak. Untuk masalah yang berkaitan dengan kusta mereka langsung pergi ke rumah sakit Daya Makassar. Berdasarkan pengalaman kurng menyenangkan dengan staf Rumah Sakit Haji, mereka tidak menggunakan RS Haji lagi, meskipun terletak hanya 50 meter dari pemukiman.

Riwayat hidup 2 orang penghuni Jongaya yang diwawanicarai


OYPMK-1
Pria berusia 67 tahun

Dari bersembunyi di hutan menjadi kepala perkampungan kusta Jongaya yang dihormati. 

Saya lahir di pegunungan Kabupaten Mamasa, Polmas. Pada tahun 1942 saya mulai sekolah dasar, tetapi pada saat itu saya sudah memiliki luka di kaki saya yang tidak pernah sembuh, bebrapa bercak putih di bahu dan punggung saya. Ibu saya menyiapkan campuran daun, kapur dan bawang merah, yang ia digosok ke bercak tsb. diperkiran bisa hilang. Meskipun saya menangis kesakitan karena diolesi kuat-kuat, bercak tidak hilang malah menjadi kemerahan.

Saya berhenti sekolah karena murid lain berbicara tentang saya dan tidak mau bermain dengan saya. Saya sendiri tidak tahu arti kata 'Kusta', yang mereka katakan kepada saya. Ketika wajah saya menjadi merah dan bengkak, orang tua saya, dipaksa oleh penduduk desa lainnya, membawa saya ke tempat di hutan gunung di mana nenek saya memiliki taman kecil. 

Aku harus menyembunyikan diri di sana dan tidak diizinkan untuk turun ke desa lagi. Saya berusia 10 tahun dan tidak memahami alasan untuk isolasi saya. Saya masih ingat betapa sedihnya saya selama itu. Saya selalu berdoa kepada Allah untuk mengakhiri penderitaan saya. Kadang-kadang saya berjalan ke desa orang tua saya di malam hari, dan saya disembunyikan, jangan sampai ada yang tahu. Saya diberi makan, kemudian pada waktu malam itu juga harus kembali ketempat perembunyian.

Ketika saya berumur 13 tahun, pada tahun 1949, sepupu saya bercerita tentang penanganan kusta di Jongaya Makassar. Saya akan lebih aman dan hidup lebih baik tinggal di Jongaya dari pada tetap bersembunyi di huta. Di Polmas pemukiman seperti itu tidak ada pada waktu itu. Jadi saya pergi ke jalan dekat laut dan menaiki sebuah mobil truk dan bersembunji enuju Makassar. Ini adalah pengalaman yang tak terlupan, bagaimana caranya untuk sampai di Makassar. Saya punya paman yang tinggal di kota, yang menulis surat kepada Kecamatan dari Jongaya untuk mendapatkan izin bagi saya untuk tinggal di RSK di Jongaya. Saya mengakui dan pindah ke sana. Pada tahun 1950-an belum ada obat yng dapat menyembuhkn kusta. Suntikan mingguan adalah satu-satunya pengobatan penduduk Jongaya. Dokter pertama yang bekerja di tempat ini pada pertengahan 50-an tidak ingin menyentuh penderita kusta. Karena mengalami luka parah, saya dirawat di bangsal sebelah pemukiman, di mana saya tinggal selama dua tahun. Setelah itu, saya diberitahu untuk tinggal di salah satu dari 25 rumah pemukiman, bersama-sama dengan delapan penderita kusta lainnya. saya tinggal di sini garatis, dan disediakan makanan. Penduduk tidak diizinkan untuk meninggalkan pemukiman sebelum pukul 3 sore, dan harus kembali pada pukul 7 malam. Saya berusia 16 tahun dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Semua penduduk harus bekerja di pagi hari untuk membersihkan lingkungan, tetapi saya senang karena bisa tidur dan makan. Kemdian saya mendapat kesempatan untuk pergi ke sekolah lagi, yang diselenggarakan oleh penderita kusta lainnya; Saya selesai enam tahun sekolah dasar.

Dalam tahun 60-an saya mulai minum obat untuk kusta, setelah 20 tahun tidak minum obat yang dapat menyembuhkan kusta. Saya mendapat berbagai jenis obat-obatan, sampai pada tahun 1992 Dr. Berbudi (Dokter dari RSK Daya) mengatakan kepada saya bahwa saya telah sembuh dan mengentikan obat kusta. Tetapi saya tetap mempunyai luka yang sulit sembuh. Saya bersyukur masih mempunyai kaki lengkap dapat berjalan dengan baik. Jari tangan saya kiting dan sudah kaku. 

Pada tahun 1980 saya menikah dengan seorang wanita dari pemukiman. Wanita ini sebelumnya sakit kusta dan diantar oleh ibunya ke Jongaya. Saya dan istri saya memiliki lima anak, yang manan tiga diantara mereka mendapat kusta. Semua lima anak kami bekerja misalnya sebagai pemulung.

