Showing posts with label Jatim Koloni. Show all posts
Showing posts with label Jatim Koloni. Show all posts

Wednesday, February 28, 2018

4. Nganget, Jawa Timur

Perkampungan Kusta Nganget, Jatim



Koloni Kusta Nganget
Alamat: Rehabilitasi Sosial Ex-pasien Kusta, Nganget, Singgahan, Tuban, Jawa Timur
Inventarisasi diadakan tahun 2003.
Informasi umum
Dulu Koloni Kusta ini milik dari Departemen Kesehatan provinsi Jawa Timur. Perkembangan selanjutnya, berdasarkan kebijakan pemerintah (1996), Koloni Kusta ini diubah menjadi rehabilitasi sosial di bawah departemen Sosial provinsi Jawa Timur. Departemen Sosial menyediakan dua jenis fasilitas untuk pasien mantan kusta.
1). Panti (Boarding House)
Fasilitas ini melayani mantan kusta usia tua,  cacat berat dan dengan kondisi tertentu. Saat ini ada 80 mantan pasien kusta tinggal di rumah Panti. Mereka semua adalah orang-orang yangn hidup ketergantungan. Pemerintah menyediakan Rp 7.500. per orang per hari untuk makanan, pakaian 2 kali per tahun, dan obat-obatan. Ada sebuah klinik dekat rumah. klinik ini dijalankan oleh seorang perawat dan milik departemen kesehatan.

 2). Non Panti





Perumanhan Non-Panti, 2003
Saat ini ada total 156 pasangan tinggal di tiga blok pemukiman (Blok 4, 5 dan Blok 6). Blok 4 berpenghuni 119 orang (44 pasangan, 88 mantan kusta, dan 31 orang sehat). Blok 5: dihuni 129 orang (47 pasangan, 94 mantan kusta dan 35 orang sehat). Blok 6: dihuni 184 orang (65 pasangan, 130 mantan kusta pasien, 54 orang sehat). Angka ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk adalah 467 (347 ex-kusta dan 120 sehat) dan proporsi mantan kusta adalah 74%. Mereka hidup dengan keluarga mereka dalam status kemandirian. Non-Panti ini memiliki lahan 13 hektar. Penduduk diberi kewenangan mengolah lahan untuk hidup mereka, tapi kepemilkan lahan tetap berada pada Pemerintah. 

Bersambung.....ke Koloni Kusta provinsi Bali

Tulisan Lengkap, klik ini:

Tuesday, February 27, 2018

Pondok Damian Kediri

Pondok Damian Kediri

Yayasan "Santa Lousia"
Pusat Rehabilitasi, Bina Karya
Pondok Damian, Gurah, Kediri (2003)


Pondok Damian Gurah didirikan pada tahun 1994, sekitar 9 km dari Kediri. Milik gereja Katolik Kediri, “Yayasan Santa Lousia”. Pondok Damian bukan koloni kusta, tetapi merupakan Pusat Rehabilitasi, mempersipakan mantan kusta untuk mandiri di masyarakat. Kegiatan Pusat Rehabilitasi seperti: kegiatan pelatihan kejuruan seperti tukang kayu, pertanian, berkebun, unggas, peternakan ayam,  membuat bangunan.Memiliki lahan 3 hektar. Saat kunjungan (2003), ada 11 mantan kusta yang dilatih disini. Kriteria untuk peserta pelatihan: Berkelakuan baik, usia produktif, mempunyai motivasi untuk bekerja; setelah 2 tahun dilatih mereka harus pergi keluar untuk masyarakat (kemandirian).

Telah dilakukan wawanicara terhadap 2 mantan kusta tentang riwayat hidup mereka secara singkat. Di bawah ini adalah hasil wawanicara.

Mantan Kusta-1: Laki-laki umur 23 tahun

Saya lahir di Kaliwates Lamomgan pada tahun 1980. Ketika saya berusia 9 tahun orang tua saya mengatakan bahwa saya memiliki bercak-bercak seperti panu di pantat. Ibu saya mencoba untuk mengobatinya dengan obat tradisional, diolesi dengan jahe. tetapi tidak berhasil. Ibu saya kemudian membawa saya ke dukun, tetapi penyakit saya semakin aktif. Bercak menjadi lebih besar dan banyak. Suatu hari petugas Puskesmas melakukan pemerikasaan (survey) anak sekolah di sekolah saya. Saya didiagnosis kusta, mereka meminta saya untuk datang ke Puskesmas untuk pengobatan. Saya diberi obat DDS, tetapi saya tidak mengambil obat saya secara teratur. Saya tidak begitu peduli dengan bercak-bercak di kulit saya, karena tidak merasa sakit sama sekali. Orang tua saya dan orang di sekitar saya juga tidak peduli tentang penyakit saya. Ketika saya berumur 13 tahun penyakit saya menjadi lebih buruk, saya pergi ke Puskesmas untuk pengobatan. Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya mengelami reaksi. Mereka memberi saya obat tapi setelah beberapa waktu jari-jari saya menjadi kaku (kiting) dan kaki saya lunglai (drop foot). Sesudah itu sakit saya stabil walaupun sudah ada cacat. Orang tua saya sangat terkejut melihat kondisi saya. Dokter menyarankan saya untuk pergi ke RSK Sumberglagah. Saya tidak diterima, maka saya pergi ke RSK Kediri. Di sini saya juga tidak diterima. Lalu saya kembali ke rumah saya kota Lamongan. Saya pergi ke kantor Sosial di Lamongan untuk minta bantuan. Kantor sosial kemudian mengirim saya ke Semarang untuk operasi jari kiting saya. Saya diterima di RSK Tugurejo pada tahun 1998. Kantor Sosial membayar biaya operasi sekitar Rp 200.000. Di RSK  Tugurejo saya bertemu seseorang, dia bercerita tentang Damian Gurah Kediri. Dia menyarankan saya untuk pergi ke Damian.  Saya diterima di sini, dan saya sudah di sini 2 thun sampai sekarang. Saya dilatih di bidang elektronik dan komputer. Menurut peraturan saya harus keluar setelah 2 tahun. Pondok Damian meminta saya untuk tinggal selama beberapa waktu karena mereka membutuhkan saya sebagai pelatih. Saya sekarang mengumpulkan uang; rencana saya adalah untuk membangun bengkel elektronik milik sendiri.

Mantan kusta-2: Laki-laki umur 27 tahun

Saya lahir di Bangkalan Madura pada tahun 1976. Ketika saya berusia 7 tahun, saya melihat banyak bercak putih seperti panu muncul di tangan kanan saya dan di badan, tidak gatal, tetapi ada mati rasa. Orang tua saya membawa saya ke Puskesmas, dan saya didiagnosis kusta. Dokter menjelaskan apa itu kusta dan saya harus mengikuti pengobatan secara teratur. Saya diberi DDS. Orang tua saya tidak takut, dan saya pun tidak terganggu dengan penyakit saya. Kami berpikir bahwa penyakit ini dapat menghilang setelah beberapa waktu. Saya tidak mengambil DDS saya secara teratur. Dua tahun kemudian bercak-bercak kulit saya menjadi aktif, saya jatuh sakit. Saya sangat sedih karena jari tangan saya menjadi bengkok (kiting). Saya ke dokter, kemudian saya dikirim ke spesialis kulit. dokter kulit memberi saya DDS, prednison dan CTM. Pada tahun 1993 saya dikirim ke dokter lain untuk pengobatan MDT. penyakit saya kemudian  stabil, tapi jari-jari saya yang cacat. Orang tua saya membawa saya ke RSK Kediri untuk perawatan. Saya diterima tanpa syarat apapun. Di sini saya tidak dioperasi  untuk koreksi jari-jari saya. Teman saya menyarankan saya untuk pergi ke Damian Gurah untuk pelatihan kejuruan. Saya diterima di Damien Gurah, di sini saya belajar tentang menjahit, berkebun, dan peternakan ayam. Pada tahun 1999, family saya datang dari Bangkalan menemui saya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa beberapa orang dari Bangkalan dengan penyakit yang sama pergi ke Tugurejo Semarang untuk operasi. Kerluarga saya mengumpulkan uang untuk saya pergi ke Semarang. Saya kemudian pergi ke Tugurejo, mengikuti saran mereka. Saya diterima di RSK Tugurejo. Saya harus membayar Rp 2.500 per hari dan Rp 100.000 untuk operasi. Jari-jari saya telah diperbaiki dengan hasil yang baik. Saya sangat senang, saya tinggal di RSK Tigurejo selama 8 bulan. Kemudian saya kembali ke Damien Gurah. Saya memeruskan peternakan ayam, dan pertanian. Dua bulan yang lalau ketika saya menyebrang jalan, saya ditabrak sepeda motor. Kaki kiri saya retak dan saya dirawat di RSU Pare selama 2 minggu. Biaya rawat inap dibayar oleh orang yang menabrak saya. Saya melihat bahwa orang-orang di RSU tidak takut dengan saya yang cacat. Tida ada stigma rasa takut kusta. Saya mulai belajar untuk tukang kayu. Mimpi saya adalah memiliki bengkel sendiri.

Bersambung.....ke Koloni Kusta Nganget, Tuban

Tulisan Lengkap, klik ini:

Saturday, February 24, 2018

Sumberglagah, Jatim

www.berimbang43.com    Label: Jatim Koloni


Koloni Kusta Sumberglagah
Alamat: Perkampungan kusta Sumberglgah, Tanjung Kenongo, Kec. Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur

Tampak dari luar, RSK Sumberglagah, 2003.
Perkampungan kusta ada disekitar RSK ini.
Melayani seluruh penghuni perkampungan kusta Sumberglagah.

Inventarisasi dikerjakan tahun 2003.

Informasi umum Koloni Kusta: 

Koloni Kusta ini terletak di sekitar RSK Sumberglagah, tapi bukan milik RSK Sumbergkagah.
Perkampungan didirikan dalam dua tahap. Tahap pertama didirikan pada tahun 1982 dengan tujuan untuk menampung pemindahan mantan kusta dari Ngesol Surabaya. Ngosol adalah tempat sementara bagi orang-orang yang ditangkap selama razzia pengemis dan penderita kusta di kota Surabaya. Bagian kedua didirikan pada tahun 1985 sekitar RSK Sumberglagah untuk menampung mantan kusta dengan masalah sosial dari RSK Sumberglagah. Saat kunjungan total penghuni perkampungan kusta adalah 473 terdiri dari 205 mantan kusta (proporsi mantan kusta = 43%). Berdasrkan keluarga: 162 pasangan mantan dan 268 orang sehat. Koloni Kusta ini merupakan milik Departemen Sosial Provinsi. Mantan kusta menerima jatah dari pemerintah (provinsi dan kabupaten). Sumbangan dari kabupaten didistribusikan di 3 setiap bulan untuk seluruh 162 pasangan (beras 5 kg, satu botol kecap, 5 pak Supermie). Sumbangan dari provinsi didistribusikan sekali dalam setahun (50 kg beras, 25 sabun, 4 kotak Supermie, 5 botol kecap). Sejak tahun 2002 Koloni Kusta ini telah tidak menerima pendatang baru lgi.
  
Observasi menemukan bahwa pemukiman terisolasi dari desa sehat dan terltak sekitar 0,5 km dari RSK Sumberglagah.  Koloni ini scara administaratif tidak di bawah RSK Sumberglagah, tapi di bawah Departemen Sosial.

Bersambung......Koloni Kusta Damien Kediri

Tulisan Lengkap, klik ini:

Friday, February 23, 2018

Babat Jerawat, Surabaya Kota

Perkampungan Kusta Babat Jerawat, Surabaya
www.berimbang43.com    Label: Jatim Koloni



Babat Jerawat Penyelesaian Surabaya
Alamat: Kecamatan Pakal, Benowo, Surabaya.


Pintu masuk Lokasi, 2003

Kedaan di dalam perumahan, 2003
Mantan kusta ada yang mendapat sumbangan becak untuk cari nafkah tambahan


Inventarisasi 2003

Informasi Umum

Koloni Kusta ini (pemukiman) secara adminstratif berada di bawah Kota Surabaya. Didirikan  pada tahun 1989 di atas 3 hektar lahan, dengan tujuan untuk pemukinan sementara mantan kusta dari Ngesong. Tempat ini khusus untuk kusta yang sudah sembuh.

Saat kunjungan, total penghuni 135, terdiri dari 93 mantan kusta, 54 pasangan. Proporsi pasien mantan kusta adalah 69%. Pemerintah menyediakan makanan yang dimasak terpusat di dapur umum.
Sebelum 1998 hampir 75% dari mereka adalah pengemis. Pada waktu kunjungan masih ada profesi mengemis 5 orang. Tempat mengemis di pasar (tidak di jalan-jalan). Mereka ada yang bekerja sebagai tukang becak (27 orang), kuli bangunan, pedagang kecil.  pembersih sampah, penjahit dan peternak unggas.

Mereka mendapat sumbangan berasal dari beberapa LSM seperti:
1. Rotary: (. Rp 2.500.000 per bulan) pasokan air, pemeliharaan masjid, modal kerja, perawatan kesehatan.
2. Gereja Algons: menyediakan becak, alat-alat, beasiswa, makanan setiap hari Minggu.
3. YKI (Yayasan Kusta Indonesia): memberi modal dan tool kit, gaji untuk guru menjahit.
4. Sekolah Santa Maria: membantu mesin jahit.

Menurut pengamatan, pemukiman terisolasi oleh pagar dari orang-orang orang-orang yang normal disekitarnya. Ada papan yang menunjukkan keberadaan pemukiman kusta.

Kesan penulis:
Koloni ini merupakan perumahan orang mantan kusta, yang berada dalam pagar, berada dikota besar (Kota Surabaya).

Bersambung.....Koloni Kusta Sumberglagah

Tulisan Lengkap, klik ini:

Wednesday, February 21, 2018

Koloni Kusta, Jawa Timur

www.berimbang43.com     Label: Jatim Koloni


Provinsi Jawa Timur



Inventarisasi Koloni Kusta (Perkampungan kusta, Leprosaria) dilakukan pada tahun 2003.
Mengingat inventarisasi dilakukan 15 tahun yg lalu dari sekarang, mungkin sudah banyak yang berubah. Namun info inventarisasi ini masih penting dalam sejarah perkembangan kusta di Jawa Timur khususnya, di Indonesia umumnya.

Menurut catatan ada 4 kloni kusta dan sudah dikunjungi semua pada tahun 2003.
Adapun ke 4 koloni tsb adalah:

1 Babat Jerawat, Surabaya Kota
2 Sumberglagah, Mojokerto
3 Damien , Kediri
4 Nganget, Tuban

Lokasinya dapat dilihat dalam peta dengan tanda bintang merah.

Bersambung.....Koloni Kusta Babat Jerawat


Tulisan Lengkap, klik ini: