Showing posts with label Masjid. Show all posts
Showing posts with label Masjid. Show all posts

Friday, August 18, 2017

Masjid Namira Membludak, Saldo Minim

NAMIRA OH NAMIRA, MASJIDKU
Dipetik dari tulisan seorang Putra Daerah Lamongan



Sampai detik ini aku masih heran, kok bisa Lamongan punya masjid seperti ini.
Lokasinya juga bukan di tengah kota. Malah sudah minggir sekali.
Berada di desa Jotosanur, kecamatan Tikung, Lamongan, Jawa Timur
Namira memang masjid yang beda
Jamaahnya selalu membludak



Kalau Salat Subuh jamaahnya bisa sampai seribu orang.
Paling dikit 500 orang dari banyak penjuru desa
Habis itu jamaah diberi sarapan gratis
Pas puasa menyediakan makanan gratis sampai 2000 pax untuk buka puasa dan sahur siapa saja yang datang.
Masjid ini juga jadi lokasi "kongkow" anak anak muda.
Kalau janjian ketemu mereka akan memilih ke Namira lalu mendiskusikan kegiatannya di sana.
Anak anak kecil pun disediakan tempat bermain yang aman untuk memberikan ingatan masa kecil bahwa masjid adalah tempat yang asik
Prinsipnya dasyat:
Uang sedekah jamaah harus kembali ke jamaah secepatnya
Kami takmir malu kalau uang jamaah menumpuk di kotak infak
Kalau bisa saldo infak itu Nol rupiah. Yang artinya takmir masjidnya kreatif karena berarti selalu punya program untuk jamaah
Masjid kalau punya saldo tidak nol berarti masjid gagal.
Takmirnya miskin kreativitas.
Jamaah nggak dapat manfaat apa pun dari keberadaan takmir.
Jamaah juga belum dapat pahala karena uang sedekahnya belum mengalir, masih mandek di kotak infak.
Sebagai putra asli Lamongan aku jadi tertegun dengan konsep masjid ini
Buka 24 jam untuk musafir, boleh rehat dan tiduran di teras, bagi yang iktikaf disediakan kawasan tenda untuk menginap tidur, makanan sahur melimpah, free wifi sepanjang hari, daya tampung parkir mencapai 400 mobil, dan tiap minggu selalu mendatangkan penceramah baru dari berbagai kota...
Masih banyak kelebihan kelebihan lainnya yang sulit ketuliskan.
Tapi inilah cikal bakal masjid madani itu...
Saking banyaknya acara yang bermutu donatur yang datang entah darimana datangnya semakin membanjir.
Lagi lagi takmir nya harus berpikir keras bagaimana menghabiskan uang itu.
Makin habis makin datang donatur yang lebih besar
"Kami hanya ingin agar sedekah dari jamaah segera berubah jadi pahala. Justru kalau uangnya ngendon saja kami sebagai takmir merasa berdosa. Sedekah mereka terlambat jadi pahala karena belum ada kegiatan yang diwujudkan dari uang yang kita terima. Makanya motto kami:
Usahakan saldo bisa nol....
Ya Allah... Terimakasih
benar-benar pelajaran yang bermakna
* LUAR BIASA HARUS DITIRU SALDO MINIM

Semoga bermanfaat dan terinspirasi

Saturday, July 15, 2017

Gerakan Jemaah Mandiri Kunci Memakmurkan Masjid Jogokariyan Yogyakarta


SHARE ON:
Muslimdaily.net



Nama Masjid ini tidak terdengar Islami, tapi pengurus Masjid mengklaim justru menamakan Masjid dengan nama daerah lebih sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Masjid Jogokariyan namanya. Arsitekturnya sederhana, tidak se ‘wah’ Masjid megah nan berlapis emas dengan arsitektur memukau. Pun tak sebesar Masjid lain di perkotaan yang dihiasi ornamen-ornamen memikat. Masjid Jogokariyan memang hanya Masjid kampung yang sederhana dengan dua lantai.

Akan tetapi, soal manajemen dan kemakmuran rumah ibadah umat Islam, Masjid yang berlokasi di jalan Jogokariyan no. 36 Yogyakarta ini boleh dijadikan sebagai tempat studi banding.


Bayangkan, jamaah Shubuh di Masjid ini separuh dari Jamaah Jum’at! Ramai sekali. Di saat banyak Masjid yang sangat bergantung pada sumbangan warga di sekitarnya, Masjid Jogokariyan malah tidak bergantung pada infaq dan shadaqah masyarakat. Bahkan, dengan manajemen yang profesional, keberadaan Masjid Jogokariyan justru membantu kehidupan ekonomi warga sekitar.
Masjid Jogokariyan mampu menjadikan ekonomi berbasis Masjid sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Prinsipnya, “Jika pasar mengalahkan Masjid, maka Masjid akan mati. Jika Masjid mengalahkan pasar, maka pasar akan hidup.” Manajemen keuangan Masjid yang berjarak sekitar 30 menit dari kampus Universitas Gajah Mada menuju Parangtritis ini memang cukup unik.

Saat tak sedikit pengurus Masjid yang mengumumkan saldo infak bernilai jutaan rupiah, Masjid Jogokariyan justru selalu berupaya agar pada tiap pengumuman, saldo infak hanya setara nol rupiah. Alasannya sederhana, saldo yang sangat besar akan menyakiti saat ada sebagian warga yang sakit namun tak bisa ke rumah sakit karena tak punya biaya, atau ada warga miskin yang tidak bisa bersekolah, dan sebagainya.

Gerakan Jamaah Mandiri

Awalnya, di tahun 2005 Masjid Jogokariyan mulai menginisiasi Gerakan Jama’ah Mandiri.
Jumlah biaya operasional Masjid dihitung untuk satu tahun, kemudian dibagi 52 minggu. Angka ini kemudian dibagi lagi dengan kapasitas Masjid, maka didapatilah biaya per-tempat shalat. Angka terakhir ini kemudian disampaikan kepada para jamaah. Ternyata, kebutuhan operasional Masjid akan tertutupi jika setiap jama’ah mengeluarkan infak senilai Rp 1.500,- setiap Jumat.

DKM mengumumkan jika jamaah bersedekah RP 1.500,- itu artinya ibadah mereka tidak disubsidi oleh DKM. Tapi jika kurang dari Rp 1.500,- itu sama artinya ibadah jamaah disubsidi oleh Masjid. Gerakan Jama’ah Mandiri ini berhasil menaikkan penerimaan infak Masjid hingga 400 persen. Pelaporan akuntabilitas keuangan Masjid yang transparan menjadikan jamaah tak sungkan berinfak lebih dari Rp 1500,-.

Penerimaan dana itu tidak lantas digunakan untuk pembangunan Masjid, melainkan disalurkan melalui pengelolaan bisnis. Keuntungan bisnis tersebutlah yang pada akhirnya memberikan penghasilan bagi kemakmuran Masjid dan masyarakat sekitar. Dari bisnis itulah kemudian dibuat berbagai program kemasyarakatan untuk masyarakat sekitar Jogokariyan. Misalnya program umroh untuk empat jama’ah yang paling rajin Shalat berjama’ah di Masjid tersebut.

Satu hal yang cukup menarik, pengurus Masjid membagikan surat undangan, dengan bentuk yang benar-benar persis seperti surat undangan pernikahan, berisi ajakan untuk mendirikan shalat Shubuh di Masjid kepada setiap masyarakat di Jogokariyan. Undangan Shubuh ini dilanjutkan dengan program-program lain seperti kuliah Shubuh, hingga program sarapan gratis bagi jamaah yang Shalat Subuh dan langsung melanjutkan aktivitas di Masjid hingga tiba jam berangkat ke kantor. Sedangkan bagi anak-anak, DKM menyediakan uang jajan bagi anak-anak yang Shalat Subuh berjamaah dan melanjutkan aktivitas di Masjid sampai jam berangkat sekolah tiba.
Program ini disambut antusias oleh masyarakat Jogokariyan, sehingga jumlah jama’ah Shubuh di Masjid ini sangat ramai, mencapai setengah dari Jamaah Shalat Jumat.

Pemetaan Jamaah

Saat melakukan pelayanan dakwah kepada masyarakat, DKM Masjid Jogokariyan melakukan pemetaan yang detail sehingga mengetahui potensi dan kebutuhan, peluang dan tantangan, kekuatan dan kelemahan sebagai acuan dalam melakukan pembinaan keagamaan kepada masyarakat. DKM Jogokariyan melakukan “Sensus Masjid” sebagai data tahunan yang kemudian dikemas dalam bentuk data base bagi dakwah berbasis Masjid.

Data base ini tidak hanya mencakup nama Kepala Keluarga dan warga, pendidikan, dan pendapatan. Akan tetapi, sampai pada siapa saja di antara warga yang telah menunaikan shalat dan yang belum, yang terbiasa berjama’ah di Masjid dan yang tidak, yang sudah berkurban dan membayar zakat di Baitul Maal Masjid Jogokariyan, yang aktif mengikuti kegiatan di Masjid dan belum, nama instansi tempat bekerja, dan seterusnya.

Data ini dibuat sangat detail sehingga DKM Jogokariyan mengetahui bahwa dari 1030 KK atau setara dengan 4000-an penduduk, yang belum shalat sebanyak sekian orang. Data ini diperbaharui setiap tahun sehingga DKM bisa melihat tren perkembangan dakwah pertahun. Misalnya, pada 2010, jumlah warga yang tidak shalat sebanyak 17 orang, padahal pada tahun 2000 warga Jogokariyan yang belum shalat ada 127 orang. Dari sini, perkembangan dakwah selama 10 tahun dapat dilihat.

Data base yang diformulasikan dalam Peta Dakwah Masjid Jogokariyan itu dibuat dengan menggunakan simbol-simbol. Gambar sejumlah blok di perkampungan yang rumah-rumahnya digambarkan dalam beragam warna menunjukan tingkat keakraban kampung tersebut dengan indikator-indikator Islam: hijau, hijau muda, kuning, dan seterusnya hingga merah. Juga simbol-simbol lain yang menggambarkan detail indikator syariah pada setiap rumah dalam sebuah ‘peta dakwah’.

Dari hasil sensus itu, segala kebutuhan kegiatan di Masjid Jogokariyan juga bisa dipesan dari jamaah. DKM Masjid Jogokariyan juga berkomitmen tidak membuat Unit Usaha agar tak bersinggungan dengan jama’ah yang memiliki bisnis serupa.

Pembinaan generasi muda masjid,

Program yang tidak terlewatkan adalah membangun karakter pemuda-pemudi yang tumbuh besar dan mencintai Masjid. Remaja Masjid Jogokariyan (RMJ) adalah satu organisasi remaja Muslim yang bernaung di bawah DKM Jogokariyan. RMJ ini memiliki banyak alumni dengan data yang tersusun rapi. Mereka tergabung dalam ikatan alumni Remaja Masjid Jogokariyan. Kegiatan yang dilakukan oleh remaja Masjid Jogokariyan ini cukup intensif dan terorganisasi dengan baik, termasuk keberhasilan mereka mendatangkan pembicara-pembicara mulai dari tingkat lokal hingga tingkat nasional.

Semoga sharing info ini bermanfaat

Dikutip dari laman: bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/masjid-sebagai-pusat-peradaban-belajarlah-ke-jogokariyan

Masjid Al-Jihad – Medan Justru Banjir Dana Gara-gara Dikelola Berbasis Kesukarelaan dan Pelayanan Lillahi Ta’ala

www.berimbang43.com     Agama Artikel 

TAUSIAH
Masjid Al-Jihad – Medan Justru Banjir Dana Gara-gara Dikelola Berbasis Kesukarelaan dan Pelayanan Lillahi Ta’ala

21 April 2017, 20:21
Dilihat   6.8K
Nusantarakini.com, Jakarta



Bila di Yogyakarta ada sebuah mesjid terkenal dengan inovasi dan aneka programnya, yaitu Masjid Jogokariyan, lain lagi dengan Masjid Al-Jihad, Medan.

Mesjid ini tadinya mengandalkan pendanaan dari pola managemen profesional dengan mengenakan tarif parkir dan lain sebagainya. Rupanya hal itu tidak memberi pemasukan yang cukup bagi mesjid untuk menutupi pengeluarannya. Akhirnya ditempuhlah cara tradisi Islam. Hasilnya banjir dana.
Seperti apakah hal tersebut, tulisan di bawah ini menceritakannya. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberi kabar gembira bagi para DKM yang bingung mengelola mesjid dengan produktif.

Prof Muhammad Asaad adalah Rektor UISU. Baru-baru ini kami bertemu dalam suatu agenda pembicaraan muamalah. Dia mengatakan bahwa selain dipercaya menjadi rektor, dia juga dibebani tugas sebagai ketua yayasan yang mengelola Masjid Al Jihad di Jalan Abdullah Lubis Medan.

Dulu, katanya, mereka kesulitan mencari dana untuk memenuhi keperluan-keperluan masjid ini. Kadang harus mencari donatur, bikin proposal, dan sebagainya. Bahkan, ia memberlakukan tarif parkir untuk menambah kas, tapi hasilnya sangat kecil sekali dibanding keperluan masjid.

Sebagai informasi, Masjid Al Jihad adalah salah satu masjid terbesar dan terluas di Medan dengan jumlah jamaah yang selalu ramai. Orang tidak hanya shalat di sini, tapi juga beristirahat, menjadikannya meeting point, belajar, ceramah dan seterusnya. Traffic ini memerlukan manajemen dan dana yang besar.

Hingga ia kemudian memutar cara mengumpulkan dana dengan prinsip muamalah. Bahwa orang yang datang ke masjid tidak boleh dipersulit apalagi ditarik bayaran. Tidak boleh ada tarif parkir. Tidak boleh ada pungutan lain. Tidak boleh ada permintaan sumbangan. Sebagai gantinya, Prof Asaad membuat kotak infaq dan sedekah yang diletakkan di dekat halaman parkir. Orang boleh parkir sesukanya selama yang mereka suka. Halaman parkir malah diperbaiki, ada petugas yang mengatur, ada staf kebersihan. Semua itu digaji.

Setelah menerapkan sistem ini, sebulan kemudian ia mengecek, dan bertanya kepada petugas parkir, berapa dana infaq yg terkumpul.
Dulu, kata Prof Asaad, setiap orang benar-benar membayar tarif parkir resmi Kota Medan, yaitu Rp 3.000. Setelah sistem infaq, ma shaa Allah, kotak infaq rata-rata mencapai Rp 30.000.000 per bulan.

Sering sekali jemaah yang singgah memasukkan uang Rp 100.000 ke kotak infaq parkir. Bahkan di kotak sedekah, dana yang terkumpul jauh lebih melonjak.
“Kini saya malah bingung bagaimana mengelola dana infaq dan sedekah yang terkumpul hingga Rp 2 miliar per tahun,” kata Prof Asaad.

Sekarang, Masjid Al Jihad adalah tempat ibadah yang paling tinggi pelayanannya di Medan. Setiap orang bisa minum air kemasan botol atau kopi panas secara gratis. Kopi panas tinggal tampung dari galon. Tempat wudhuk dan parkirnya luas macam sepakbola. Masjid yang wangi dan karpet senilai ratusan juta rupiah. Anak-anak belajar agama tiap sore dengan guru-guru yang dibiayai sepenuhnya. Semua fasilitas ini seperti karakter masjid-masjid di zaman kekhalifahan.

Yang paling penting, manajemen Masjid Al Jihad tidak terpancing untuk membangun kemewahan gedung dan fisik, tapi lebih kepada pemenuhan kebutuhan dan kenyamanan jamaah. Sekarang masjid ini dikenal sebagai masjid dengan kegiatan tertinggi di Medan, jauh melampaui Masjid Agung Propinsi Sumut yang dibiayai besar-besaran oleh pemerintah, yang bahkan akan segera dibangun menjadi mesjid dengan menara tertinggi ketiga di dunia.

Ternyata, Allah memang menyuburkan sedekah, dan memusnahkan riba.
~ Tikwan Raya Siregar

Sumber info dari blog