Saya mulai bekerja pada tahun 1980 sebagai penjaga parkir. Saya masih melakukan pekerjaan ini di malam hari dan mendapatkan Rp10.000 per hari. Siang hari saya sibuk mengatur dan mengatur kehidupan sehari-hari penduduk Jongaya, karena sejak tahun 1990 saya terpilih menjadi kepala perkampungan. Anggota masyarakat patuh dengan saya, dan saya secara teratur saya menghadiri pertemuan kecamatan bersama-sama dengan kepala desa lingkungan sekitarnya.

Saya tidak pernah kembali ke Mamasa setelah saya di Makassar yang dulu datang bersembunyi dalam mobil truk. Saya hanya mendengar dari orang lain ketika orang tua saya meninggal. Saya tidak ingin kembali ke desa saya di pegunungan, karena saya tidak yakin apakah orang di sana akan menerima saya sekarang. Selain itu saya tidak tahu di mana anggota keluarga saya tinggal saat ini. Namun ada adik saya yang mengunjungi saya di Makassar. Adik saya tinggal dengan saya di Jongaya. Dia juga mengalami kusta empat tahun setelah saya. Dia datang berobat ke Jongya dan tidak mau bersembunyi di hutan. 

Saya senang tinggal di Jongaya bersama-sama dengan orang lain yang terkena kusta, dengan keluarga dan dalam masyarakat yang menghormati saya. Hidup di lur pemukiman saya maih merasa ada rendar diri. 


OYPMK-2
Wanita berusia 70 tahun

Menggunakan gunting tanpa jari

Saya lahir di Sumbawa. Saya tumbuh kembang dan kemudian saya bekerja sebagai guru. Pada usia 15 saya datang ke Makassar, tempat asal orang tua saya. Pada tahun 1949 saya selesai sekolah dasar dan mulai pergi ke sekolah lanjutan. Saya terpaksa berhenti sekolah saya harus mengikuti permintaan orang tua menikah. Setelah berumanh tangga dari 1949 - 1955, kami mendapapat 4 anak. Pada tahun 1955 suami saya diculik, mungkin oleh pasukan gerilya Kahar Muzzakar, yang menakutkan sekitar tahun 50-an smmpai 60-an. . Suami saya tidak pernah kembali, juga tidak ada informasi tentang dia. Selama 10 tahun berikutnya saya mencari nafkah saya dan anak-anak saya dengan melakukan menjahit. Tiga dari anak-anak saya meninggal karena sakit. Saya akhirnya pindah dari Makassar ke Limbung, sebuah desa di di kabupaten di mana orang tua saya tinggal.

Pada tahun 1962, saya pertama kali melihat wajah saya menjadi kemerahan. Saya curiga tentang itu dan pergi ke rumah sakit Jongaya, di mana aku tinggal selama enam bulan. Saya percaya saya telah kena kusta. punya kusta, ini tejadi etelah suami saya hilang. Mungkin karena saya stres terus ditambah lagi meninggalnya anak-anak kami. Di rumah sakit Jongaya saya diberi suntikan dan minum DDS, berobat jalan pulang ke Limbung. Tapi karena saya tidak teratur minum obat penyakit saya tidak sembuh-sembuh dan semakin parah. Saya kemudian dirawat di RS Jongaya. Sejak itu saya menjadi penduduk Jongay dan sudah berlangsung 20 tahun. Kaki saya harus damputasi di RSK Daya Makassar. Stekah itu saya dipindah ke perkampungan Jongaya di sekitar RSK Jongaya.

Saya sekarang tinggal di tempat pemukiman, bersama-sama dengan beberapa pasien (mantan) kusta lainnya. Pada awalnya kami menerima makanan dan obat-obatan gratis, tapi itu dihentikan segera setelah itu. Saya berhasil membeli sendiri mesin jahit, dan saya mulai melakukan menjahit lagi. Meskipun tangan saya sudah dimutilasi dan tidak satu jari yang tersisa, saya dapat menggunakan gunting dan melakukan pekerjaan saya. Saya sangat bangga dengan ini. Saya tidak akan pernah menyerah;Saya senang untuk dapat bertahan hidup dan tidak suka meratapi.

Tinggal di pemukiman ini seperti surga bagi saya. Saya tidak suka untuk mendapatkan kontak dengan dunia luar karena saya akan merasa rendah diri. Dengan kaki saya diamputasi, menggunakan kruk saya tidak bisa pergi ke semua jalan di pasar, tapi saya benar-benar tidak kecewa. .

Satu-satunya anak yang tersisa untuk saya masih tinggal di Limbung bersama-sama dengan enam cucu. Mereka semua sehat dan mengunjungi saya dari waktu ke waktu, membawa saya untuk kehihidupan sehari-hari. Mereka memahami penyakit saya dan tidak takut. Salah satu saudara saya terkena kusta, juga, dan tinggal dengan saya di Jongaya sampai dia meninggal.

Saya tidak ingin kembali ke Limbung untuk hidup dengan putri saya dan cucu, karena saya tidak bisa melakukan banyak pekerjaan dengan tangan saya lagi dan saya akan malu di depan orang lain. Hanya kalau saya mati, saya ingin dikubur di Limbung.


Bersambung.....ke Koloni Kusta KM10.
Tulisan Lengkap, klik ini: